Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum

Selasa, 24 Juni 2014

Keep on spirit, guys!!

Sambil nunggu dijemput, pengen posting rasa bersyukur saya atas lingkungan di sekitar saya.

Alhamdullillah, tadi pagi saya barusan selesai ikut workshop penulisan karya tulis ilmiah untuk jurnal internasional di lingkup eselon 1 kami. Hmhmh.. seneng ketemu orang-orang baik yang semangat belajar begitu..

Saya memang pernah submit manuscript ke jurnal internasional mahal dengan pengetahuan tentang KTIJI yang minim. Kata dosen harus ngirim ke jurnal x, ok deh nurut. Meskipun sebenarnya keberatan karena mahal, tapi karena ga pengen bermasalah dengan dosen, nurut aja deh. Kumaha engke, gitu.

Huff. Jujur deh, tanpa bimbingan, tanpa guidance. Saya bener2 modal nekat. Nurutin aja author guidance sambil dikit2 ga paham maksudnya. Mo nanya ke siapa, juga bingung, karena di kantor saya, ga ada yang pengalaman nulis di jurnal internasional. Kebayang kan, betapa lugunya saya waktu itu. Antara putus asa tapi kok wajib, jadi nekat, modal semangat aja..
Malesnya saya pula, kok ya saya ga pernah ikut workshop2 jurnal internasional gitu. Abis, workshop2 begitu di kampus saya suka terjadi di hari libur. Hehe.. mengganggu jadwal pulang mudik lah ya.. Jujur, saya nyesel sekarang dengan kemalasan saya..


Ternyata, tahapannya panjang. Yang bikin berkesan. Saat saya harus minta tolong referee senior2 gitu. 3 referee yang bisa kasih rekomendasi kredibilitas saya. 2 orang yang mau ngoreksi my English. Lumayan melelahkan rasanya. Cari senior yang mau kasih rekomendasi sih gampang, tapi yang satu ilmu, satu bidang, dan udah beken di dunia internasional ya agak sulit. Kok ya kebetulan, senior2 beken yang kenal dan tau capability saya, ga satu ilmu dengan saya.. Yang satu ilmu, saya mintain tolong buat ngoreksi, macem2 aja ceritanya. Ada yang sibuk pisan karena jadi pejabat, ada yang awalnya sanggup, tapi kemudian dilemparin ke yang lain. Ada yang satu ilmu, tapi ga mampu karena ENglishnya sama2 payah.. Ih.. gemeees deh.. Wah, kapan bisa lulus nih. Jujur nih, cuman gara2 urusan begini aja, bikin waktu ujian saya mundur 1 bulan..

Nah, ikut workshop begini, bikin saya sangat-sangat bersyukur. Kami dibimbing dengan pendamping yang emang pakar dan Writing English serta pengalamannya mumpuni.. Banyak hal yang bisa dibagi, dishare..

Jujur, dulu, saya sempet merasa kok saya cuman jadi "peneliti", yang mungkin dari segi materi ga terlalu wah lah. Sungguh, bukan karena bersyukur, terkadang dulu ada rasa sombong, dengan kemampuan yang saya miliki, saya merasa mampu untuk menjadi lebih dari hanya seorang peneliti. Pas reuni teman2 SMA, SMP, ato kuliah, temen2 saya yang bandel2, yang ga pinter2, tapi ternyata kemudian mampu menjadi seseorang.. Kenapa saya hanya menjadi seorang PNS, peneliti..

Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir sejak saya sekolah S3 dulu, saya merasa cukup berbangga. Saya bersyukur berada pada lingkungan yang tepat, pada di bidang yang tepat. Rasa curiosity saya bisa terjawab dengan saya menjadi peneliti, dan jiwa liar saya pun bisa terpenuhi menjadi agri-entreprenur.. ALhamdulillah..


Meskipun tidak semua beraura positif, tapi mudah bagi saya mencari lingkungan yang positif. Insya Allah, saya juga akan membuat lingkungan di sekitar saya beraura positif. Yah, minimal di keluarga kecil saya, di lingkungan kerja saya, tetangga saya dan mudah2n di dalam blog saya ini..
Aminn..
Keep on spirit, guys!!

Rabu, 11 Juni 2014

Kenapa Benih Aeroponik Unggul?

Saya sendiri bingung, kenapa benih aeroponik bisa bagus. Lho kok?
Lebih tepatnya, mungkin apa yang bikin aeroponik lebih unggul? Something?

Ya, secara teori, saya tau kelebihan aeroponik dibandingkan konvensional. Intinya, karena semua hara bisa diserap oleh tanaman, sehingga efisiensi penyerapan hara tinggi dibandingkan sistem tanam lain. Mana makanannya nutrisi lengkap pula, hara makro dan mikro. Jadi bisa diatur arah pertumbuhannya. *Tapi, jangan coba2 nanya nutrisi ke saya ya.. Maaf.. *


Sehebat itukah nutrisi sampe produksi nantinya bisa setinggi itu? Sekuat apakah, sampe tanaman juga ikut2n ga mudah terserang hama penyakit?
Alhamdullilah, generasi lanjut aeroponik tetap bandel lho..


Calon benih G2 dari aeroponik yang sudah dipanen untuk tanam September 2014
Barusan denger dari hubby, yang cerita petani mitra kami. Sebagian tanaman kami dipanen orang lain, alias dicuri. Innalillahi.. Hal ini karena sebagian besar kentang di sekitarnya sedang gagal kena phytoptora, sedangkan punya kami tidak, sehingga kentang menjadi langka dan jadi sasaran maling deh.. Alhamdullillah, masih bisa dpanen, daripada yg lain, yang ga bisa dpanen sama sekali krn gagal.. Tapi kok bisa ya, yg lain gagal, sedangkan punya saya tidak..
Bukannya nyombong, tapi sebagai peneliti, saya juga penasaran secara scientific lho..

Lho, katanya penelitiannya aeroponik?
Yup, bener banget. Tapi kebetulan, fokus penelitian saya bukan yang itu. Saya anggap informasi keunggulan aeroponik itu benar dan memang kenyataannya begitu. Ngapain saya harus ulang suatu hal yg pasti benar. *ngeles.com*
Pengen tahu sih, tapi alasan lain yang sebenarnya adalah mahal boo. Saya mengajukan penelitian dengan uji2 laboratorium untuk analisis kimia dan anatomi, selalu gagal karena terlalu mahal. Padahal, seandainya saya tau apa sih kunci utama pengungkit peningkatan produksi kentang aeroponik, siapa tau, saya bisa lebih meningkatkan produksi aeroponik saat ini.. Rekayasanya lebih mantep gitu.. Huff..

Kesalahan lain, nasib saya pula, sebagai peneliti terapan dilarang nguji yang dasar2 gitu. Mo pindah? Ga boleh... Huff (lagi). Ok deh, saya teliti sendiri atas biaya sendiri. Oh my God. Gara-gara renumerasi, absen ketat, kapan bisa ngamatin oy.... Belon lagi dikasih tugas-tugas lain..
Am I in the wrong place?

Kalau sudah begini, saya cuman bisa cemberut. Kapan kita bisa mengalahkan negara lain, kalau penelitian kita selalu berdasarkan asumsi, pendapat orang lain. Kenapa bukan kita cari sendiri asumsi itu. Kan, asumsi mereka belum tentu sama dengan kita..
So, siapakah "something" itu? Meskipun sudah saya duga, tapi karena belum nyoba sendiri, ya saya hanya bisa berasumsi.. 

Selasa, 10 Juni 2014

Pengolahan Keripik Kentang : Granola vs Atlantik

Melanjutkan cerita soal jalan-jalan kentang kemarin. Saya main ke home industri olahan kentang, Atlantik dan Granola. Mungkin saya menyoroti yg keripik saja ya..

Seru juga main ke keripik kentang granola ini. Pertama, karena saya suka banget makanan ini, jadi ngobrol sambil nikmatin kripik ini terasa nikmat.. wkwkw.. kedua, tentu sharing ilmunya yang bikin otak terus muter. Selain tentang bioindustrinya yang baru saya tau, saya juga belajar prosesing keripiknya. Kebetulan pekerjanya sdg kerja, jadi jelas bisa tau step2nya. Maaf, ga bisa dibagi foto2nya karena takut dicomplain sama yg punya.

Intinya, permintaannya masih terbuka luas, bahan baku juga ga masalah, tetapi pengeringnya yang terbatas. Pengering matahari tergantung musim, sedangkan pake mesin.. gigit jari sama mahalnya bbm deh..
Sebenarnya, menarik juga bisnisnya. Dari dulu pengen terjun sampai ke pengolahan, tapi belum kesampaian. Menguntungkan sih, tapi perlu modal yang lumayan booo, bila dihitung siklus produksinya..

Nah, yang atlantik, sebenarnya juga lebih menarik daripada granola. Baru ngeh saya. Sebagai fans berat keripik kentang, baru tau kenapa terkadang dapat keripik yg enak gurihnya dan yg biasa2aja. Meskipun sama2 pake vetsin, ternyata yg atlantik lebih gurih lho. Beda deh rasanya. Jelas dong lebih mahal. Kebetulan yg saya datangin, modalnya cekak. Jadi meskipun menguntungkan, tp ga bisa produksi maksmal & kontinu karena stok bahan bakunya yg terbatas.

Kalau stok terbatas & menguntungkan, kenapa saat ga ada stok atlantik, bikin aja yg granola. Ternyata dia mau spesialisasi atlantik saja karena margin keuntungannya yg lebihtinggi.. Oow.. Harga bahan baku lebih murah karena afkir, tapi harga jualnya tinggi. Hmhm.. saat dikejar kenapa ga mau produkai keripik granola skala besar, terrnyata, kemampuan produksinya memang ga bisa besar, karena keterbatasan modal & sarana prasarana prosesing..

Hmhm.. seru juga.. selengkapnya, tunggu jurnal saya dong..
Entah kenapa ya, suatu saat saya merasa bakal punya pabrik olahan kentang sendiri.. Amiin YRA.. Saling mendoakannya. Jazakallah bagi yg meng-amini..

Sabtu, 07 Juni 2014

Tumpangsari Kentang-Cabe atau Penangkaran Benih Kentang? : Kasus 1

Satu hal lagi, yang ingin saya bagi. Saya dikasih PR agar jumlah penangkar benih kentang meningkat. Banyaklah ceritanya, yang nanti akan saya bagi di tulisan jurnal saya.. Tapi, ada satu yang menarik dari eyelan petani muda saya..

Dia ga mau menjadi petani penangkar kentang karena tidak boleh tumpangsari. Ya iyalah, mana boleh. Alasannya klise, dengan tumpangsari maka dia memperoleh pendapatan 2 kali.

Bila tumpangsari kentang dan cabe, keduanya ditanam bersamaan. Saat kentang dipanen, tanaman cabe sudah mulai agak besar. Satu bulan kemudian, cabe sudah dapat dipanen hingga 2-3 bulan. Dengan demikian bisa menghemat waktu kosong. Selain itu, cabe yang diawal tanam ternaungi kentang, pertumbuhannya lebih bagus karena membantu menjaga kelembaban tanah. Kelebihan lain tumpangsari ini, bisa berbagi input produksi, terutama pupuk dan pestisida.

Namun ada kelemahannya. Katanya, produksi kedua tanaman ini tidak bisa maksimal. Mungkin hanya 70% saja. Namun demikian, biaya produksi sudah pasti tertutup dari penjualan kentang. Nah, tanaman cabe dianggap sebagai kelebihan pendapatannya. Kalau harga bagus, bisa 2 kali lipat keuntungannya kentang. tapi kalau harga sedang turun, ya tidak mengapa. Toh, sudah tertutupi dari kentang bukan.. 

Lihat cabenya yang kecepit ditengah
Kondisi cabe saat panen kentang.. Sama-sama tidak maksimal
Saya dalami mengenai penurunan produksi kedua tanaman tersebut. Buat apa capek2 menanam tumpangsari, apabila produksi maksimal tidak dapat diperoleh. Saya mengatakan begitu karena melihat kondisi tanaman kentang yang tidak maksimum. Sementara cabenya juga ga begitu memuaskan. Katanya, setelah kentang panen, pertumbuhan cabenya bisa menyusul dengan menggenjot pupuknya..

Hehe.. Mungkin dia sudah merasa puas memperoleh hasil kentang yang hanya 10-15 t/ha saja..


Dikejar lagi, ternyata dia berasumsi, bila harus jual benih kentang 3 bulan lagi setelah panen, terlalu lama uangnya mengendap.. Dengan tumpangsari, uangnya bisa muter.. wkwkw.. Ternyata, ketemu deh akar permasalahannya. Bila benih kelas atas seperti G2, bolehlah kita simpan benih bu, tapi kalau hanya kelas benih bawah, ga sepadan kita puasanya..
Oala, memang ini yang menjadi momok sebagian besar penangkaran benih kentang :)
Saya jadi penasaran menghitung analisis ekonominya kedua jenis usahatani tersebut.. Tunggu ya..

Bioindustri pada Kentang

Rabu kemarin, saya ke Pangalengan. Ada pengalaman unik yang ingin saya bagi..

Saya kebetulan diminta agar suatu program kegiatan kentang bisa dikaitkan dengan ternak. Integrasi tanaman ternak begitu agar terbentuk bioindustri yang berkelanjutan.

Ih.. maksa amat sih. Tanaman kentang kan mengering saat mati sehingga limbahnya tidak dapat digunakan untuk pakan ternak. Meskipun kotoran ternak sudah biasa digunakan untuk pupuk organik tanaman kentang. Jadi ga bisa zero waste bener, karena hanya satu sistem saja, engga bisa bolak-balik..

Berhubung program tersebut berupa agribisnis kentang, yang artinya harus dari hulu hingga hilir, yang berarti dari benih hingga pengolahan kentang, terpaksa deh harus didalami semuanya. Salah satunya saya main ke home industry kentang di Pangalengan..

Ternyata, untuk granola, pengupasan untuk menjadi kentang harus tebal-tebal agar keripiknya bersih. Dari 200 kg kentang bisa menghasilkan 50 kg limbah kulit kentang. Nah, limbah tersebut ternyata sudah digunakan sebagai campuran pakan sapi perah dan itik. Hasilnya, kualitas susu meningkat dan bobot itik lebih tinggi..

Wuih.. kereen nih, saya ga perlu pusing-pusing bikin model bioindustrinya, tinggal mengidentifikasi dan merumuskannya. Yang bikin saya happy, biasanya model integrasi ini masih pada sistem produksi, tanaman ternak. Nah yang ini, justru antar sistem. Sistem produksi-sistem pasca panen, karena integrasi terjadi antar ternak dan limbah industri pengolahan kentang. Horeeee...

Sekarang, pekerjaan rumahnya, bagaimana memperluas model ini. Saya tau ini sulit karena berada pada sistem yang berbeda.. Perjalanan panjang dan berliku..
Liat saja nanti..

Adil dalam Penelitian

Lama ga ngeblog di rumah ini. Maklum, lagi musim pileg, jadi banyak ngeblog di tempat lain.. :)
Ga akan kampanye kok, cuman titip pesen jangan golput saja. Karena bila golput, artinya menyerahkan pada pilihan dominan, yang belum tentu pilihan dominan itu adalah yang terbaik/terjelek.
Dan kalaupun terpaksa golput, jangan pula kemudian menyalah-nyalahkan presiden terpilih. Hehe.. Partisipasi juga kagak, main nyalahin orang.. Ingat, pangan kita, pendidikan, kesehatan, sarana umum kita dll merupakan hasil kompromi politik, jadi janganlah antipati dengan politik, seburuk apapun politik itu..

Ok, kembali ke laptop..
Beberapa waktu lalu, saya survei di sentra kentang. Bagus, ada petani yang mencoba membuat percobaan beberapa varietas kentang. Seneng saya, melihat banyak petani muda yang semangat begitu..

Saat saya liat benihnya, hmhm.. kok tidak seragam. Maksud tidak seragam disini adalah perbedaan ukuran benih umbi dan umur fisiologis umbi yang terlalu jauh. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Ada yang tunasnya baru nongol, ada yang tunasnya sudah jadi rambut, saking banyaknya.
Saya kuatir, varietas yang nantinya menjadi pemenang adalah varietas yang kebetulan memiliki ukuran besar dan umur fisiologis yang cukup. Bukan karena varietas tersebut memang unggul.

Memang sih agak sulit menyeragamkan sumber benih tersebut saat waktu tanam. Tapi apa boleh buat, yang namanya penelitian, percobaan memang harus begitu. Harus seragam, harus adil. Tidak boleh berpihak pada salah satu perlakuan percobaan. Liat demplot pestisida/pupuk yang dibuat oleh pembuat pestisida/pupuk.. Hehehe.. Keberpihakan akan sangat kental sekali. Oleh karena itu, pembuat percobaan harus bersikap adil, agar hasil percobaannya dapat dipertanggung jawabkan. Biasanya dilakukan oleh pihak yang independent..

Mungkinkan petani melakukan percobaan sendiri?
Eits.. Saya justru sangat menyarankan. Karena, biasanya percobaannya lebih bermanfaat, sesuai pertanyaan sehari-hari mereka, dibandingkan percobaan peneliti, yang terkadang hanya memenuhi syarat kenaikan tunjangan saja.

Tidak perlu sedetil rancangan percobaan, juga tidak mengapa. Asal adil, dan diulang beberapa kali. Hehe.. Saya juga sering melakukan percobaan kecil, hanya sekedar menjawab penasaran saya tentang kasus tertentu. Selain karena menjawab kasus tertentu, percobaan sering pula saya lakukan untuk coba-coba teknologi baru. Kali aja dengan begini, hasil bisa meningkat. But, hehe.. jangan coba-coba dalam skala luas ya. Jangan kepedean. Mending menyesal karena percobaan berhasil tapi nanam sedikit, daripada menyesal karena perlakuannya gagal. Bisa gigit jari deh... *pengalaman nih*

Pengalaman merupakan guru terbaik. Oleh karena selesai panen, analisislah sendiri kenapa hasil panen kita meningkat/menurun. Pelajari dan perbaiki. Jangan menanam dengan cara, metode yang sama di setiap musim..
Ok.. Keep on spirit !!!