Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum

Rabu, 26 Mei 2010

Do and Don't

Meskipun informatif dan sangat membantu, saya tidak terlalu ngeh (menyadari) pentingnya informasi Do dan Don't yang selalu ada di awal setiap saya pelatihan di luar negeri.

baru ngehnya saat membaca kuliah umum etika berpolitik oleh Sri Mulyani setelah berhenti jadi Menkeu. Beliau bertanya, Do dan Don't pada Irjen tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang Menkeu. Dan ini sungguh surpraise karena biasanya justru Menkeunya akan bilang, kalu ga boleh begini dan begitu, elo yang saya pecat...
Hehe salut untuk SMI..

Memang, dengan adanya informasi Do dan Don't akan menghindari kita dari masalah. Sebagai contoh, waktu training di Thailand, saya diajarin dulu bagaimana mengucapkan salam "Sawadhika" dengan setengah kepala kita dianggukkan dan tangan ditangkupkan di dada.. Seperti di Indonesia, bila melewati orang yang lebih tua, kita pun harus permisi atau harus melepas alas kaki pada tempat2 tertentu..

Sebenarnya, bila di Indonesia aturan boleh dan tidak boleh diperjelas, akan sangat memudahkan kita dalam bertindak. Agar tidak ragu-ragu..
Memang ada banyak aturan di negara kita, tetapi sering kita langgar, sehingga menjadi lumrah dan menjadi kebiasaan. Contoh saja bila kita melewati lampu merah diperempatan jalan..

Sebenarnya satu hal yang saya harapkan, penegakan hukum secara adil kepada semua lapisan orang.. Hanya dengan ini, semuanya akan tertib.. tidak ada kecurangan2..
Tapi entahlah, kapan Indonesia bisa begitu..

Selasa, 25 Mei 2010

Pedihnya Berkompromi..

Harus saya akui, rasanya pedih harus berkompromi..
Berkompromi terhadap hal yang tidak kita sukai, tetapi itulah yang harus kita hadapi..
Di saat pedih itulah, rasanya lebih mudah untuk meninggalkan arena kompromi. Buat apa2 capek berkompromi..
tapi bila meninggalkan arena kompromi juga sama2 pedih..
Apa yang harus dilakukan..

Maju kena, mundur pun kena.. dilematis..
Dihitung-hitung, ditimbang-timbang, malah tambah bingung..

Akhirnya.. kupasrahkan pada Mu, Ya Allah..
Mana yang terbaik buatku, masa depanku..
Permudahkan lah semua ini,
Kuatkan hatiku untuk menghadapi ini..

Yaa Rahman Yaa Rahiim
Lindungi aku..
Amin..

Kemenangan Anas Urbaningrum

Syukurlah Anas Urbaningrum keluar sebagai pemenang dalam pemilihan ketua umum partai Demokrat, setelah mengalahkan Andi Malarangeng dan Marzuki Ali. Sejujurnya, saya sempet kuatir Jagoan saya, Anas kalah melihat banyaknya iklan Andi baik di TV maupun di sepanjang jalan ..

bagi saya, kemenangan Anas memiliki 2 arti penting karena 1) membuktikan anak muda juga bisa menang, dan 2) membuktikan uang bisa dikalahkan oleh performa Anas.

Selama ini tabu bila anak muda maju sebagai pemimpin. Liat saja pesaing berat Demokrat. Golkar dipimpin oleh Ical, sedangkan PDIP dipimpin oleh Megawati. Belum lagi partai lain. Dan lucu juga saat mereka menganggap enteng pemimpin muda. Dalam hati sih, mereka iri kali ya ... Gimana ga iri, Anas baru 41 tahun boo..
Jor-jorannya Andi menunjukkan bahwa modal nya cukup banyak. Sedangkan Anas? Syukurlah, para pengurus Demokrat masih tidak dibutakan oleh uang.

Jujur saja nih, kemenangan Anas mengobati luka saya karena Sri Mulyani ditendang SBY. Tadinya klu sampe Anas kalah, saya tidak mau nyoblos Demokrat lagi.
Dengan kepemimpinan Anas, saya harap Demokrat bisa lebih baik, tidak disetir SBY seperti SBY disetir "itu-tuh" yang dari Golkar...

Harapan berlebihan saya, mungknkah Anas dipasangankan dengan Sri Mulyani di 2014?
Kayaknya ga bakal berani partai mengambil resiko Sri Mulyani, takut dicecar Century kali ya.. Padahal, dengan pasangan ini, saya percaya para koruptor ga akan berani macem2 dan hukum benar2 ditegakkan di negara tercinta ini. Insya Allah ....

Arak-arakan jaman reformasi masih ada

Kemarin saya melihat arak2n anak SD dengan membawa bendera merah putih di sepanjang jalan. Heran saya, sepertinya mereka menunggu kedatangan seorang penting dan ingin menyambut kedatangan orang tersebut.. Sekilas saya lihat seseorang yang mungkin gurunya memberi aba2 kepada murid2nya..

Saya kira, dengan jaman reformasi begini sudah tidak ada arak2n begini.. Kayak jaman orde baru aja..
Dulu, sewaktu SMP saya pernah mengalami hal serupa.. Waktu itu kami berjejer di pinggir jalan karena datang jenazah Sri Sultan Hamengku Buwono IX ke kraton. Dan setelah itu, dengan kesadaran sendiri kami berjejer lagi di jalan saat Sri Sultan dibawa dari kraton ke Imogiri untuk dimakamkan..

Sekarang, dengan jaman reformasi.. ternyata budaya tersebut masih ada. Dan ternyata, arak2an tersebut hanya untuk menyambut kedatangan tim penilai kecamatan.. Idiiih.. lebay amat sih. Sampai harus memanfaatkan anak2 SD, yang artinya mengurangi jam belajar mereka..
Ada2 aja..

Adopsi Anak

Mendadak temanku bercerita, dia akan mengadopsi bayi merah. Hal ini dilakukan karena dia dan suaminya sudah 10 tahun lebih belum juga dikaruniai keturunan juga..
Mendadak dia ditawari bayi karena ayah si bayi meninggal dunia, sedangkan ibunya sudah beranak 5 dan tidak sanggup membiayai..
Mungkin ini memang rezeki teman saya, karena sebenarnya dia dan suaminya sudah mencari bayi yang dapat diadopsi tetapi selalu gagal..

Tetapi bisa dibilang, usaha ini tanpa persiapan!!
Dia belum beli apa2 untuk bayi itu. Dia hanya nitip adiknya untuk membelikan perlengkapan bayi 800rb dan dia belum tahu barang apa aja itu.. Dia sendiri sedang aktif kuliah dan suaminya berada di kota lain..
Mungkin sekali lagi ini rezeki teman saya..
Mungkin klu dia tidak nekat begini, dia tidak juga dapat adopsi anak juga..

Mudah2n bayinya menjadi anak yang solekhah..
Amin

Istri pendamping suami

Meninggalnya Ibu Ainun menggelitik pandangan saya "harus seperti apakah istri mendampingi suami".
Dari cerita media, Ibu Ainun digambarkan sangat memperhatikan bp habibie tanpa terlibat dalam urusan pekerjaan.. Arti memperhatikan disini adalah bagaimana makan, istirahat dll.. So sweat.. bahkan beliau rela dan iklas meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit Cipto Mangun Kusumo hanya untuk mendampingi pak Habibie..
Saat pak Habibie marah, beliau memegang tangan pak Habibie agar reda kemarahannya.. Saat pidato berkepanjangan, beliau mengingatkan waktu kepada pak habibie..
Sekali lagi so sweat..

Di sisi lain, ibu negara yang lain ada yang begitu otoriter mendikte suaminya. Bahkan siapa yang berhak menjadi menteri negara.. Tentu ini jangan dicontoh..

Tapi ada contoh lain, ibu negara ini sangat setia mendampingi suami sebagai presiden. Setiap ada acara diskusi, sering terlihat menjadi asisten pribadi memberikan catatan pertanyaan kepada suaminya untuk menjawab pertanyaan audiens.

Mana yang paling disukai ?
bagi saya, saya ingin sekali selalu mendampingi suami saya..
Menjadi tempat dia menumpahkan kesedihannya..
Menjadi tempat dia bercerita kegembiraannya...
Menjadi tempat dia bertanya bila bingung akan segala hal..
Menjadi tempat berdiskusi segala topik yang sedang beredar...
Sungguh, saya tidak ingin membuat dia bersedih..

Terharu dg Ainun dan Habibie

"Saya akan keluar dari rumah sakit bersamamu" demikian janji Habibie kepada Ainun. Dan itu dibuktikan Habibie saat mengantar jenazah Ainun hingga sampai liang lahat. Habibie dengan setia menemani Ainun.. Hiks hiks.. benar2 terharu..
Apalagi dengan banyak kisah ikutan yang menceritakan kehidupan pasangan mantan presiden ke-3 ini.. Betapa saling membutuhkan mereka berdua..

Sebagai orang yang berbakat berpenyakit banyak, wajarlah bila saya berharap agar pendamping saya juga akan mendampingi saya hingga di akhir hayat saya. Meskipun saya tidak tahu, masih mungkinkah hal itu terjadi..

Jujur, saya menginginkan pendamping yang bisa mengerti kondisi fisik saya yang tidak terlalu bagus. Bisa menerima apa adanya. Namun, dengan segala hal yang telah terjadi, harapan itu harus saya simpan...
Akankah kisah Habibi dan Ainun terjadi pada diri saya? Hanya Allah yang Maha tahu dan semuanya kupasrahkan pada Mu..

Selasa, 11 Mei 2010

Ujian : Jenis dan Trik

Semester lalu, ujian salah satu mata kuliah saya cukup mengasyikkan saya karena hanya presentasi hasil praktikum.
Kenapa asyik? karena hanya bikin laporan, buat power point, dan presentasi. Jadi ga perlu ngapalin segala.
Entah kenapa, saya hobi presentasi. Bagi saya, mengemukakan pendapat dan kemudian mendiskusikan pendapat tersebut lebih menarik daripada harus ngapalin bahan ujian.
Bagi beberapa orang yang tidak suka tampil dan grogian, metode ujian begini, justru paling ditakuti..

Ada dosen yang suka memberikan ujian tertulis. Bisa ujian di tempat/ruangan atau take home atau dibawa pulang..
Untuk mata kuliah eksak, emang cocok tuh ujian di tempat. Karena kita hafalin, jadi keinget terus. Minimal prinsip2 dari matakuliah tersebut. Terkadang, dengan ngapalin, kita baru dong/mengerti maksud mata kuliah tersebut.. Telmi ya..
Klu ujian take home, cocoknya sih untuk mata kuliah umum.. mengembangkan ilmu yang didapat dari dosen.. Bagi saya, ini juga seru klu pengetahuan umum kita luas.. klu belum banyak tahu.. harus banyak2 baca.. biar terbuka pengetahuan kita..
Biasanya, klu ujian take home, saya ajak teman2 untuk berdiskusi. Inti jawaban apa, setelah itu silahkan dijabarkan masing2..

Soal diskusi.. Jangan anggap enteng diskusi lho..
Pernah saya ajak diskusi sebelum ujian untuk menyamakan persepsi dengan teman2.. Ealah, jawabannya.. Apa yang mau didiskusikan mba?
Akibatnya variasi nilai cukup tinggi..
Pas ujian kedua, saya ajak diskusi.. Langsung dikomentari dosennya.. Kalian belajar bersama ya.. kok jawabannya hampir sama..
Nah, itulah keuntungannya diskusi..

Tapi jangan salah dalam berdiskusi.. Terkadang ada temen yang hanya sebagai pendengar saja dan ilmunya disimpan.. So.. jadilah moderator yang baik, agar semua pengetahuan peserta diskusi keluar dan semua pertanyaan bisa dijawab..
Selamat mencoba

Kamis, 06 Mei 2010

Menjadi Sosok Perubahan

Melihat sosok Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang di-kuyo-kuyo (baca : disia2) oleh para politikus negeri ini.. saya pikir wajar (tapi juga kebangetan..)..
Gimana tidak, awalnya hidup tentram & harta berlimpah, mendadak diganggu dengan ketegasan ibu satu ini.. Wajarlah, klu kemudian para konglomerat dan pejabat nakal menjadi gerah. Dan bersatu padu menjatuhkan SMI..
Jadi sedih dengan kepergian SMI ke World Bank ..

Saya sendiri merasa tidak kuat untuk menjadi "Perubah" di kantor saya. Meskipun hubungan sosial baik, tetapi saya cukup tanggap dengan kesebalan para senior saya atas protes2 saya. Ukurannya adalah :
1. Saat para angkatan muda kantor lebih menunjuk saya sebagai vokalis protes karena kebiasan saya yang protes.
2. Saat salah seorang senior yang tidak mau satu team dengan saya karena saya tukang protes.. cerita teman saya.. Meskipun dengan catatan, semua proyek saya selalu berhasil sukses.. Sedih juga ya.. Meskipun saya tidak peduli..

Akhirnya saya berdamai dengan keadaan..
Terserah urusan mereka dan saya urus urusan saya..
Hehe..

Tapi saya cukup sedih, saat saya baca berita sehubungan SMI
"banyak orang cerdas memilih kerja di luar negeri yg lebih kondusif dan menghargai kecerdasan kita"..
Berhubung saya tidak mungkin kerja di luar negeri..
Saya pun beranggapan sama..
Meskipun saya goverment official, mending berkreasi diluar aja deh..
Yang tidak ribet dengan aturan kantor dan sistem yg parah..

Kekagumanku pada sosok Sri Mulyani Indrawati (SMI)

Dulu saya tidak terlalu memperhatikan siapa SMI. Hanya sekilas mendengar bahwa ada tokoh ekonomi yang cerdas, seorang dosen FE UI. Itu saja.. Kuper ya..

Perkenalan pertama saya dengan SMI, saat pilpres 2009. Tepatnya, saya lebih mengenal beliau (yang saya yakin, beliau tidak kenal saya.. hehe pasti donk)..
Waktu itu ada wawancara TV mengapa Indonesia berhutang banyak. Sebenarnya saya memang penasaran, untuk tahu jawaban pertanyaan itu. Dan Alhamdullilah, dijawab dengan logis oleh beliau.
Tak apalah berhutang bila hutang tersebut benar2 digunakan untuk pembangunan. Dan tentu saja, hutang yang realistis, bahwa kita memang sanggup membayar hutang dari hasil pembangunan tersebut.

Analognya adalah, bila ibu beliau tidak berhutang untuk biaya pendidikan anak2nya yang banyak. Tidak mungkin seorang Sri Mulyani menjadi orang hebat seperti sekarang..
Akhirnya saya kembalikan pada diri saya.
Seandainya saya tidak berhutang untuk beli rumah, mana mungkin gaji kecil saya bisa membuat rumah yang sekarang saya tempati. Dan Alhamdullilah, saya masih sanggup menyicilnya hingga sekarang dan mudah2n sampai 13 tahun ke depan (hihi.. masih lama ya)..

Sungguh, saya terkesan dengan dengan SMI.
Saat melihat acara talk show keluarga SMI.. ternyata SMI juga ibu dan istri yang baik..
Wow..
Saya bangga ada wanita Indonesia secerdas beliau dan sedikit iri.. bisa ngga ya seperti dia..

Sejak itu, saya mengikuti perjalanan karir beliau.. Dari menjadi menkeu, kasus Bank Century, dan sekarang mo jadi Managing Director di World Bank..
Antara sedih dan gembira mendengar jabatan baru beliau.. MUdah2n aja kepergian beliau tidak menurunkan semangat perubahan2 yang telah dirintis..

Sekilas tentang SMI :
Nama : Dr. Sri Mulyani Indrawati
Lahir : Tanjung Karang, 26 Agustus 1962
Agama : Islam

Jabatan:
- Menteri Keungan, Desember 2009- Mei 2010
- Plt menko Perekonomian KIB, Juni 2008-2009
- Menteri Keuangan KIB, Desember 2005-2009
- Menneg PPB/Kepala Bappenas, Oktober 2004-Desember 2005
- Executive Director IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara (2002-2004).
- Konsultan USAid di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (2001-2002)
- Dewan Ekonomi Nasional (1999-2001)

Suami:
Tonny Sumartono
Anak:
Dewinta Illinia, Adwin Haryo Indrawan, dan Luqman Indra Pambudi

Pendidikan:
1981 – 1986 Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia Sarjana Ekonomi
1988 – 1990 University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A Master of Science of Policy Economics
1990 – 1992 University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A Ph. D of Economics