Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 November 2017

Kerjasama vs Kompetisi : Metode Pendidikan

Saya dpt cerita ini dr mas ojob kemarin
Dan seharian kemarin, saya masih sibuk mencerna cerita yg cukup menggelitik fikiran saya, yg memang lg flu..




Siapa sih yg ga setuju dg kerjasama. Jangan sampai pula menghalalkan cara demi menangnya suatu kompetisi. Berusaha pula, mengikuti perkembangan metode pendidikan yg membaik, lebih menyenangkan. Great..
Tapi, saya msh blm bs menangkap esensi knp suatu sekolah ga boleh ada "ranking" dg alasan untuk evaluasi diri si anak, untuk memacu si anak menjadi lebih baik... Meskipun efek negatif ranking, terkadang membelokkan kompetisi mjd negatif, dg sgala kecurangannya..
Entah kenapa, sy masih beranggapan kompetisi itu perlu, meski jgn jadi segala2nya...

Cerita dibawah, terutama ttg pekerjaan tertentu lebih baik daripada pekerjaan lain.. menggelitik saya
Saya jadi ingat analisis statistik yang biasa saya lakukan. Comparison. Membandingkan perlakuan satu dg yang lain. Beda nyata atau tidak. Dan saat beda nyata, girangnya saya setengah mati..
Hmmmm... Ga terasa, comparison itu sdh mendarahdaging di urat nadi saya. Ya iyalah, pendidikan belasan tahun, tidak terasa membentuk pribadi seseorang...

Jadi inget juga kemarin nyetir di gang sempit dan deadlock. Sudah tau macet, bukannya mengurai kemacetan, justru semuanya terus maju mengejar waktu... Kerjasama? Nunggu pak ogah dulu.. Hehehe..

Aaaah.. Begitu byk implikasi kerasnya kompetisi di dunia pendidikan terbawa dlm kehidupan sehari2...
Saya, mgkn salah satu korbannya...
#eeeh

Minggu, 01 Februari 2015

Menentukan Tujuan

Beberapa minggu lalu, saya dapat saran dari senior saya untuk sedikit menurunkan idealisme saya.. hehe.. ini berkaitan dg kerjaan saya yang sering pengennya selalu bagus. Dan, karena pengen bagus pula, saya kena tegur bos saya, hehe.. terbersit pula, ngapain pula ya, kok saya bela-belain ngebantu petani saya, saking kepengennya ngeliat petani saya berhasil.. Ups.. mungkin bener aturan dokter, yang tidak boleh mengoperasi saudara sendiri. Artinya pula, ikatan batin saya jangan terlalu dekat dg petani binaan saya..

Kembali ke laptop tentang saran senior saya.
Kami berdua, punya cara pandang berbeda dalam menentukan tujuan.
#1# Beliau lebih suka melakukan sebisanya, tanpa target, meski tetap dg sungguh2. Hal ini dilakukan agar tidak membebani dia, tidak muluk2lah..

#2# Nah, saya yang ndableg ini, selalu merencanakan dg sebaik2nya. Bisa jadi rencana2nya terlalu hebat ato malah terlalu muluk2 alias muskil. Hehe.. Alasan saya. Dengan membuat rencana sebagus mungkin, kita bisa mem -breakdown dlm step2 kecil. Arah yang kita tuju jelas, meski nantinya tidak tercapai 100%, minimal mendekati itulah.. Kesannya ambisius ya.. Ah, rasanya tidak deh, bila jalani saja yang ada, membuat kita tidak fokus, bahkan bisa jadi menyimpang. Dengan adanya target, memandu kita agar tidak kesana kemari..

Bila dianalogkan sebuah kail, saya lebih suka melempar kail tersebut sejauh2nya, dan saya pun akan menghampirinya. Sedangkan senior saya ini lebih suka mancing sebisanya, sambil jalan..

Nah, perpaduan kami berdua, sungguh jadi kerjasama yang menarik. Saat beliaunya lelet, ketarik oleh saya yang banyak maunya. Sebaliknya, saat saya banyak maunya, beliau jadi pengerem saya.. hihi..
Sayang, tahun ini kerjasama kami secara resmi berakhir.. But, banyak pengalaman beliau yang saya intip. Alhamdullilah, mudah2n kami sama2 bisa mengambil pelajaran dari kerjasama antara kami..

Kamis, 17 Juli 2014

Reputasi adalah...

Waaa.. Ada yang nagih posting euy.. Ok deh, maaf ye sibuk pilpres nih, jadi banyak posting di blog sebelah.. But, minta ijin dikit ya, posting tentang yg dalem, terinspirasi pilpres juga.. Tapi yakin deh, ga akan nyebut siapa jagoan saya, *kecuali kalian nebak sendiri ye*

Beberapa lalu baca postingan tentang reputasi seseorang. Katanya, "reputasi sesorang ditentukan oleh bagaimana kita merespon orang lain menilai kita". Lho kok?

Bagi saya, quote ini dalem banget deh.. Jadi deh saya mengkait-mengkaitkannya.
Saya jadi menyimpulkan sendiri, bahwa ada 3 level penilaian reputasi.

#1# Penilaian kita sendiri...
Saya akan bikin statement, bahwa Vanda adalah orang yang baik hati dan tidak sombong *kayak lagu ye* Jadi, reputasi paling dangkal adalah saat saya menilai diri saya sendiri. Tergantung saya, bisa jadi saya me-lebay-kan penilaian saya, tapi bisa jadi bagi orang yang terlalu rendah diri, justru menilai underestimate terhadap diri sendiri.
jadi kesimpulannya, penilaian terhadap diri sendiri adalah sangat relatif..

#2# Penilaian orang lain..
Sering kita dinilai orang lain, entah itu baik atau buruk. Anda bisa jadi menilai saya, Vanda sebagai sosok yang baik hati dan tidak sombong *lagi-lagi, kayak lagu ye*
Penilaian anda terhadap saya bisa jadi salah, karena itu hanya berdasarkan hasil baca postingan saya *bagi yang kenal lewat blog ye*.. Tentu dong, hasil postingan saya tidak sepenuhnya menggambarkan saya.. Kali aja yang jelek2 dari saya, ga akan saya umbar publik.. Atau bisa juga, saya ga akan pamer kebaikan saya.. Intinya, ya, tentu penilaian ini juga relatif, meskipun tingkat kerelatifannya sedikit lebih rendah dibandingkan golongan ke-2..
Bagi yang hobi pencitraan, bisa jadi penilaian kepada orang tersebut menjadi bias. Mana yang pencitraan ato tidak, bisa dikenali dengan semakin sering intens dan lama, kita bergaul dengannya.. Kan capek dong sandiwara melulu..
Kalau semua orang "merasa" menjadi korban pencitraan dalam waktu lama dan tidak terbongkar2 juga, kayaknya perlu dikoreksi tuh.. judgement yg salah karena sirik kale..

#3# tidak goyah apapun penilaian orang lain
Iiih, dalem banget nih. Apapun penilaian orang lain terhadap kita, keep smile.. Bila dinilai bagus, kita ga besar kepala ato sombong. Hayo.. ga terasa kita jadi sombong, saat orang memuji2 kita.. (padahal, konon, pujian itu adalah ujian lho). Lupa pula melebay2kan kehebatan kita...
Sebaliknya, bila dinilai buruk, kita ga sakit hati, ga marah.. Apalagi mbales.. Duh.. susyahnye..

Wuih.. kereeen banget ya, kalau kita bisa seperti ini..
Ckckckc... Belajar yukkkk

Minggu, 04 Agustus 2013

Lanjut S2 atau kerja dulu?

Baru -baru ini ada mahasiswa S1 magang di aeroponik saya. Ada sedikit pesan yang ingin sampaikan lewat blog saya ini, yang sering saya sampaikan pula kepada adik2 mahasiswa yg mo lulus dan mungkin galau, haruskah langsung bekerja atau meneruskan sekolah lanjut S2 ? Tentu berdasarkan pengalaman saya.

Tanpa memperhitungkan dapat anugrah beasiswa dan kesempatan emas lainnya, bagi saya, perlu tidaknya langsung S2 tergantung pada tujuan hidup kita. Idealnya, saya lebih cocok sarjana fresh graduate bekerjalah terlebih dahulu untuk mengasah ilmu yg diperoleh saat S1. Lebih bagus, bekerja sesuai bidangnya. Pada tahap ini, kalian akan berusaha mencocokkan ilmu yg diperoleh dg dunia kerja. kadang baru ngeh, ternyata ilmu yang dipelajari waktu S1, maksud penerapannya begini toh.. hehe

Sekitar 1-3 tahun, bila emang penasaran dg bidang ilmunya dan merasa hungry bahkan starving dg ilmu, segeralah lanjutkan S2. Terlalu lama kadang bisa melenakan kita, terutama salary. Mumpung masih muda.
Tahap ini merupakan ajang untuk menjawab kebuntuan, masalah yg dihadapi saat "pernah" bekerja sbg fresh graduate. Semakin penasaran, semakin banyak menggali ilmu, semakin tinggi kualitas diri kita. Tahap ngeh ilmu ini, manfaatkan sebesar2nya untuk benar2 paham teori di bidang kita sebagai landasan untuk memahami kondisi di lapangan. Contoh : sebagai orang fisiologi, anda harus benar2 tahu perbedaan fisiologi tanaman C3, C4, dan CAM..

Kembali bekerja setelah S2, sedikit terpatri, bahwa anda "dianggap" lebih tahu oleh orang-orang sekitar anda. Wajiblah, kita memantaskan diri sesuai harapan publik. Tetaplah terus belajar. Memperluas wawasan. Kalau dulu waktu S1 kita hanya tau 1+1=2, maka setelah s2, kita harus tau kenapa 1+1=2.

Untuk yang berprofesi dosen, peneliti, ga bisa ditolak, wajib S3 bila ingin terus berkembang. Tidak saja soal pangkat atau jabatan, karier, tetapi juga agar benar2 ahli. Bila perlu, jangan di universitas yang sama saat s1 ato s2. Kalaupun sama, Pilihlah yang beda jurusan tapi masih berkaitan dengan ilmu dasar dan minatnya. Jangan s1 dan s2 ambil tanah, kemudian s3 ambil sosial ekonomi. jaka sembung naik ojek, ga nyambung jek..

Saat ini, banyak dosen masih muda tapi sudah bergelar doktor. Yah, klu emang ada beasiswa, masak ditolak. Tapi, bila saya perhatikan, dosen yg begini memang smart dlm hal berteori, tp terkadang, terapannya kurang. Terlihat jelas, misalnya bila menerangkan siklus fotosintesis, daur krebs dst, tanpa mampu menerangkan apa maksud dari njlimetnya segitu banyaknya siklus tersebut. Apa maknanya nantinya kita memahami hal tersebut. padahal, dengan memahami siklus tersebut, tentu maksudnya, agar memudahkan kita merekayasa, mencari2 cara, berkreasi agar produksi meningkat, misalnya. semakin tinggi ilmu kita, tentu harapannya, daya khayal kita makin tinggi. Tentu tidak sembarang khyalan dong, but khayalan based on scientific lah..

Tidak dapat dipungkiri, ada beberapa orang, yang karena tidak dapat kerja2 juga, akhirnya meneruskan sekolahnya agar memudahkan mendapatkan kerja. Hmhm., ga ada salahnya, tp seandainya tujuannya hanya untuk dapat kerja, ya jangan salahkan publik bila kemudian tidak ada peningkatan kualitas diri. tp jujur sih, teknik ini banyak manjurnya untuk mendapatkan kerja. Master lho. Meski terkadang, gajinya juga ga jauh2 amat dengan S1, Hari gini gitu lho, sarjana mah, pasaran..

Rabu, 20 Maret 2013

Speak English ? Belagu Lu

Dulu waktu memasuki SMP, saya getol banget ngapalin vocab English baru. Bahkan, baru diajarin dikit di sekolah, saya udah ngapalin lebih banyak.. Kenapa? Karena suka aja.. Sampe2 lagu2 English pun diapalin.. Hehe.. Right Here Waiting for You, Shoulder to Cry on..
Selanjutnya, saya minta diikutin kursus English sama ortu. Kayaknya, saya sudah nyobain semua Lembaga Kursus English di kota saya deh.. Hehe.. Yup, saya ga telaten nunggu naik kelas, jadi bosan deh *jangan ditiru ya* Dan emang dasarnya saya bandel, pengen nyoba2 berbagai jenis lembaga kursus *maklum, masih anak2 lah*

Syukurlah, English saya jadi ga jelek2 amat.. Pas saya kerja, lumayan kepake, bantuin teman2 ngedit English abstract-nya. Pas, S2 juga kepake, terutama writingnya untuk memahami jurnal2 Internasionalnya..

Dulu, ada niat, cita2 pengen post graduate saya ke luar negeri. Tapi sayang, karena masalah kesehatan, saya ga berani.. Akhirnya, saya telan deh keinginan itu.. Juga ga ada niatan untuk ngebagusin English saya, karena sudah merasa cukup. Toh, mo buat apa, sekolah juga hanya di dalam negeri ini...
Sampai suatu saat dapat kesempatan training keluar negeri. Kayak mimpi aja..

Lewat training ini, membuka wawasan saya tentang dunia internasional. Kebetulan pas training itu, berkumpul teman2 se-Asia, juga dari Eropa.. Hmhm.. Ada sedikit yang menyesakkan hati saya.. Yup, My Broken English.. Meskipun dah biasa writing English dan conversation yang ringan2 saja, tapi karena jarang practice, English saya parah bangets *menurut saya*. Apalagi klu diajak debat, enggak deh... Jadi kebanyakan mengalah klu diajak debat..
Contohnya, pas ditanya warna bintil akar kacang2an apa? Audiens ga ada yang jawab. Pas saya jawab, pink. Kenapa? Hehe, mo ngejelasin susah dalam English, so nyengir deh..
Juga saat berbagai forum diskusi, hufff, kesel bangets ga bisa menyanggah, mendebat.. *coba klu ngomong bahasa Indo, pasti udah dibabat abis deh* Apalagi ada teman dari Filipina, orangnya pinter, masih muda lagi. Luwes banget ngomongnya.. Duh... Grgrgr..

Pengalaman dari training tersebut, saya coba perbaiki English saya. Baca2 buku, jurnal English.  Langganan TV kabel. Banyakin nonton film, acara English. Kalau nonton film English, berusaha ga baca translation-nya. Kalau pun baca, cuman buat nyocokin aja. Nyimak pula antara listening dan writingnya.. Mengulang2 idiom2 yang sering disebut2.. Paling seru nonton NGC, BBC, dan AFC.. Selain pengetahuan dapat, belajar English juga dapat..
Masalah conversation gimana? Hubby deh yang jadi sasaran. Cuek aja practice. Kalau pun salah, paling juga diledekin.. hehe.. Nah, terkadang, practice antara saya dan hubby, suka ga sengaja kebawa pas ngobrol ama teman2...

Belagu kah saya ? Sok English?
Tiba2 kok jadi kepikir begitu saat baca artikel di kompasiana. Banyak anak jaman sekarang, sok English, sampai lupa pake bahasa Indo.. Ga cinta bahasa Indonesia *melanggar sumpah pemuda nih*
Ga memungkiri, emang ada sih oknum yang sok English buat gaya-gayaan.. Kadang2 juga sebel ngeliatnya.. :(
 
But, for me, I don't care..
Saya ga peduli dibilang belagu *kalaupun dibilang belagu ya* hehe
Kenapa? Karena saya yang pernah merasakan ga enaknya ga bisa ngomong, speak fluently, debat in English.. Kalau dulu, saat saya ga punya niat go Internasional *ciecie*, saya mungkin juga ga akan peduli dengan my Broken English..
But, boleh dong, saya punya niatan go Internasional.. *Amiin YRA*..
Entah nantinya jadi ahli kentang kek, ahli pertanian kek.. atau ga usah jadi ahli lah, tapi bisa bebas jalan2 keluar negeri, liat2 pertanian negara2 lain.. boleh dong.. *abis udah nge-list beberapa negara inceran yang pengen saya kunjungi selanjutnya :)*

Toh, kalau nantinya saya go internasional, pasti nantinya ditanya, Where do you come from? Indonesia dongggggg.. Bangga lah, *biar Indonesia ga hanya dikenal TKI-nya aja ato dikenal silent guest diberbagai international meeting*
So masihkan saya dibilang ga cinta Indo?
  
  

Kamis, 21 Februari 2013

Pendidikan : Cara Menghafal ala Vanda

Pagi tadi, dapat bacaan bagus. Silahkan cek http://media.kompasiana.com/new-media/2013/02/21/cara-praktis-menghafal-al-quran-530813.html


Jadi pengen sharing tentang cara menghafal ala saya. Yang, Insya Allah terbukti membuat master saya ber-IP 4, doktor saya bentar lagi mudah2n juga ber IP-4 (Amiiin YRA), dan sarjana saya meski tidak ber-IP 4 tapi summa cumlaude lho.. Semuanya PTN lah..
Mudah2n bermanfaat..

Sebenarnya ada kemiripan cara menghafal yang disebutkan Rizki dan saya. Intinya menghafal bertahap dan diulang2. Yang menarik bagi saya dari caranya Rizki adalah :
1. Dimulai dari yang termudah dulu (Surat Annas dulu, terakhir Al Baqaroh)..
2. Wiridnya, bacaan Qur'an, hafalannya.. Hehe, biasanya sih saya hanya wirid yang sederhana saja..

Nah, kalau cara menghafal dari saya seperti ini :
1. Hafalkan yang harus dihafalkan dengan cara sistematis.
- Misalnya, dibuat berjenjang, skema, point-point penting, sehingga lebih mudah dihafalkan.
- Pahami setiap hafalan, sehingga akan lebih mudah menghafalnya..
- Buku2 saya kebanyakan banyak bekas lipstiknya.. hehe maksudnya, banyak coret2nya, dikasih warna-warni spidol.. Jadi, bila saat mengulang hafalan, saya tidak perlu membaca ulang semuanya, cukup melihat yang dikasih warna saja..
- Menghafal yang termudah dulu, bisa menjadi pilihan. Tapi terkadang, bila yang kita hafal adalah proses, kita tidak bisa menghindar untuk menghafal yang sulit lebih dahulu..
- Kalau basa Jawa-nya, cara bodon. Maksudnya, contoh ngapalin warna di pelangi, bisa dengan menyingkat Mejikuhibiniu
- Bila hafalan point-nya banyak, hafalkan kata dasar utamanya dan ingatkan berapa point. Contohnya nih, hari ini jadwal saya ada 10 kegiatan. Yang saya ingat, ada 3 kali belanja, 5 kali proses kegiatan, 2 kali kerjaan rumah..

2. Setelah hafal, cek hafalan tersebut. Bisa dengan cara mengulang lisan, ato secara tulisan..
- Bila hafalan berat, terutama bila rumus, skema, saya harus menuliskannya. So kertas2 bekas menjadi sasaran saya untuk menuliskan kembali hafalan saya..
- Bila hasil hafalan belum sempurna, cek bagian mana yang belum sempurna itu. Perbaiki dan ulangi lagi..
- Terkadang hafalan yang salah, saya kasih tanda merah. Maksudnya hati2.. Biasanya hafalan yang susah ini karena hampir mirip dengan bagian lain, ketukar, so harus kita cermati perbedaannya..

- Kalau caranya Rizki, jangan berpindah hafalan, bila hafalan yang lama belum kokoh. Menurut saya, bisa iya, bisa tidak. Kalau saya, bila waktu menghafal terbatas (bagi yang belajar sistem kebut semalam), terpaksa menghafal harus cepat semuanya, nah setelah dicek melalui tulisan, baru kelihatan bolong-bolongnya dimana, baru deh kita ulangi dan perdalam..   

3. Menyusun hafalan seperti dalam filling kabinet. Kenapa perlu disusun? Karena agar siap dipanggil setiap saat, kapan saja.. Terkadang kita merasa hafal, tetapi karena tidak disusun dengan rapi dalam memori kita, saat dipanggil, kita akan kelabakan. Apalagi kalau ujian lisan. Bisa jadi salah ambil, ketukar dengan hafalan lain, dll.
- Upaya tanya jawab, bisa menguji sebaik mana susunan hafalan dalam pikiran. Bisa dengan minta tolong orang lain untuk menguji atau

- Menguji dari soal2 ujian sebelumnya, akan sangat membantu
- Kalau tidak, bikin aja soal sendiri dengan menebak kira2 pertanyaan mana yang pantas menjadi bahan ujian. Saya yakin, diantara pertanyaan iseng itu, ada pertanyaan yang keluar di saat ujian

Menurut saya, point ketiga ini, membuat filling kabinet agar mudah dipanggil merupakan kekuatan saya. Terkadang, banyak teman sudah menghafal dengan baik, tapi nilai saya pasti lebih tinggi, ya karena kemampuan saya memanggil memori hafalan saya itu..

Ada pengalaman, ujian Bioteknologi Tanaman. Jelas donk, saya ga jago di bidang ini. Terpaksa, bahan kuliah saya lahap tanpa bisa saya cerna, sekedar menghafal. Duh, sulitnya, karena bukan bidang saya. Alhamdullilah, nilai saya lebih tinggi daripada teman2 saya yang emang sehari2nya ngendon di Laboratorium Biotek. How comes? hehe.. rasa2nya mungkin karena kemampuan menghafal saya..
Jadi ingat dosen S1 saya yang pernah memuji daya hafal saya. Hehe, tapi itu dulu ya.. Dengan meningkatnya faktor U, tentu daya hafal saya tidak sekuat dulu..

Bisa jadi, memang, dunia pendidikan kita, di Indo, masih tergantung pada nilai menghafal, bukan pada taraf mengerti. Sebenarnya patut disayangkan juga. Contoh pada kasus ujian Biotek saya. Kok bisa2nya nilai saya lebih tinggi daripada praktisi Biotek sendiri..
Kalau kata saya sih, hafalan dan pengertian sama2 perlu. Harusnya, si dosen harus pintar2 membuat soal. Ada soal yang memang menguji daya hafal, tetapi juga ada soal yang menguji kemampuan pemahaman kita. Contohnya, waktu ujian kualifikasi doktor salah satu dosen saya. Soalnya beragam, dari definisi istilah (dari istilah paling sederhana hingga yang advanced), filosofi, uji proses, contoh kasus, ddll. Jadi ketahuan bener2 paham atau tidak.    

Tetapi, kalau ada yang sinis kepada orang yang hanya mampu menghafal. Hey, tunggu dulu.. (Sirik kali ye).. Bagaimanapun kemampuan menghafal itu perlu. Ada positif dan negatifnya.
Waktu kecil, saya males belajar perhitungan matematis secara cepat. Pikir saya, ada kalkulator ini, ngapain dipahami, menghitung cepat. Sekarang saya nyesel, terutama bila lagi tawar-menawar di pasar tradisional atau membandingkan harga barang di Mall.. Hehe..

Bila mengambil mata kuliah, harus ikut ujian. Artinya tidak sit in atau cuman ikut dengar kuliah dosen tanpa ujian. Bila belajar tanpa ujian, wah menguap semua tuh bahan kuliah. Ga berbekas. Masuk lewat kuping kanan, keluar lewat kuping kiri.. Hehe.. Bila pernah merasakan ujian, minimal pernah mampir dikit di otak kita, bila pengen dipelajari lagi, tinggal buka buku lagi..
Makanya, saya sangat mendukung kuliah, training yang ada pre dan post test. Bisa jadi masukan bagi si pengajar, tidak hanya sekedar "berapa nilai" yang diperoleh siswa.

Kembali soal menghafal..

Terkadang, bila nonton dakwahnya Ust Yusuf Mansyur, tentang penghafal Al-Quran. Ada sedikit rasa malu. Yah, masak sih saya bisa menghafal ilmu pengetahuan sebanyak itu, masak menghafal Alquran sendiri malasnya minta ampun.. Terlaluu *pake nadanya bang haji Roma Irama*
Jadi ayo ah ngafalin Quran juga..
Semangat

Rabu, 13 Februari 2013

Social Entreprenur : Oleh2 Pesta Wirausaha (4)

Ada satu benang merah antara semua pembicara yang menjadi entreprenuer waktu seminar pada Pesta Wirausaha 2013 kemarin. Meskipun ada yang berangkat dari entreprenuer yang sudah kaya, tetapi lebih banyak yang masih prihatin dulunya..
Apa tuh benang merahnya? Yup, kemauan untuk berbagi, bersedekah, saling membantu..

Di antara heboh bisnis mereka, di akhir presentasi, dikemukakan berbagai kegiatan sosial mereka. Bukan bermaksud sombong saya rasa, tetapi untuk mengingatkan kami, agar jangan lupa sisi sosialnya untuk berbagi. Ada yang sedekah rombongannya @Saptuari untuk membantu mereka2 yang dicoba dengan berbagai penyakit parah, ada yang membantu pelatihan wirausaha yang tidak mampu @Jay Teroris.. Ada juga yang membuat gerakan2 sosial seperti Happy trenggono dengan Beli Indonesia, juga Rhenald Kasali, Sandiago Uno, Ust Yusuf Mansyur..

Hmhm..
Andai kita semua sadar bahwa sebagian income kita adalah rezeki orang lain.. Insya Allah deh, Indonesia semakin maju.. Hmhm.. Indahnya berbagi..


Mungkin himbauan berbagi sudah banyak didengungkan, tetapi ada hal lain yang menarik menurut saya dari semua pembicara tentang himbauan berbagi..
Rata2 pembicara yang punya kegiatan sosial memiliki multi bisnis. Dugaan saya, dari sekian banyak bisnisnya, ada bisnisnya yang non profit, yang bersifat sosial..


Soal multi bisnis, saya emang pengen punya banyak bisnis. Bukan greedy, kemaruk, tapi bisnis sebaiknya ada beberapa jenis. Bisnis profit, semi profit, dan non profit.

Bisnis profit merupakan bisnis utama kita. Tentu kita akan mencari keuntungan besar sesuai dengan bidang keahlian kita. Nah, yang semi profit merupakan bisnis untuk membantu usaha pihak lain, UKM misalnya. Dan non profit lebih kepada membantu siapapun yang perlu dibantu..

Karena saya orang pertanian, tentu dong, bisnis utama saya seputar pertanian. Tidak hanya benih kentang, perlahan menapak bisnis pertanian lain, Insya Allah sedang merintis organic food.
Bisnis semi profitnya masih di angan2, nunggu jadi Doktor dulu, takut ga lulus2.. hehe.. Nah, soal bisnis non profit, mungkin karena background saya dari sisi akademis, pengen nantinya ikut punya peran di sisi pendidikan..
Doain ya..
 

Senin, 11 Februari 2013

Mental Block : oleh2 Pesta Wirausaha (3)

Saya juga kadang sebel bila bertemu dengan siapapun dengan mental payah ini. Padahal, trkadang saya juga melakukan 3 mental payah ini.. hehe
Apa aja sih mental payah ini? Kata bang Jay Teroris sih,
1. Ga bisa
2. Ga mungkin
3. Ga mau
Kalau kita udah menggebu2 ngajak ini-ngajak itu, terus dijawab susah, sulit, ga bisa, ga mungkin, ga mau
jadi males kan.. Ibaratnya kalau nulis kalimat dan dijawab dengan ke-3 mental payah ini, jadi seolah ketemu tanda titik.. Alias ga usah dibahas lagi..

So, yang bisa ngalahin semua itu adalah kuatnya pendirian kita. Buang semua rasa malas, karena emang dalam diri kita, kuat banget tuh yang namanya kebiasaan, sulit berubah.. Kerennya sih, sering disebut zona nyaman.


Saya ngomong begini, bukan berarti saya rajin..
Sama, saya juga terkadang dihinggapi rasa malas.. Kalau saya lagi malas, biasanya saya inget resiko bila saya malas. Misalnya, kalau saya ga cepat2 lulus, artinya limit beasiwa saya akan abis, berarti bayar sendiri (oh noooo), tunjangan kinerja saya ga full (hehe).. So.. buruan lulus..
Hehe..

Trik mengatasi malas yang lain,
Misalnya malas sholat tepat waktu. Hehe, bila udah waktunya sholat, langsung sholat, jangan ditunda2, jangan juga berfikir untung ruginya, menimbang2 waktu dikerjakan sekarang atau nanti. Kenapa?
Karena semakin ditunda2, maka akan semakin males. Just do it. Langsung dikerjain..


Kalau mental block dalam berwirausaha?
Kok sulit, kok susah wirausaha sih.. Sama jawabannya, just do it..
Kebanyakan mikir, kebanyakan ga jadinya deh...

Sabtu, 26 Januari 2013

Pendidikan atau Pengalaman ?

Ibaratnya penjual kecap, kecap miliknya lah yang terbaik. So, no debatable. Semua penjual pasti akan selalu bilang barangnya lah yang terbaik

Nah, kalau diminta milih, produk pertanian terbaik dibuat oleh praktisi pertanian atau ilmuwan pertanian (baik akademis maupun peneliti)? Atau pertanyaannya sebaiknya saya ganti, mana yang lebih penting, pengalaman atau pendidikan?

Berhubung saya "merasa" berada dikedua belah pihak, tentu saya ga ngebelain salah satu. Saya merasa perlu kedua2nya. Konon katanya, usaha tanpa pengalaman seperti dalam hutan belantara, sedangkan usaha tanpa pendidikan akan mudah tertipu..
So, syukur Alhamdullillah, nikmat tak terhingga saya rasakan.. Wujud syukur saya, tentu dengan terus belajar meski nanti sudah jadi Doktor, dan terus ber-agri-entreprenuer ria dengan menganalisa pengalaman saya dengan ilmu yang saya peroleh..
Saya sampaikan begini, karena banyak teman kuliah S1 saya malah berprofesi diluar pertanian, ataupun melihat teman sesama pengusaha pertanian, tapi bingung dengan kondisi pertanamannya, yang menduga2 kenapa tanaman begini begitu..

Pendidikan penting?
Ya, bagaimanapun, setiap kasus dapat dikembalikan ke dasar teorinya. Meskipun teorinya terkadang belum sempurna, kita dapat memodifikasinya. Contoh, pengomposan pada dasarnya membuat bahan organik menjadi anorganik agar mudah diserap tanaman. Waktu kuliah/kursus, pasti deh diajarin bagaimana perombakannya, bentuk kimianya apa, mikroorganisme pembantu pengomposan apa dll.. Puyeng deh kalau mo ujian ngapalinnya..

Pengalaman penting?
Ya, karena kalau belum pernah nyoba dan hanya sekedar tahu teorinya doang, sama juga boong. Setelah pernah nyoba, baru tau deh gimana ga enaknya bau kotoran ternak yang mau dikomposin untuk dicampur2 dengan bahan lain.

Pendidikan + pengalaman penting?
Ya, meskipun hanya sekedar ngomposin, ada trik agar kompos bener "jadi".
Berdasarkan teori, pada awal pengomposan, sering terjadi persaingan N antara mikroorganisme dan tanaman, jadi bila kompos belum matang dan diberikan ke tanaman, sering tanaman malah mati.. Ada yang ngakalin dengan memberikan tambahan N saat pengomposan. Fenomena ini sering dikenal dengan memperhatikan CN rasio pupuk kandang.. CN rasio terbaik 10-15..
Ada trik berdasarkan pengalaman lain, penutupan kompos sebaiknya dengan plastik berwarna gelap, agar mikroorganisme tidak ikut mati kena cahaya matahari..
Pas ngolah tanahnya pun, kompos sebaiknya terbenam tanah, jangan sampai terkena cahaya matahari.. Bila terkena cahaya matahari, kompos malah ga bisa nyerap air dengan maksimal..
dst... dst...

But, jangan kuatir, bagi teman2 petani yang tidak sempat mengenyam pendidikan pertanian, tidak ada kata terlambat.. Belajar bisa dimana aja. Bisa di internet, buku2 pertanian, ikut kursus, magang, dll..

Juga bagi para ilmuwan, yang asyik aja ngotak-atik di laboratorium, ato cuman nyuruh2, perintah sana sini ke teknisi, litkayasa, pesuruh, please deh.. Terjunlah ke lapangan. Banyak indigenous technology di tingkat petani yang tidak akan ditemukan di jurnal, diktat kuliah, ato buku2 text book.. Karena terkadang, disinilah rahasianya..

Sabtu, 19 Januari 2013

Jurnal Internasional oh Jurnal...

Halooow.. Lama euy, ga ngeblog..
Hehe.. Akhir tahun kemaren, sempet stress dapat berita klu mahasiswa S3 harus terbit jurnal internasional untuk melakukan ujian tertutup setelah 11 Februari 2013. Duh, mules deh.. Mo ngejar sebelum deadline, huff, selain dosennya sibuk, masih ada satu percobaan yang belum saya apa2in datanya.. Ampyun deh, malasnya saya.. Setelah diklarifikasi, ternyata "hanya" submit aja bila ujian sebelum 1 Agustus 2013.. Sedikit lega.. Meskipun hanya submit, tapi tetep mikir juga nih, apa ya jurnal internasional target saya.. Huff, jadi mundur nih ujiannya..
Tapi ada manfaatnya juga sih shock therapy di akhir tahun itu. Percobaan terakhir saya selesai jadi draft jurnal dalam seminggu dan minggu lalu selesai sidang komisi .. Hehe, tau gitu, ngapain aja saya kemarin2 ya.. Nyesel deh.. 

#1# Ngomongin soal jurnal internasional, jadi pengen comment soal status FB sodara saya yang dosen. Dia heran, kok bisa mahasiswa baca 100 jurnal internasional, padahal dia baca 35 jurnal aja perlu berminggu2..
Entah bermaksud nyindir beberapa oknum mahasiswa, yang suka ngaku2 baca banyak, padahal hanya sitiran aja..
 
Klu ditanyain ke saya sih, possible banget tuh.. Kebetulan, jurnal literatur saya kebanyakan jurnal internasional karena kentang merupakan komoditas yang banyak dikupas di tingkat internasional. Berapa jumlahnya? wow, lebih lah dari 100.. Kok bisa banyak? Karena selain untuk penelitian saya, saya juga perlu tau kentang dari berbagai aspek untuk usaha perbenihan kentang saya. So, meski penelitian saya tentang aeroponik, saya juga searching topik2 lain. So, wajar kan saya punya banyak jurnal..

Next question, apa semuanya saya baca? Pertanyaannya saya balik, apa perlu saya baca semua? Tentu donk, tidak saya baca semua. Ngapain, kayak punya banyak waktu aja. Yang saya baca, tentu yang menarik dan penting, menurut saya.. Dilihat dari judul dan abstrak kan kelihatan, seberapa menarik dan penting jurnal tersebut..
Di dalam ujian TOEFL, ada sesi reading. Di situ saya belajar, tidak perlu kita membaca semua paragraf, karena inti paragraf sering berada di awal atau akhir paragraf. Klu ketemu yang menarik dan penting, baru deh, isi paragraf dipahami secara seksama.. Getoo..   


#2# Beberapa hari lalu, saya dimintain teman supaya membagi jurnal bacaan saya karena topik penelitian kami hampir sama, cuman beda komoditas. Alasannya, tidak ada literatur topik penelitian tersebut pada komoditasnya.. Memang saya bagi, tapi ada saran saya untuk dia dalam searching jurnal berdasarkan pengalaman saya, sayangnya ga dianggap.. Entah karena malas, ato malas... Tauk deh..

Pentingnya key word.. Dengan semakin pahamnya saya tentang kentang, key word saya jadi lebih mengena dengan apa yang saya cari. Artinya jangan sepelekan key word, karena mesin searching sering menampilkan key word yang banyak dikunjungi berada pada pilihan teratas, padahal belum tentu itu yang kita cari.. Beda key word, maka beda pula result-nya..
So, be smart dengan pilihan key word, terutama bagi mesin searching kayak Google.. Hasilnya sangat, sangat bervariasi..

#3# Soal perlunya terbit jurnal internasional bagi mahasiswa S3.. Awalnya, agak empet juga sih dengarnya. Pertama, soal biayanya, yang tentu dibebankan ke si mahasiswa. Kedua, tambah lama donk lulusnya, padahal, katanya harus cepat2 lulus. hmhm.. kontradiktif banget.. Ketiga, kualitas penelitian harus lebih baik..
Soal biaya, Alhamdullillah, kantor pusat saya membiayai.. Soal lulus jadi lebih lama, hmhm.. perlu diantisipasi deh bagi mahasiswa2 yang mo S3 untuk jauh2 hari mempersiapkannya.. Soal kualitas penelitian harus lebih baik? huff inilah yang agak mencemaskan melihat dana penelitian yang menurun, biaya analisis laboratorium yang meningkat.. Meskipun bisa diakalin, cari jurnal internasional yang ringan2 aja.. hehe

Semakin lama, dengan naiknya gaji dan tunjangan PNS, rupanya aturan mulai dibenahi dengan lebih ketat. Ga boleh begini begitu, harus begini begitu, tapi tunjangan naik..
#a# Harapannya, dengan mengetatkan aturan dengan jurnal internasional, produk penelitian Indonesia lebih dikenal di dunia internasional. Good..
#b# Lulusan S3, doktor juga menjadi lebih berkualitas. Klu ga mampu, ya jangan nerusin S3-lah.. Maklum kompetisi semakin tinggi.. Kadang, miris juga sih liat ada doktor yang ga paham bidangnya sendiri. Mungkin cuman butuh gelarnya aja untuk karirnya.
#c# Dengan dipaksa nulis jurnal internasional, harapannya, setelah lulus, sudah pengalaman gaul dg internasional dan selanjutnya, diikuti dengan jurnal2 internasional berikutnya..

Hehe.. ini harapan lho...    


Senin, 12 November 2012

Tentang Senyum


 

Pernah ga merhatiin senyumnya Pak Dahlan Iskan (DI)?
Berhubung, lagi seru2nya perseteruan DI vs DPR, jadi ga sengaja merhatiin senyumnya DI. Honestly, ga terlalu manis. Bahkan tarikan senyumnya, hehe agak garing. Tapi entah kenapa ya, kok senyumnya terasa ramah, menyejukkan begitu.. Tulus..
Jadi inget senyum kontras teman kantor saya yang kecut, asem, pahit..  Padahal, ibu-ibu lho.. Bukan hanya kata saya, tapi kayaknya kompak deh, semua berkata begitu, terutama yang masih yunior.. Takut.. Dari sejak saya masih yunior, hingga sekarang pun, saya segan ngobrol.. Abis bibirnya tanpa senyum, bikin males mendekat..


Bicara tentang senyum, jadi inget sebuah artikel bahwa gerakan menarik bibir untuk tersenyum merupakan salah satu gerakan olah raga bibir, yang telah menggerakkan sekian otot. Jadi, bukan saja bermanfaat secara fisik bagi si tukang senyum, tetapi juga secara spiritual bagi si tukang senyum dan si penerima senyum..
Konon, bila kita tersenyum akan memberikan aura positif bagi kita sendiri. Jadi lebih bersemangat, optimis, dan sejenisnya.. Dan, tentu bagi muslim, sedekah termudah dan termurah adalah tersenyum bagi orang lain.. Mungkin senyum terasa tidak mudah ketika kita lagi bete, dan terpaksa harus senyum dengan orang yang bikin kita bete kali ya.. Sedangkan bagi si penerima senyum, mendapat senyuman dari orang lain adalah menyenangkan. yah, ngeliat senyum pak DI, ngerasa ada harapan untuk Indo yang lebih maju..

Aneh, tiba2 pengen ngomongin tentang senyum.. 
Yup, setelah baca artikel di kompasiana bagaimana agar menyamakan frekuensi kita dengan orang lain, terutama orang baru. Cara awal dan termudah adalah senyum.

Saya mungkin termasuk orang yang jarang senyum :) Hehe.. mungkin karena fokus kerja, jadi ya lupa untuk senyum. hehe.. ngeles.com. Tapi, kalau emang lagi santai, seneng juga berha-ha-hi-hi.. Untuk bergaul dengan orang baru, terkadang saya juga tidak semudah hubby saya untuk langsung akrab.. Dengan berjalannya waktu, nyontek gaya hubby gimana caranya akrab dengan orang baru..
Hmhm.. menyamakan frekuensi. Itu mungkin kuncinya yang lupa saya kerjakan. Ada beberapa trik yang disebutkan di artikel kompasiana. Hehe.. lumayanlah mengingatkan saya untuk introspeksi diri..   

Kembali tentang senyumnya DI.
Ternyata senyum emang dahsyat, secantik ato segantengnya kita, kalau tanpa senyum akan terasa pahit. Tapi kalau sering senyum ramah, segaring apapun senyum kita, tetap akan terasa manis.. 
Mari senyum yuk..


  

Rabu, 10 Oktober 2012

Hari Kerja Bakti

Kalau lagi musim hujan begini, yang terasa adalah adem, enak.. Ga panas seperti musim kemarau kemarin.. Ya iyalah.. hehe.. Ademnya enak, ga kering di kulit.. seperti di ruangan AC. Apalagi bau tanah setelah hujan, hmhm.. nyaman.. Alhamdulillah..

Sebenarnya bukan itu yang mau saya bahas.. ciecie...
Bagi yag jorok, banyak sampah, atap bocor, inilah saatnya beres-beres.. hehe.. termasuk saya..
Lagi-lagi bukan ini yang sebenarnya mau saya sampaikan..

Sudah beberapa tahun lalu, saya kepikiran melihat fenomena orang2 rajin mendadak saat musim hujan. Mendadak bersihin selokan, benerin atap. Pak RT dan Pak RW ngajak2 warganya untuk kerja bakti.. Alhasil sih, lumayan bersih dan banjir sedikit berkurang.. Sedikit lho ya..

Yup, seperti di kompleks perumahan saya, entah hari sabtu ato minggu, pak RT ngaajak2 bersihin selokan. Bagus sih, tapi ada tapinya.. rasa2nya akan lebih efektif bila pembersihan selokan dilakukan serempak se-RT, se-RW, se-desa, se-kecamatan, se-kab, se-propinsi.. Judulnya se-Indonesia deh..
Kenapa?
Seperti di kompleks perumahan saya yang kondisi kemiringannya lumayan, pembersihan selokan di perumahan saya terasa kurang efektif bila kampung di atas saya ga ikut bersih2 juga. Yang menikmati kerja bakti, selain kompleks saya, ya kampung di bawah saya lah..

Sayangnya terkadang, ada beberapa orang yang ga hadir, mungkin sibuk.Sebenarnya, ga papa sih ga hadir juga. asal kontribusi dana ato makanannya masuk.. hehe 

Sempet kepikir, seandainya, saya jadi kepala daerah (hehe.. ngayal.com), saya pengen punya tanggal khusus sebelum musim hujan untuk meliburkan semua aktivitas, agar semua rakyat kerja bakti.. Bagi yang kaya dan tidak mau kerja, ga masalah, asal depan rumahnya bersih termasuk selokannya. Selokan yang dangkal karena sampah, diperdalam. Nah, bagian pemda-nya menyediakan angkutan untuk membuang sampah dan mengolah sampah tersebut..

Kenapa saya gatel pengen kerja bakti serempak, ya karena merasa kerja bakti sepotong2 ga akan efektif.. Namanya air kan selalu nyari yang permukaannya rendah. Klu ga serempak, percuma saja.. Sama seperti klu mengendalikan hama secara PHT. Harus serentak. Mengendalikan tikus cuma sepetak lahan, mubasir lah ya.. harus semua wilayah sekalian..
Makanya saya liburin tuh rakyat saya.. hehe, la wong meliburkan karena pilkada bisa kok, apalagi untuk kerja bakti ini.. Ntar saya sebut hari kerja bakti. Setahun sekali. sebelum musim hujan..

Kenapa juga saya penasaran sama selokan. Karena selokan kita tuh jorok, dangkal, sampah ada dimana2. Terkadang air menggenang macet di selokan. Ih, jijik ngeliatnya. Dibandingin di luar negeri, eropa, mereka punya selokan di bawah tanah. Kan, mahal lah klu kita harus bikin seperti itu. Cukup perdalam selokan depan rumah anda, bersihkan.. dan jaga tetap bersih..

PR buat pemda, untuk mengkoordinir pengangkutan sampah. mengelola sampah. Sebenarnya mengelola sampah itu mudah, karena bisa didaurulang. Cuman masalahnya,  mau ga pemda ngerjain. Denger2 sih, pemda ogah karena bagi untung dengan si pendaur ulang kurang timbal baliknya.. hehe..  Yup, keuntungan bos si pemulung, si pendaur ulang lumayan gede lho..

Begitulah, khayalan saya di tengah malam degan hujan yang deras..
marii.. 

Selasa, 02 Oktober 2012

Serial Kriminal Favorite

Saya adalah penggemar serial kriminal di TV berbayar. Terutama buat refreshing, klu ga sibuk. Serial favorite saya adalah Bones, Castle, Body of Proof, Criminal Intent..

Saya suka serial Bones dan Body of Proof. Kedua serial ini pake science untuk  memecahkan kasus. Mungkin karena saya peneliti kali ya, saya suka penjelasan2 yang bersifat ilmiah. Bones dan Body of Proof lebih menekankan bukti secara ilmiah daripada mengandalkan bukti pengakuan saksi..

Kemarin, saya nonton di Law and Order, dimana jaksanya bingung mana yang bener apakah tersangka ato saksi. Keduanya saling menuduh. Pengusaha berlian sebagai tersangka bilang bahwa yang membunuh adalah saksi. Eh si saksi yang berkulit hitam, yang memang terkenal sering berbuat kejam, mengaku ga membunuh dan balik mengeluh apakah karena dia hitam terus selalu yang dianggap bersalah. Serunya, si pengusaha berlian di penjara tiba2 ditusuk teman sesama di penjara, yang ternyata teman si saksi. Katanya disuruh si saksi. Terakhir, ketahuan, ternyata istri teman sesama di penjara ketahuan mendapat transfer uang dari istri si pengusaha berlian karena mau pura2 menusuk si pengusaha berlian.. Mbulet dan susah dibuktikan karena hanya keterangan saksi. Akhirnya, pengadilan tidak dapat membuktikan siapa yang bersalah..

Beda dengan serial Bones dan Body of Proof. Keduanya selalu menggunakan ilmu dan alat2 teknologi canggih. Untuk menentukan alat apa sebagai pembunuh, bisa direka ulang dengan komputer berbagai jenis pisau pembunuh. Untuk menentukan kapan dan dimana si mayat dibunuh dengan uji lab. Misal ternyata ditemukan serbuksari suatu tanaman tertentu pada mayat, terus bisa dicari dimana lokasi yang ada tanaman tersebut. Bentuk irisan tulang pun bisa menentukan umur, penyakit, obat yang dikonsumsi korban sehingga meskipun sudah dimutilasi, tetap ketahuan siapa si korban. bener2 lengkap uji labnya.
Seru deh..
Kadang kepikir, seandainya saya tau ilmu forensik saat saya sma, kali saya bisa ambil jurusan itu daripada pertanian kali ya.. hehe..

Kalau serial Castle, saya suka dengan tokoh castle-nya. Emang ganteng sih, tapi bukan itu penyebab saya sukanya. Saya suka pikiran liar castle, si Novelis, dalam menganalisis kasus. Bisa jadi penyeimbang si Becket yang emang polisi. Ya liar, out of the box. Meskipun ada SOP dalam setiap kegiatan ato rutinitas, mestinya kita harus bisa berfikir out of the box. Kadang2 pikiran liarnya, sering diluar dugaan. Bukankah klu pengen maju, berhasil, kita perlu juga berfikir liar to.. biar kreatif kan..

Beda lagi serial Criminal Intent. Saya suka tokoh penyidik yang laki2. Lupa namanya. Cara dia mengaduk2 emosi tersangka ato saksi hebat. Bahkan sadis, ga punya perasaan. Tapi ya akhirnya ketahuan apa yang sebenarnya. Bener2 bagus secara physiology..                     

Sebenarnya, klu Law and Order sih, saya anggap serial standar. Yang agak sedikit lebih diatas standar adalah CSI. Yang favo sih serialnya Mac Taylor dan si Horatio.. Sebenarnya cukup canggih sih science dan alat2 teknologinya, tapi masih lebih seru Bones dan Body of Proof ..

Klu yang paling saya ga suka, Criminal Minds dan Leverage. Saya ga begitu suka Criminal Minds karena alur ceritanya bisa ditebak. pasti tersangkanya adalah psikopat, orang2 yang punya masalah secara psikologi. Padahal, bagi saya, yang paling seru suatu serial adalah kalau tebakan kita siapa tersangkanya ternyata salah. Alias ga terduga.  Juga Leverage bagi saya terlalu diawang2. Seperti mission imposible gitu. Abis rencananya selalu berjalan mulus dalam menipu. Padahal kita tau, itu sulit banget.. Jadi ga mungkin lah.. imposible..

Nah, klu NCIS, sebenarnya saya suka, tapi karena bukan bidang saya, seringkali saya telmi. Yup, soal tentara, teroris, dkk, saya ga terlalu paham. Akibatnya, sering ga ngeh.. hehe...LOL

Ada 2 pertanyaan saya, bisa ga Indo bikin serial kriminal yang bermutu? Ogah klu disuruh nonton sinetron Indo yang aneh bin ajaib.. Kedua, apakah kasus kriminal Indo juga efektif menggunakan ilmu forensiknya? Tauk deh, gelap..   

Rabu, 19 September 2012

Padat penduduk dan Aturan yang Harus Ditegakkan

Setelah beberapa kali pergi ke beberapa negara, baik yang tertib ato tidak, kok saya sering menjadikan jumlah penduduk yang terlalu padat sebagai salah satu penyebab utama Indo susah diatur. Mungkin ini salah, tapi sering menghayal, seandainya penduduk Indo ga sebanyak ini..

Mungkin karena terkenal kaya raya, subur makmur (dulu), kondisi cuaca relatif lebih nyaman untuk tempat tinggal, maka pertumbuhan penduduk di Indo dan negara2 dekat katulistiwa lainnya cukup tinggi. Bandingin di daerah utara yang dingin, wuih.. meskipun harga tanah murahpun, ga banyak yang minat tinggal di kutub dweh..

Mengunjungi negara yang ga padat penduduk, rasanya sepi bangets. kecuali ibu kotanya lho ya.. Mereka tertib antri, ga berani buang sampah sembarangan, tertib sama hukum.. dst dst..
Beda dengan negara yang padat penduduknya. Relatif sulit diatur, pengennya menang sendiri, sulit disuruh antri dsb dsb..

Tapi nyatanya kok Jepang yang padat penduduknya, tetap tertib, patuh aturan? hehe.. Inilah yang saya sebutkan, mungkin pendapat saya salah... Jepang emang hebat, mungkin karena negaranya rawan bencana kali ya. Jadi orangnya tangguh bangets.. Saluts.. Lagi2 beda dengan Indo yang relatif merupakan negara yang penduduknya terlalu dimanja dengan segala keberkahan sumber daya alam..

Kok saya ujug2 cerita begini sih? Habis, saya lagi inget sentilan teman dari negara seberang, Malay, saat ada seminar pertanian organik di Malay
Katanya, Indo demi gengsi, harga diri, akan terus memperjuangkan haknya. So banyak demo2, entah karena tujuan mulia atao demo karena dibayar orang kaya. Jadi kondisi ga kondusif untuk orang bekerja dan bekerja..
Sementara Malay, mereka ga peduli sultannya macem2. Asal tertib bayar pajak, kerja mereka ga diganggu.. So bisa kerja semaksimal mungkin..
Rasanya panas hati ini mendengarnya, tapi kok sedikit ada benarnya ya.
Apa kita harus kembali ke jaman Suharto lagi? 


Sekali2 bicara politik ya..    
Sebenarnya, meskipun padat penduduk, asal aturan ditegakkan tanpa pandang bulu, mestinya ga masalah. Pemerintah harusnya tegas. Sekarang gimana pemerintah mo tegas, la wong oknum pemerintah selalu ada dimana2..

Contoh kasus, kembali ke soal hilang atau berkurangnya calo tiket kereta api dengan penggunaan KTP asli penumpang. Sederhana kan, tapi sungguh, ladang jual tiket oleh calo jadi lenyap atau berkurang. Dan calonya bukan hanya orang luar lah.. Kalo pimpinan KAI ga berniat keras menerapkan aturan tiket dengan KTP dengan segala resiko dimusuhi dan diomelin calo2 tiket, mana mungkin calo itu bisa hilang..

Kadang kasus2 lain pun perlu keberanian pemimpinnya.
Sering saya baca di Kompasiana, TKI yang diperas di bandara Sukarno Hatta saat pulang ke Indo. Saya sendiri juga pernah liat, saat ngantri diperiksa di Imigrasi, para TKI bolak-balik ngurus sesuatu, seperti dilempar sana sini oleh petugas. Bahkan sambil nangis.. Kasihan..
Klu pimpinan mo masalah itu beres, gampang kan. Tempatnya jelas, bandara. Orang2nya juga ada di tempat, ga usah nguber2 lagi.. Gitu aja kok repot.. Memang menjadi repot, klu ada oknum yang dapat bagian to..

Klu masalah transportasi lain, bis. Saya salah satu pelanggan bis antar kota antar propinsi, bandung-bogor. Sebelnya minta ampun, klu dapat bis omprengan tetapi ngaku bis eksekutif. AC ga jalan, lebih banyak angin dari blower. Kursi butut. Ngebut dikit, bis bergetar, jadi ga bisa disambi baca ato online deh.. Klu dikomplain, pasti kru bis nya pura2 ga denger.. Klu lagi ga buru2, saya milih nunggu antri bis berikutnya.. Klu ga, ya terpaksa deh..
KLu pimpinan mo ngeberesin masalah ini juga gampang to.. Bikin syarat bis eksekutif tuh gimana. Yang ga memenuhi syarat, ya jangan ngaku2 eksekutif. Tempatnya jelas, terminal. Barangnya ada, bis. Orangnya juga ada. Lagi2, kecuali ada oknum yang dapat jatah dari bis omprengan..
Capek deh..    

Senin, 17 September 2012

Membaca Ganti Hati-nya Dahlan Iskan

Baru beberapa minggu lalu saya selesai membaca bukunya Dahlan Iskan (DI) tentang Ganti Hati.. Sebenarnya sudah lama pengen beli dan membacanya, tetapi belum sempet, jadi hanya baca2 dari blognya saja.. Akhirnya, pas saya harus nungguin adik ipar saya melahirkan, saya sempatkan beli. Lumayan untuk menghabiskan waktu..
Awalnya, pengen baca karena pengen tau kepribadian beliau, gimana cara beliau agar bisa sukses, dan gimana cara beliau menghadapi penyakitnya. Selain ingin meneladani hal2 yang baik dari beliau, sebagai orang yang penyakitan, saya juga perlu dapet spirit bagaimana beliau berjuang menghadapi penyakitnya. Dari membaca bukunya, pertanyaan saya terjawab terutama yang point 1 dan 3.

Komentar saya. Perlu dibaca bagi orang2 yang penyakitan, pendamping orang2 yang sakit, atopun orang2 yang sehat agar tidak sakit.. hehe Intinya sih, perlu buat semuanya..

#1# Meskipun, beliau tidak bercerita bagaimana menjadi sukses, tapi kelihatan dari kepribadian beliau. Hard working, simple, sistematis dan jago analisis, out of the box, jujur, taat beribadah.. Sepakatlah saya, banyak hal2 baik yang patut ditiru..  Mudah2n bisa meniru jejak beliau..

Cuman satu hal yang saya ga setuju. Saya ga mau kerja terlalu keras hingga sakit parah seperti itu. Mumpung masih muda, sebaiknya sih, harus bisa ngukur kemampuan fisik kita. dan bagaimanapun, keluarga adalah yang terpenting. Beliau ini hebat, udah sakit parah, tetapi masih terus kerja dan kerja.. Saking sibuknya kerja, sampai anak2nya merasa punya bapak saat bapaknya sakit.. kasihan.. Mestinya jangan sampe seperti itu.. Tapi melihat kondisi dan kepribadian beliau, saya sih maklum..


#2# Sebagai peneliti, saya ngiri dengan dokter2 di luar negeri sana. Mereka dibebaskan melakukan riset sebaik2nya untuk kemajuan kesehatan.. Wuih, seandainya, di Indo juga seperti itu. Saya sering merasa tertahan keinginan saya untuk meneliti ini dan itu karena keterbatasan dana, ga bisa menganalisis ini dan itu karena mahal, mo cari literatur ini dan itu terbatas akses, mo liat penelitian orang lain di dalam ato luar negeri untuk menambah wawasan tapi no money, pengen diskusi dengan para ahli tapi dibatasi privacy dan HAKI. Yah, apa boleh buat, kan ga boleh mengeluh, jadi ya meneliti2 sendiri, kerja2 sendiri, uang2 sendiri, sibuk2 sendiri, hasil ya buat sendiri..  :)
Menyedihkan.com

Buku lanjutan yang sudah dibeli dan akan saya baca adalah Chairul Tanjung, si anak singkong..
Tunggu ya..

Senin, 10 September 2012

Romantisme kejayaan masa lalu

Minggu lalu, saya n hubby silaturohim ke rumah om dan tante saya. Ceritanya, sekalian halal bihalal gitu. Om saya ini adalah seorang profesor, dosen teknik sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Indo. Meskipun sudah pensiun, tapi masih aktif jalan2 di usia senjanya. Beliau bertanya tentang disertasi saya sudah sampai mana dan bertanya topik disertasi saya (lagi). Hehe.. maklum sudah sepuh, beliau lupa saya sudah berulang kali cerita tentang disertasi saya..
Intinya, beliau mendukung topik disertasi, berharap dengan aeroponik, ketersediaan benih kentang berkualitas akan meningkat. Beliau berharap agar produksi kentang pada akhirnya meningkat dan kentang nantinya dapat menjadi alternatif pangan di Indonesia, selain beras tentunya.. Amiin YRA..

Ujung2nya, beliau mengungkapkan keresahannya tentang impor beras dan kedelai, padahal Indo merupakan negara agraris.. hmhmhm..
Saya males ngomentari keresahan beliau.. Yup, kita semua tau tentang impor beras dan kedelai. Tapi kenangan bahwa dulu kita adalah negara agraris yang subur makmur, bagi saya males mengingat-ingatnya kembali. Situasi dulu dan sekarang adalah beda. Kerakusan kita telah membuat lahan kita sudah tidak sesubur dulu. Lahan subur kita menjadi terbatas. Sedangkan jumlah penduduk kita sudah naudzubillah mindzalik buanyaknya dibandingkan saat lagu "singkong dilempar jadi tanaman" masih banyak dinyanyikan. Udah banyak penduduk, sulit diatur, mana pemerintah ga tegas lagi. Cape deh..
Itu komentar emosional yang tertahan..

Didengungkan diversifikasi pangan, ga ngefek hingga sekarang.. Dan, om saya yang resah impor beras, ternyata sama dengan saya, yang termasuk orang yang merasa belum makan, sebelum makan nasi. Jadi inget waktu di Eropa, nahan 2 minggu ga ketemu nasi menghasilkan rasa di perut yang selalu pengen buang gas melulu.. Dan begitu lahapnya kami, sesama orang asia ketika disuguhi nasi.. Ludes.. hehe
Inget seorang Walikota yang memaksa sehari tanpa nasi kepada anak buahnya.. Berhasil ga ya programnya?

Impor kedelai? Ya iya lah, kedelai kan termasuk tanaman sub tropis. Bukan asli tanaman Indo, so produktivitasnya sulit optimal. Pernah dosen saya cerita klu varietasnya bisa menghasilkan lebih dari 2 t/ha. Usut punya usut, ternyata untuk bisa seperti itu perlu input yang tinggi. Pupuk kandang 5 t/ha. Aduh, berat untuk diterapkan petani. Masih taraf penelitian, skala kecil.. Masih perlu exploring..

So, please lah, jangan ungkit2 lagi kenangan manis tentang lahan subur kita. Kenapa dulu begitu, sekarang begini.. Yang penting, actionnya mana.. Klu ga bisa action, mending diem deh.. Kondisi inilah,yang terkadang, saya males nonton tv Indo. Klu ga mencaci, menyalahkan, gosip.. duh, pindah channel ke tv berbayar deh..

Diantara nada2 pesimis tentang negara ini, saya happy banget dengan 2 postingan terakhir Dahlan Iskan.. Sst.. saya adalah fans berat beliau. Saya berlangganan postingan beliau.. Yang pertama tentang pelabuhan merak dan kedua tentang kereta api dalam meghadapi lebaran kemaren..

Ga ada cerita macet panjang di merak. Tumben. Kok bisa?
Ga ada cerita penumpang kereta tergencet ato kereta telat.. Saya termasuk pengguna kereta saat lebaran kemaren juga heran. Berhubung lebaran, kirain bakal telat dan pasti kotor. Ternyata stasiun dan kereta bersih. Kepergian dan kedatangan tepat waktu. Kok bisa?
Saya happy bener baca postingan Dahlan Iskan. Wartawan2 kecele alias kecewa ga dapat berita seksi tentang keburukan angkutan di lebaran kemarin.. Horeeee..  

Dulu, sepertinya tanpa jembatan yang menghubungkan Jabar dan Lampung, ga mungkin kemacetan Merak teratasi. Dulu, rasanya sulit mengatasi calo kereta api. Hopeless  deh.. Nyatanya bisa tuh dengan harus menunjukkan KTP asli.. Jadi inget cerita teman yang beli tiket dari calo dengan nama di tiket yang berbeda. Mana harganya 3x lipat. Berhubung namanya beda, tetap aja harus beli lagi. Jadi beli di calo hanya untuk dapet seat aja, tetap harus pake nama sesuai ktp asli di loket resmi.. Rugi berapa kali tuh.. Makanya jangan beli di calo ya..

Alhamdullillah.. Seperti kata Dahlan Iskan, sebenarnya, masih banyak orang baik yang ingin negara kita maju. Meskipun tantangan itu bisa berasal dari kanan, kiri, atas, bawah, dalam, luar..

Nah, mestinya virus yang begini ini yang ditularkan, seperti kata Dahlan Iskan. Manufacturing Hope. bukan dengan mengingat romantisme masa lalu dengan menyalahkan pihak2 lain..
Semangattttttt..

      

Rabu, 09 Mei 2012

Berburu Literatur Kentang

Karena mo mulai nulis draft disertasi saya, mulai pula deh saya browsing literatur2 dan baca buku, print out, dan fotokopian tentang kentang lagi. All about potato.. Jadi pengen komentar nih..

#1# Honestly, komentar umumnya sih. Ilmu pengetahuan emang mahal ya.. Yang di-share ke publik, emang yang umum2 aja, sedangkan yang special, keep it for myself.. Lumrah.com. Maklum, khusus untuk kentang  dan komoditas komersial lainnya, teknologinya ga sembarang tersebar seperti komoditas padi, misalnya. Bahkan untuk padi, pemerintah segencar2nya mendesiminasikan teknologi seluas2nya supaya diadopsi petani. Beda dengan padi, teknologi kentang komersial relatif lebih sedikit dijamah oleh pemerintah, yang artinya, harus diteliti sendiri oleh petani, jadi teknologi ngendon di masing2 individu sendiri. Amal jariyah-nya kurang. Jadi hak paten gitu.. 
Abis gimana dong, emang prioritas penelitian pemerintah baru pada tanaman pangan sih..

#2# Tak bisa dipungkiri, ga sia2 saya punya Toefl lebih dari 550. Abis gimana lagi, berharap dari literatur Indo standart banget. Dan.. wow.. segitu luasnya dunia perkentangan internasional. Itu bisa dipahami hanya bila your Englishnya kaga mepet. Yup, Writing English, bukan conversation. Syukurlah, punya basic pertanian, jadi ga lieur baca literatur Englishnya. 

#3# Banyak nemu jurnal2 English bagus, tapi harus bayar. Mana harganya bisa diatas 300 ribu/jurnal lagi.. bangkrut deh. La wong, yang saya pengeni lebih dari 100 jurnal je.. Inceran saya, Potato Research, American Journal of Potato Research, dll. Akhirnya kontak temen di Pustaka berharap Litbang langganan gratis. Alhamdullillah, gratis.. *Inilah, salah satu penyebab tak akan saya lepas status sebagai peneliti Litbang*. Akhirnya dengan membabi buta deh saya browsing online digib   

 #4# Harus pula dikatakan, literatur kentang berbahasa Indo standart banget. Apalagi klu bercerita tentang cara budidaya ato pengendalian hama penyakit. Hehe basi.. *maaf* Sepertinya, kayak copy paste deh.. Entah antar komoditas ato antar penulis.. Tapi untuk pemula boleh lah..
Saya kadang mikir, apakah bener penulis itu bener2 tau cara budidaya, pernah praktek berbudidaya tanaman, ato sekedar comot buku sana dan buku sini sih..
Salah satu contoh lucunya, sering menyebutkan dosis pupuk kalium sebesar 100 kg K20/ha... Hehe, petani suruh mikir lagi dong, berapa dosis KCl-nya.. Padahal isi bukunya sok praktis, giliran dosis pupuk malah masih berbentuk teori. Ga konsisten lah..
Ada juga yang isi bukunya berbentuk hasil survei. Kalau petani di Pangalengan begini, sedangkan petani di daerah lain begitu.. Hehe.. kalau memang isinya hasil survei, harusnya dibahaslah seharusnya bagaimana, tidak sekedar memaparkan hasil survei..
Kasihan pembeli yang telanjur beli bukunya.. Beda kalau gratisan.. hehe.. kayak baca blog saya kan gratis, jadi suka2 saya ya.. *pengen enaknya aja.com* 

Dari sekian literatur kentang berbahasa Indo, saya salut pada salah satu buku karangan suatu instansi. Kelihatan bener2 berpengalaman menguasai perkentangan, tidak sekedar teori menyitir dari si-A dan si-B. Bahkan diberi beberapa catatan berdasarkan pengalamannya. Tidak normatif.
Contoh, tanaman disiram sesuai kebutuhan, tidak berlebihan atau kekurangan *menurut saya ini normatif, semua orang juga tau kalau nyiram jangan berlebihan ato kekurangan*
Sebagai standar penyiraman kentang dalam screen adalah seminggu dua kali. Penyiraman sebaiknya tidak mengenai tanaman, tetapi menyiram di antara barisan.. *hehe.. klu sudah begini statement-nya, berarti emang si penulis benar2 ngerti dan pernah nyoba nyiram kentang di screen.. *

So saran saya, selektiflah membaca literatur ya..

Kamis, 02 Februari 2012

Menumbuhkan Jiwa Agribisnis melalui Magang

Tadi siang, teman mahasiswa yang magang di perbenihan kentang saya, dateng.. Memang sih, beberapa hari lalu mahasiswa saya tersebut sudah minta ijin agar temannya boleh liat usaha saya.. Tertarik gitu..
Dan, salah satu dari mereka, sepertinya agak tertarik dengan bisnis. Terlihat dari pertanyaannya, yang nanya modal, hasilnya berapa, keuntungannya berapa..
Hmhm..

Salah satu yang sedikit saya sayangkan di masa muda saya, meskipun tidak juga saya sesali adalah kurangnya jiwa agribisnis saya waktu muda. Kebanyakan main. Mungkin namanya masih abg kali ya.. bawaannya main mlulu.. Meskipun ada manfaatnya juga main, yang membuat saya punya banyak teman..


Klu soal jualan, emang hobinya udah dari dulu sejak kecil.. Tapi yg berkaitan pertaniannya kurang..
Padahal, saya kuliah di pertanian. Alm Bapak saya juga orang pertanian..
Sebenarnya sayang banget, seandainya dari dulu diasah jiwa agribisnis saya plus didorong bapak saya.. waw.. pasti asyik tuh diskusi dengan bapak saya.. (hmhm.. jadi kangen beliau deh.. kirim Al Fatehah dulu ya..)
Pikiran praktis saya, semakin awal dimulai berbisnis, semakin banyak pengalaman diperoleh, semakin hati2 dan paham seluk beluk agribisnis.. Harapannya bisa sukses di masa muda.. Amin 

Waktu kuliah kerja nyata (KKN) pun, saya pernah rada malu. Program KKN bidang saya adalah sengonisasi. Jujur, cuman agak fiktif karena sebenarnya ga banyak bikin bibit sengonnya. Sama seperti teman2 yang lain. Yang bikin malunya, 2 teman satu kelompok saya. Yang satu, calon arsitek tapi bandar sayur di magelang, sedangkan yang lain calon dokter hewan yang punya ternak ayam yang sukses..Yang malu bangetnya ya yang arsitek itu.. Saya yang orang pertanian, tapi tidak terlibat di pertanian praktis..
Abis gimana.. kondisi saat itu tidak memungkinkan..

Liburan awal tahun lalu, saya ketemu kakak angkatan saya di pertanian yang sudah sukses dengan perusahaan saprodi organik. Cukup salut.. Setidaknya dia telah merintisnya sejak kuliah.. Dia emang smart, supel, and cukup tajir. Kepikir sama saya, seandainya orang2 seperti dia mau membuka lapangan pekerjaan di pertanian, kebayang pertanian Indo bakal maju.. Abis kebanyakan teman2 pertanian yang pinter2 justru jadi PNS, kerja di Bank.. tidak terlibat di pertanian praktis..
Jadilah gitu deh..

Inget dulu waktu S1 ada kuliah wiraswasta..
Kalau tidak salah, isinya hanya bikin bagamana evaluasi usaha agribisnis. BC rasio. Menguntungkan atau tidak. Padahal semestinya bagaimana membangkitkan jiwa entreprenuership di bidang pertanian. Entah dengan mengundang praktisi pertanian sukses, studi banding ke usaha2 pertanian..
Eh, sebenarnya ada ding studi banding.. Tapi tauk tuh.. ga masuk ke pikiran, yang kepikir cuman mainnya aja... hehe

Makanya, di sela2 materi magang mahasiswa saya, selalu saya selipkan bagaimana agar dia tertarik berbisnis pertanian.. Juga saya pesan ke teman2 dosen saya. Yah, agar mahasiswa2 pertanian mau terjun ke pertanian praktis. Jadi tidak terdengar lagi, tingkat SDM petani kita rendah, karena petani2 kita muda2 dan berpendidikan tinggi..
Amin

Minggu, 25 Desember 2011

Dari Padi Hibrida dan Kerjasama Perbenihan

Sebenarnya diskusi saya dan teman saya ini sudah terjadi minggu lalu, tapi kok sedikit kepikiran ya..
Ada dua hal..

Pertama..
Bagi saya, perusahaan tempat teman saya bekerja, produsen benih padi hibrida cukup berani berinvestasi. Yup, hanya mengandalkan pembelian dari BUMN benih padi untuk subsidi benih.

Sudah menjadi rahasia umum, padi hibrida membutuhkan biaya sangat tinggi, entah benihnya, pupuk, pemeliharaan, pestisidanya.. Jadi, tentu hanya berhasil bagi petani kaya saja, padahal ada berapa sih petani kaya di Indo? Hasil panen petaninya meningkat menjadi 60 juta dari 20 juta, namun saat saya tanya berapa biaya produksinya, dia tidak tau.. Kalau benar2 menguntungkan, tentu akan banyak muncul perusahaan penghasil beras hibrida.. Nyata nya kagak too..
Jadi, sangat jarang petani rela menanam benih hibrida, bila harus beli benih sendiri.
So, pembeli benih hibrida kebanyakan Pemerintah untuk subsidi benih.. bukan petani

Tentu, maksud Pemerintah memberikan benih hibrida gratis agar ditanam petani dan menghasilkan panen sesuai potensi hasil, diatas 10 t/ha.. Sekali lagi, jarang dong yang tercapai. Kalau pun tercapai, berapa orang, berapa luas, berapa biaya produksinya.. Bahkan selain boros pupuk, penanaman padi hibrida menyebabkan lahan menjadi miskin hara, terutama boron, begitu kata teman saya

Saya yakin Pemerintah tahu kondisi ini..
Pengen menaikkan produksi dengan hibrida, tapi banyak kendala..
Mungkin Pemerintah bingung, mo gimana lagi, habis pake terobosan apalagi donk.. untuk keamanan pangan..
Jadi deh, kebijakan subsidi benih hibrida terus berlanjut..
Biar kelihatan berpihak kepada petani memberikan benih gratis, padahal...
Tentu donk, perusahaan benih hibrida punya kepentingan sendiri agar kebijakan tersebut terus langgeng..

Jadi inget petani saya yang mendapat subsidi benih hibrida, benihnya malah dimasak jadi beras..

Kedua
Perusahaan benih tersebut hanya bermodal dana dan tenaga. Lahan dan alsintan milik BUMN benih padi. Kepikir kaya donk itu BUMN, ternyata?
Pikir sendiri deh..
Yang jelas, minimal, pegawai BUMN punya kerjaan, daripada nganggur..

Ngomong2 soal kerjasama ini..
Saya jadi teringat banyaknya rumah screen mahal yang nganggur di suatu balai benih kentang. Dari sekitar 10 rumah screen, hanya 2 yang beroperasi. Padahal, itu bangunan lumayan canggih daripada punya saya..
Sterilisasi dengan panas mudah karena punya alat sendiri..
Saya bersusah payah membangun rumah screen, ealah, balai itu malah menyianyiakan rumah screennya..

Katanya sih, dana dari pemerintah hanya bisa untuk 2 screen..
Hmhmm, padahal menurut saya, hasil panen 2 screen tersebut, secara bertahap bisa untuk membiayai screen lainnya, kecuali....... yup, keuntungan hasil panen diambil duluan.. hehe

Bicara soal kerjasama, sama halnya yang terjadi dengan produksi benih padi hibrida
seharusnya, balai benih kentang bisa mengajak pihak lain untuk mengisi screen yang lain.
Selain menguntungkan, menyediakan benih di tingkat petani, minimal bisa menjadi tambahan masukan bagi pegawai2nya..
Kecuali, ga rela berbagi bersama

Rabu, 14 Desember 2011

Pentingnya analisis laboratorium untuk penelitian dasar ..

Tadi saya mengajukan analisis laboratorium ke suatu instansi. Alhamdulillah, saya dapat diskon karena status saya sebagai mahasiswa. Koordinatornya cukup sibuk, katanya mo rapat penyeragaman biaya analisis..
Spontan saya nanya. Biaya naik ato turun?

Pertanyaan itu saya lontarkan karena analisis di instansi tersebut tergolong mahal dibandingkan di daerah lain. Alasannya karena kuantitas analisis di tempat tersebut sedikit, sehingga mahal. Beda dengan daerah lain yang cukup banyak melayani analisis, sehingga bisa murah..

Saya tidak punya pilihan lain, karena instansi tersebut yang terdekat dengan lokasi penelitian saya. Kalau pun saya bawa ke daerah lain yang lebih murah, kebayang lah gimana saya ngangkut sampel2 saya. Selain repot, sepertinya errornya malah bakal tinggi . Ya sudah biarin deh. Toh, saya dapat harga mahasiswa..

Jawaban perubahan biaya tidak melegakan saya karena ternyata harga analisis akan dipatok batas atas alias mahal.. Kecewa sih pasti.. Kalau penyeragaman biaya menjadi murah, pastilah akan meringankan konsumen, tapi kalau penyeragaman biaya jadi mahal?

Sungguh, saya menyayangkan hal ini..
Kalau bisa murah, kenapa harus mahal..
Kalau laboratorium sepi, jangan terus minta laboratorium yang ramai untuk menaikkan harga donk..
Wong dia bisa efisien, kok disuruh tidak efisien
Saran win win solution saya adalah diberikan alternatif harga. Bagi jumlah sampel sedikit, boleh lah mahal, tetapi bila sampel banyak, kasih murah lah..

Saya agak sensitif tentang biaya analisis laboratorium akhir2 ini..
Selain karena saat ini saya banyak melakukan analisis lab untuk penelitian saya, saya tergugah dengan beberapa serial drama kriminal TV kabel..

Banyak kasus kriminal terungkap akibat ilmu forensik..
Terakhir serial drama yang saya tonton, berkat uji DNA dan uji bakteri, ketahuan deh, bahwa seseorang yang tadinya diduga bunuh diri ternyata merupakan korban pembunuhan oleh orang tuanya sendiri..
Coba klu hanya mengandalkan investigasi, mana mungkin itu terungkap.. Bisa jadi salah tangkap tersangka..

Ingat ga kasus Ryan, pembunuh berantai..
Ternyata, tersangka tukang salon atas korban yang ditemukan di kebun tebu adalah keliru setelah kemudian Ryan mengakuinya. Berulangkali si tukang salon mengelak, tetapi kepol***an kekeuh meski sudah pake uji DNA keluarga..
Modus kriminal di Indo, klu pol*** udah kekeuh skenario X. Meski ada bukti ilmiah Y, sebodo teuing deh dengan bukti ilmiah. Ini artinya, kesadaran pentingya bukti ilmiah masih rendah. Padahal bukti ilmiah mah ga bakalan nipu.. Uji DNA emang bisa nipu? Kecuali penguji lab DNA-nya disuap dulu..

Kembali soal analisis lab..
Sebenarnya saya pengen usul deh.. Mbok ya, analisis lab tuh jangan mahal2..
Kalau perlu dikasih subsidi..
Yup, subsidi penelitian untuk analisis lab..

Saking mahalnya analisis lab, terkadang, peneliti enggan melakukan analisis lab. Sebagian besar dana penelitian lebih banyak diperuntukkan untuk honor, perjalanan dinas.
Kenapa? Abis biaya analisis lab akan menyedot dana penelitian, yang tentu akan mengurangi uang yang masuk kantong setelah dipotong berbagai potongan..
Terkadang dari 50 juta dana penelitian, hanya 12,5 jt yang benar2 untuk penelitian..
Menyedihkan
 
Mengapa pentingnya analisis lab?
Untuk penelitian basic, analisis lab sangat penting untuk mengetahui apakah benar perlakuan yang kita berikan berpengaruh terhadap hasil. Bila hanya menduga dari peubah pengamatan, hasilnya akan sangat bias.
Akhirnya kita akan berasumsi berbagai kemungkinan.
Sebagai contoh :
Induksi pengumbian kentang terjadi bila giberilin rendah, CN rasio tinggi..
Bila hanya mengamati tinggi tanaman, bobot tanaman yang nota bene pengamatannya murah, kita tidak akan tau apakah benar berbagai metode induksi pengumbian berhasil membuat giberilin rendah?
Akhirnya, kita berasumsi, menduga, bila terjadi induksi pengumbian, berarti giberilinnya rendah..
Padahal kan belum tentu..

Tanpa melakukan analisis lab, selain menyebabkan penelitian bias, tentu penelitian kita hanya ecek2 saja..
Saya katakan ecek2 saja karena selalu mengacu orang lain..
Berdasarkan penelitian si fulan, bla-bla..
Kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang baru..
Makanya jarang nama peneliti Indo menjadi rujukan internasional..
Memang ini tentang prestise, tapi untuk memenuhi rasa curiosity?
Banyak hal penasaran dalam penelitian tidak akan terjawab..
Akhirnya, ya penelitian kita hanya begitu2 aja..
Mengulang2 yang kita sudah tau..
Akhirnya?
Kita ketinggalan dengan negara lain..   
Padahal biasanya negara maju harus punya Research & Deveoplment (R&D) yang maju pula..
Ah.. Entahlah