Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum

Senin, 14 Oktober 2013

Nilai Suatu Brand

Beberapa waktu lalu, ada status teman menceritakan betapa mahalnya harga benih wortel kalengan. Canda saya sih, yang mahal bukan benihnya, tetapi harga kalengnya. Tetapi sebenarnya ada makna implisit di dalamnya. Memang kalengnya yang bikin mahal, terutama brand atau merk dari kaleng tersebut. Mungkin kalau harga benihnya, semahal-mahalnya, ga akan terlalu jauh dibandingkan harga benih lokal lainnya..

Sama halnnya, saat saya bulan lalu jalan-jalan ke Thailand. Harga baju disana murah-murah, dan saat ditampilkan di mall di Indonesia, Innalillahi, berkali-kali lipat lah harganya. Masak harga baju 18 ribu, dijual 75-100 ribu. Mabuk bener. Pantes saja ada pameo, jualan apa saja di Indo bakal laku, apalagi kalau pake model iklan artis. Huff.. *jadi inget model iklan hp tertentu* Sampe pernah kepikir, pengen jualan baju Thailand. Tapi pas dipikir, jualan dimana, toko mana, siapa yang ngurusin, hehe.. batal deh..
Tas beranak tas, akibat murahnya produk Thailand, di Bandara Svarnabhumi,
Brand, merk.
Terkadang bikin sirik kalau tahu biaya produksinya yang rendah, tapi hmhm.. biaya pemasarannya yang gila-gilaan. Bikin toko baju *entah yang ada fisik maupun hanya online*, ngejualin barang hingga dikenal konsumen, perlu waktu, tenaga, modal, dan pikiran yang gila-gilaan juga. Terkadang, sampe nge-hire konsultan bisnis yang hitungan gajinya per jam. Hihi..

Ga usah jauh-jauh deh kasih contoh. Saya jualan benih kentang, bisa dibilang dari yang berdarah-darah deh. Meskipun produk bagus, tapi kalau belum dikenal, belum dipercaya, mo bilang apa. Padahal pemain lama di perbenihan kentang juga banyak, dari yang modalnya besar dengan jaringan yang kuat hingga yang bermodal kecil. Padahal bayar cicilan, terus berjalan. Kalau dapat investor yang mau ngerti sih, Alhamdulillah. Kalau engga, bisa berburuk sangka deh ke kita. Belum lagi kalau ditipu oleh konsumen, apalagi kalau konsumen itu teman dekat sendiri, petani sendiri.. Atau tantangan lingkungan saat ini yang ga jelas begini. Hihihi..

Saya jadi teringat suatu pemahaman bahwa hidup tidaknya suatu usaha dilihat dari 5 tahun pertama. Hehe, bener juga, karena masa-masa itulah, bisa ga bertahan saat pemasukan belum stabil atau malah pemasukan stabil tetapi karena kaya mendadak, jadi boros dan duit tidak berputar. Hihi..
Sebenarnya saya salut pemikiran wirausaha dari Jepang yang mengatakan, 3 tahun pertama usaha, yang penting adalah bertahan, tidak perlu memperhitungkan untung dulu. Ibaratnya, belajar dulu.
Sementara, kalau bisnis di Indo, patokannya kalau bisa untung di awal lebih bagus. Bila ga untung di tahun awal, segera lah cari usaha lain. Hehe padahal, justru di tahun awal, mestinya kita banyak-banyak belajar, memperbaiki kesalahan, mencari strategi terbaik. Emang berat sih, ga untung 3 tahun? mana tahan deh, tapi memang begitulah dunia usaha *kayak saya yang sudah hebat aja ya, maaf* Makanya, wirausaha di Indo cuman sedikit, ga stabil. Pas ada sedikit goncangan, langsung gulung tikar. Tuh, yang hebat petani lho, ilmu susuganan musim depan lebih baik, membuat petani terus bertani.. hehe

But, setapak demi setapak, dengan dikenalnya produk kita, konsumen akan mencari produk kita sendiri. Kalau perlu, diomelin atau dimarahin konsumen karena dia ga kebagian produk kita. Kalau yakin kita bagus, Insya Allah, semuanya pasti ada jalannya..

So, brand, merk adalah representative dari diri kita. Mahal atau murah sangat relatif. Bila mahal tetapi terjamin mutunya, bisa saja akan terus dicari konsumen setianya. Tapi kalau saya, mending ikut harga pasar deh, ga usah mahal-mahal, yang penting modal bisa keputar..

Kasih Modalnya Dulu, Bu..

Terus terang, saya paling bete kalau ketemu petani atau wanita tani, yang bila dibimbing atau dibina, terus jawabannya, kasih modalnya bu, mau ngasih uang berapa bu, bantuannya mana? Atau jawaban-jawaban sejenis.. *keluar tanduknya*

Yup, sebagai pelayan masyarakat, PNS, sudah sewajarnya saya membina petani. Kebetulan ada satu kelompok wanitatani (KWT) yang nyebelin banget. Kayaknya, penanggungjawab kegiatan dulu salah pilih lokasi deh, kebetulan dapet KWT di lokasi yang banyak buruh pengrajin gitu, jadi mungkin dikit2 ngitung duit. Waktu sekretaris diajak pertemuan, eh katanya dia malah ikut pertemuan lain yang uang duduknya bernilai 70 ribu. Blaik

Awalnya, saya merasa tertantang untuk ngebenerin KWT ini, tapi saat saya denger jawaban menyebalkan itu saat saya ajak untuk membuat usaha produktif seperti pengolahan pangan. Kasih modalnya dulu bu.. huuuu.. emangnya gue emak elo ape!! Langsung  ill feel deh.. Wah, klu urusan mental gini, kayaknya bukan wewenang saya deh..

Menurut saya, jawaban seperti ini, ibaratnya tanda titik. Sulit dibenerin, perlu hidayah yang akan merubahnya. Tipe orang begini lah, yang sering bikin program pemerintah macet. Pas dikasih bantuan, ok, tapi setelah program habis, ya habis pula kegiatannya. Seandainya semua petani bermental seperti itu, mo berapa milyar, juga akan abis.

Manja. Yup, banyaknya program bantuan dari pemerintah akhir-akhir ini bikin masyarakatnya manja. Dikit-dikit duit. Akibatnya, aparatnya juga pengen ikutan kebagian. Terkadang perlu sogokan ke aparat agar lokasinya dapet jatah bantuan. Saya jadi ingat, betapa ngamuknya pemilik heuleur karena ga jadi dapat bantuan padahal sudah setor uang muka hufff..