Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
Tampilkan postingan dengan label aeroponik kentang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aeroponik kentang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2017

Kuncinya hidroponik : Nutrisi

Minggu kemarin, happy saya mendengar laporan pegawai saya. Nutrisi vegetatif khusus untuk pembibitan saya tokcer. Ga saja bikin pertumbuhan vegetatifnya cepat, tapi juga muda terus. Udah berkali2 distek, tapi induknya ga tua2 juga...

Alhamdulillah... Jangan bikin geer saya ya, kata saya ke pegawai saya... Insya Allah engga Bu. Bahkan saya juga heran, Bu..

Alhamdulillah, tahun ini saya agak longgar. Tidak terlalu banyak proyek. Insya Allah, bisa fokus lagi di penelitian kentang... Kebetulan memang proyek pribadi sudah menunggu. Termasuk, pengen ikut2an melirik bisnis nutrisi...

Nutrisi, bisa dibilang salah satu kunci sukses benih kami. Setelah ditanam, benih kami relatif lebih Vigor dan tahan penyakit. Saya sendiri kadang heran... Kok bisa ya... Hehe... Biasanya sih, laporan dari konsumen. Bu, tanaman tetangga saya sudah kena lodoh, sedang punya saya masih seger... Alhamdulillah...

Terkadang, saya suka sedih bila denger nutrisi hidroponik dibabat habis semua sama. Paling banter, dibedakan antara sayuran daun dan buah. Atau, untuk vegetatif atau generatif. Ok lah buat hobis. Tapi untuk bisnis, oow... Sayang lah... Sayang, investasi hidroponiknya, menurut saya...

Dan, selama ini, bila diperhatikan, kebanyakan masih fokus terhadap berapa EC saja, atau brp ppm konsentrasi suatu hara. Padahal, yg ga kalah penting adalah rasio antar hara tersebut. Amonium/nitrat, kalium/nitrogen, fosfor/nitrogen dst.... Dan itu pun harus disesuaikan dg fisiologi tanamannya. 

Seru sebenernya. Dan untuk mengetahui mana yg terbaik, ya harus dicoba. Itulah mahalnya ilmu. Jangan salah, saya juga pernah gagal Krn ilmu coba2 ini. Makanya, coba2nya dikit aja ya... Hehehe...

Eitsss... Saat ini kami belum menjual nutrisi ya... Belum mampu produksi sendiri... yup, kendalanya sih bahan baku dlm jml besar biar efisien (ngaku aja, modal deh)
daaaan blm py waktu... heheh... Doakan saja dalam tahun2 ini...

Ok deh, selamat mencoba yaaa

Sabtu, 08 Agustus 2015

Kenapa benih kentang JM Farm unggul? Ini dia...

Pengen share, kenapa ya, kok benih saya unggul? Menjawab pertanyaan konsumen saya, daripd berulangkali jawab.. Alhamdulillah, permintaan terus naik ;-)

#1# generasi stek planlet
Alhamdulillah, perbanyakan stek planlet kami ga sampe lebih dari 3 kali. Bahkan dg rutinnya pesanan planlet kami dari balitsa, akhir2 ini, benih G0 kami adalah hasil dr stek pertama. Boros? emang..
Tau kan, sbg perbanyakan vegetatif, stek, smkn sedikit jml perbanyakan stek, smkn bagus. Yup, seneng liatnya, steknya muda2, seger2.. smkn sering distek, biasanya smkn cepet tua, produksi menurun. Emang sih, tergantung pemeliharaan, tapi utk memastikan produk kami unggul, ngapain ngirit planlet.. konsumen senang, kami juga senang kok..
Bagaimana agar cara kualitas stek kami unggul, hehe.. itu mah sudah berdasarkan research kami dong.. Mau berbeda nyata ato tidak scr statistik, tetep aja stek pertama paling bagus..
Saya jadi inget, ada yg bisa merawat hingga stek ke-100 tetep muda.. iya kali, bisa tetep muda. Tp bagaimana produksi keturunannya?

#2# media tanam hidroponik
Utk yg hidroponik, sepele ga sepele deh, tapi sampe sekarang terus diteliti untuk mendapatkan yg ideal dikombimasikan dg teknologi lain.. silahkan cek publikasi ilmiah saya dg real name.. ;-) kenapa menjadi penting? Karena umbi kentang kan ada di dalam tanah, so?
Steril? So pasti dong, dg luasan yg kami punya, perlu advanced technology utk mendapatkan cara ekstra agar media bener2 steril, bebas patogen tular tanah..

#3# nutrisi AB Mix andalan
Hehe.. nah, ini kunci segalanya.. nutrisi kami dirancang agar vegetatif yg tinggi bener2 ditujukan untuk pertumbuhan umbi. Kami bener2 atur agar nitrogen yg digunakan yg disukai umbi, bukan yg justru menggembosi umbi. Batang kami perkuat agar dpt menghasilkan umbi berkualitas. Lagi2 karena perbanyakan melalui umbi merupakan perbanyakan vegetatif yg diturunkan, maka ga heran keturunannya juga ok.
Once again, jangan nanya formulanya ya. Dan punten, ga dijual pula.. hehe..

Hasil di lapang, selain berproduksi tinggi, biasanya tahan hama penyakit dan umur panjang. Meskipun Granola L, umur tanaman bisa 120 lebih, terutama bila ditanam di dataran tinggi melebihi 1200 mdpl.. ga kalah d3h dengan varietas yg umur panjang..

Sabtu, 18 April 2015

Rasio Hara dalam Nutrisi

Minggu lalu, saya jalan2 ke lapangan.. Dinas luar pertama secara legal ke lapangan, setelah perdebatan mengenai status kerja saya..

Awalnya sih, cuman mo cari petani dan lokasi calon penelitian, tapi kok, si calon punya tanaman hidroponik juga.. biasalahhh, saya mampir pengen liat.. hmhm.. biasa aja sih, tapi yang menarik adalah petani tersebut menggunakan nutrisi ab mix dari toko x untuk tanaman daun karena tanamannya petsai, kale, dan kangkung.. Dilihat jenis tanamannya, sebenarnya jelas kebutuhan haranya berbeda, meski sama2 tanaman daun..

Ah, saya jadi ingat cerita toko x yang cerita banjir order, pesanan nutrisi dg formula tertentu untuk di repacking dg merk tertentu. Hehe.. sampai sekarang, saya belum berniat ikut2n jualan nutrisi. Tepatnya blm sempet.. yang sekarang aja saya kedodoran kok. Kecuali saya jadi pindah kerja.... hehe..

Dalam nutrisi, biasanya hanya konsen pada konsentrasi, berapa ppm atau paling banter berapa ec or ph nya. Yup bagi pembeli, tapi bagi penjual? Semakin tidak spesifik keperuntukannya, semakin moderate pemilihan haranya. Ya, tentu cari hara yang amanlah. Bila bingung kok sama2 untuk tanaman daun, harga bisa beda, hasil juga beda. Ya iyalah, wong kandungannya bisa jadi beda.

Dari dulu, saya sangat tertarik dengan rasio hara. Misal antara amonium dan nitrat, dan perbandingan hara lain dengan nitrogen. Setiap tanaman memiliki ke khas-an tertentu terhadap hara. Contoh, kentang tentu ga mau kebanyakan amonium. Dalam satu tanamanpun, beda tahapan pertumbuhan, beda pula kebutuhan dan rasio haranya.. Contoh, masa vegetatif tentu beda dg generatif lah ya.. Mumet ya? Bagi saya justru itulah yang menarik.

Wah, kalau harus njelasin setiap hara.. bisa satu mata kuliah sendiri. Alhamdulillah, S2 saya Ekofisiologi tanaman. Silahkan baca bukunya Marchner. Mungkin bagi budidaya konvensional di tanah, hara ga ngaruh2 banget, sampe bikin tanaman mati. Tapi kalau untuk hidroponik, hehe.. wajib baca deh..

Bagi hobis, tentu ga usah repot bikin nutrisi sendiri, jatuhnya bisa mahal, tapi bagi yang komersiil, hehe.. bikinlah sendiri. Anda akan terkejut perbedaan hasilnya. Bisa saja mati, tapi Inshaa Allah, kemudiandapat formula terbaik. Percuma nanya ke produsen nutrisi berapa kandungan haranya, ga akan dijawab.. hehe..

Apakah saya sudah dapat formulasi unggulan untu kentang? hehe.. once again not yet.. masih terus dicari..


Kamis, 17 Juli 2014

Teknologi penangkaran benih kentang : input mini or opti?

Horeee, akhirnya ada yang sependapat dengan saya..

Selama ini, saya ga sependapat dengan mahzab bahwa teknologi produksi benih kentang harus minimum input agar diperoleh umbi yang kecil, yang cocok untuk benih. Bahkan konon kata pihak sebelah, bila input optimum menyebabkan tanaman berikutnya tidak akan berumbi, hanya sibuk membentuk daun saja..
See? Sorry...

Saya biarin mereka berpendapat seperti begitu. Saya mo ngeyel, ntar dibilang siapa gue. Masih muda, anak baru pula diperkentangan. Mana mahzab pihak sebelah itu, konon, rekomendasi JICA..

Alhamdulillah, minggu ini saya dapet temen yang setuju dengan pendapat saya..
Alhamdulillah, arah kepenasaran kami sama..
Alhamdulillah, kami bisa kerjasama penelitian untuk membahas itu..
Let's check it out letter on..

Rabu, 11 Juni 2014

Kenapa Benih Aeroponik Unggul?

Saya sendiri bingung, kenapa benih aeroponik bisa bagus. Lho kok?
Lebih tepatnya, mungkin apa yang bikin aeroponik lebih unggul? Something?

Ya, secara teori, saya tau kelebihan aeroponik dibandingkan konvensional. Intinya, karena semua hara bisa diserap oleh tanaman, sehingga efisiensi penyerapan hara tinggi dibandingkan sistem tanam lain. Mana makanannya nutrisi lengkap pula, hara makro dan mikro. Jadi bisa diatur arah pertumbuhannya. *Tapi, jangan coba2 nanya nutrisi ke saya ya.. Maaf.. *


Sehebat itukah nutrisi sampe produksi nantinya bisa setinggi itu? Sekuat apakah, sampe tanaman juga ikut2n ga mudah terserang hama penyakit?
Alhamdullilah, generasi lanjut aeroponik tetap bandel lho..


Calon benih G2 dari aeroponik yang sudah dipanen untuk tanam September 2014
Barusan denger dari hubby, yang cerita petani mitra kami. Sebagian tanaman kami dipanen orang lain, alias dicuri. Innalillahi.. Hal ini karena sebagian besar kentang di sekitarnya sedang gagal kena phytoptora, sedangkan punya kami tidak, sehingga kentang menjadi langka dan jadi sasaran maling deh.. Alhamdullillah, masih bisa dpanen, daripada yg lain, yang ga bisa dpanen sama sekali krn gagal.. Tapi kok bisa ya, yg lain gagal, sedangkan punya saya tidak..
Bukannya nyombong, tapi sebagai peneliti, saya juga penasaran secara scientific lho..

Lho, katanya penelitiannya aeroponik?
Yup, bener banget. Tapi kebetulan, fokus penelitian saya bukan yang itu. Saya anggap informasi keunggulan aeroponik itu benar dan memang kenyataannya begitu. Ngapain saya harus ulang suatu hal yg pasti benar. *ngeles.com*
Pengen tahu sih, tapi alasan lain yang sebenarnya adalah mahal boo. Saya mengajukan penelitian dengan uji2 laboratorium untuk analisis kimia dan anatomi, selalu gagal karena terlalu mahal. Padahal, seandainya saya tau apa sih kunci utama pengungkit peningkatan produksi kentang aeroponik, siapa tau, saya bisa lebih meningkatkan produksi aeroponik saat ini.. Rekayasanya lebih mantep gitu.. Huff..

Kesalahan lain, nasib saya pula, sebagai peneliti terapan dilarang nguji yang dasar2 gitu. Mo pindah? Ga boleh... Huff (lagi). Ok deh, saya teliti sendiri atas biaya sendiri. Oh my God. Gara-gara renumerasi, absen ketat, kapan bisa ngamatin oy.... Belon lagi dikasih tugas-tugas lain..
Am I in the wrong place?

Kalau sudah begini, saya cuman bisa cemberut. Kapan kita bisa mengalahkan negara lain, kalau penelitian kita selalu berdasarkan asumsi, pendapat orang lain. Kenapa bukan kita cari sendiri asumsi itu. Kan, asumsi mereka belum tentu sama dengan kita..
So, siapakah "something" itu? Meskipun sudah saya duga, tapi karena belum nyoba sendiri, ya saya hanya bisa berasumsi.. 

Selasa, 10 Juni 2014

Pengolahan Keripik Kentang : Granola vs Atlantik

Melanjutkan cerita soal jalan-jalan kentang kemarin. Saya main ke home industri olahan kentang, Atlantik dan Granola. Mungkin saya menyoroti yg keripik saja ya..

Seru juga main ke keripik kentang granola ini. Pertama, karena saya suka banget makanan ini, jadi ngobrol sambil nikmatin kripik ini terasa nikmat.. wkwkw.. kedua, tentu sharing ilmunya yang bikin otak terus muter. Selain tentang bioindustrinya yang baru saya tau, saya juga belajar prosesing keripiknya. Kebetulan pekerjanya sdg kerja, jadi jelas bisa tau step2nya. Maaf, ga bisa dibagi foto2nya karena takut dicomplain sama yg punya.

Intinya, permintaannya masih terbuka luas, bahan baku juga ga masalah, tetapi pengeringnya yang terbatas. Pengering matahari tergantung musim, sedangkan pake mesin.. gigit jari sama mahalnya bbm deh..
Sebenarnya, menarik juga bisnisnya. Dari dulu pengen terjun sampai ke pengolahan, tapi belum kesampaian. Menguntungkan sih, tapi perlu modal yang lumayan booo, bila dihitung siklus produksinya..

Nah, yang atlantik, sebenarnya juga lebih menarik daripada granola. Baru ngeh saya. Sebagai fans berat keripik kentang, baru tau kenapa terkadang dapat keripik yg enak gurihnya dan yg biasa2aja. Meskipun sama2 pake vetsin, ternyata yg atlantik lebih gurih lho. Beda deh rasanya. Jelas dong lebih mahal. Kebetulan yg saya datangin, modalnya cekak. Jadi meskipun menguntungkan, tp ga bisa produksi maksmal & kontinu karena stok bahan bakunya yg terbatas.

Kalau stok terbatas & menguntungkan, kenapa saat ga ada stok atlantik, bikin aja yg granola. Ternyata dia mau spesialisasi atlantik saja karena margin keuntungannya yg lebihtinggi.. Oow.. Harga bahan baku lebih murah karena afkir, tapi harga jualnya tinggi. Hmhm.. saat dikejar kenapa ga mau produkai keripik granola skala besar, terrnyata, kemampuan produksinya memang ga bisa besar, karena keterbatasan modal & sarana prasarana prosesing..

Hmhm.. seru juga.. selengkapnya, tunggu jurnal saya dong..
Entah kenapa ya, suatu saat saya merasa bakal punya pabrik olahan kentang sendiri.. Amiin YRA.. Saling mendoakannya. Jazakallah bagi yg meng-amini..

Sabtu, 07 Juni 2014

Tumpangsari Kentang-Cabe atau Penangkaran Benih Kentang? : Kasus 1

Satu hal lagi, yang ingin saya bagi. Saya dikasih PR agar jumlah penangkar benih kentang meningkat. Banyaklah ceritanya, yang nanti akan saya bagi di tulisan jurnal saya.. Tapi, ada satu yang menarik dari eyelan petani muda saya..

Dia ga mau menjadi petani penangkar kentang karena tidak boleh tumpangsari. Ya iyalah, mana boleh. Alasannya klise, dengan tumpangsari maka dia memperoleh pendapatan 2 kali.

Bila tumpangsari kentang dan cabe, keduanya ditanam bersamaan. Saat kentang dipanen, tanaman cabe sudah mulai agak besar. Satu bulan kemudian, cabe sudah dapat dipanen hingga 2-3 bulan. Dengan demikian bisa menghemat waktu kosong. Selain itu, cabe yang diawal tanam ternaungi kentang, pertumbuhannya lebih bagus karena membantu menjaga kelembaban tanah. Kelebihan lain tumpangsari ini, bisa berbagi input produksi, terutama pupuk dan pestisida.

Namun ada kelemahannya. Katanya, produksi kedua tanaman ini tidak bisa maksimal. Mungkin hanya 70% saja. Namun demikian, biaya produksi sudah pasti tertutup dari penjualan kentang. Nah, tanaman cabe dianggap sebagai kelebihan pendapatannya. Kalau harga bagus, bisa 2 kali lipat keuntungannya kentang. tapi kalau harga sedang turun, ya tidak mengapa. Toh, sudah tertutupi dari kentang bukan.. 

Lihat cabenya yang kecepit ditengah
Kondisi cabe saat panen kentang.. Sama-sama tidak maksimal
Saya dalami mengenai penurunan produksi kedua tanaman tersebut. Buat apa capek2 menanam tumpangsari, apabila produksi maksimal tidak dapat diperoleh. Saya mengatakan begitu karena melihat kondisi tanaman kentang yang tidak maksimum. Sementara cabenya juga ga begitu memuaskan. Katanya, setelah kentang panen, pertumbuhan cabenya bisa menyusul dengan menggenjot pupuknya..

Hehe.. Mungkin dia sudah merasa puas memperoleh hasil kentang yang hanya 10-15 t/ha saja..


Dikejar lagi, ternyata dia berasumsi, bila harus jual benih kentang 3 bulan lagi setelah panen, terlalu lama uangnya mengendap.. Dengan tumpangsari, uangnya bisa muter.. wkwkw.. Ternyata, ketemu deh akar permasalahannya. Bila benih kelas atas seperti G2, bolehlah kita simpan benih bu, tapi kalau hanya kelas benih bawah, ga sepadan kita puasanya..
Oala, memang ini yang menjadi momok sebagian besar penangkaran benih kentang :)
Saya jadi penasaran menghitung analisis ekonominya kedua jenis usahatani tersebut.. Tunggu ya..

Bioindustri pada Kentang

Rabu kemarin, saya ke Pangalengan. Ada pengalaman unik yang ingin saya bagi..

Saya kebetulan diminta agar suatu program kegiatan kentang bisa dikaitkan dengan ternak. Integrasi tanaman ternak begitu agar terbentuk bioindustri yang berkelanjutan.

Ih.. maksa amat sih. Tanaman kentang kan mengering saat mati sehingga limbahnya tidak dapat digunakan untuk pakan ternak. Meskipun kotoran ternak sudah biasa digunakan untuk pupuk organik tanaman kentang. Jadi ga bisa zero waste bener, karena hanya satu sistem saja, engga bisa bolak-balik..

Berhubung program tersebut berupa agribisnis kentang, yang artinya harus dari hulu hingga hilir, yang berarti dari benih hingga pengolahan kentang, terpaksa deh harus didalami semuanya. Salah satunya saya main ke home industry kentang di Pangalengan..

Ternyata, untuk granola, pengupasan untuk menjadi kentang harus tebal-tebal agar keripiknya bersih. Dari 200 kg kentang bisa menghasilkan 50 kg limbah kulit kentang. Nah, limbah tersebut ternyata sudah digunakan sebagai campuran pakan sapi perah dan itik. Hasilnya, kualitas susu meningkat dan bobot itik lebih tinggi..

Wuih.. kereen nih, saya ga perlu pusing-pusing bikin model bioindustrinya, tinggal mengidentifikasi dan merumuskannya. Yang bikin saya happy, biasanya model integrasi ini masih pada sistem produksi, tanaman ternak. Nah yang ini, justru antar sistem. Sistem produksi-sistem pasca panen, karena integrasi terjadi antar ternak dan limbah industri pengolahan kentang. Horeeee...

Sekarang, pekerjaan rumahnya, bagaimana memperluas model ini. Saya tau ini sulit karena berada pada sistem yang berbeda.. Perjalanan panjang dan berliku..
Liat saja nanti..

Senin, 17 Februari 2014

Meluruskan Konsep Hidroponik : Oleh-oleh Pelatihan Hidroponik 2

Lanjutan

Kembali ke laptop..

Tentang materi...
Ada satu yang mengganjal dari pelatihan tersebut.
Dikatakan, disebut hidroponik karena budidaya tanpa tanah. Kenapa ga boleh pake tanah? Jawaban dia karena tanah tidak steril dan ga inert.

Perlu saya luruskan disini, tanah mengandung hara makro dan mikro yang tidak diketahui berapa jumlah tepatnya. *Bisa sih diketahui, tapi jumlah tepatnya harus dicari dengan uji laboratorium* Berhidroponik berarti menggunakan nutrisi buatan yang terukur, agar diperoleh produksi yang diinginkan. Maka sulit dong nentuin berapa nutrisi yang harus diberikan bila menggunakan media tanah. Beda bila menggunakan media yang tidak ikut berperan menyumbang tambahan hara seperti pecahan genting atau sekam bakar, karena gampang dihitung berapa nutrisi yang harus diberikan. Jadi media disini lebih bersifat sebagai penopang tumbuh saja, bukan penyumbang hara.

Sama halnya dengan, mungkinkah berhidroponik dengan nutrisi alami/organik. Pertanyaannya, bagaimana ngukur kandungan nutrisi alami tersebut? Nutrisi alami tersebut mengalami proses reaksi alami seperti pelepasan N, yang sulit diukur tepatnya. Terus gimana dong nentuin berapa nutrisi alami yang harus diberikan, misalnya pada kasus aquaponik.

Bukan berarti berhidroponik dengan tanah atau nutrisi alami menyebabkan tanaman jadi mati, tetapi budidaya tersebut tidak bisa disebut hidroponik lagi atau tepatnya, kehebatan hidroponik ga kelihatan. Emang sih, banyak salah kaprah di kalangan umum. Biarin dah, yang penting nanem deh. Bagi hobiis atau ibu-ibu untuk keperluan rumah tangga, ga masalah, tetapi untuk bisnis, hehe.. output maksimal dengan keuntungan sebesar-besarnya sulit diperoleh.. Namanya juga hobiis, yang penting tanaman tumbuh, bisa dipanen, ga begitu peduli berapa kg produksi, asal bisa dimakan atau seberapa cantik penampilannya atau seberapa enak dimakan karena dinikmati dan dimakan sendiri. Kalau untuk bisnis? hehe..

Kenapa begitu? Taukah kehebatan hidroponik? Dengan dapat menghitung berapa nutrisi yang harus diberikan, kita juga bisa memprediksi produksi yang akan diperoleh. Kalau di media tanah, sulit hal demikian bisa diperoleh karena terkadang tanah mengikat hara, sehingga prediksi produksi meleset. Sedangkan dengan hidroponik, Kita bebas menentukan berapa produksi yang dicapai. Ada yang suka memberikan EC tinggi (terutama untuk sayuran daun) agar tanaman bisa cepat panen, waktu hemat, sehingga diperoleh banyak musim, tapi boros nutrisi *tapi kalau emang lebih feasible sih, ga masalah kale*. Semua punya mahzab sendiri2 sesuai pengalaman dan teori yang diyakininya.. *ciecie*

Makanya, saya ga heran bila konsumen benih aeroponik saya terheran-heran dengan pertumbuhan tanaman kentangnya.. Katanya Granola L, tapi kok berbunga, bu.. Atau, heran dengan betapa bongsornya pertumbuhan kentangnya.. Yang, terkadang bisa melebihi tingginya orang.. Hehe.. Halow.. ini bukan genetis lho. Ingat, pertumbuhan tanaman itu merupakan interaksi antara genetis dan lingkungan dan........... Hidroponik berusaha mempengaruhi lingkungan agar berproduksi maksimum dan kualitas maksimum. Kuncinya, salah satunya ya nutrisi..
Jadi, sekali lagi jangan heran ya, dan pleasee... jangan ributkan lagi masalah berbunga dan tidak berbunga *silahkan baca postingan saya tentang berbunga, males ngomentarinnya sih*

Cari-Cari Inspirasi : Oleh-oleh Pelatihan Hidroponik 1

Minggu lalu, saya ikutan pelatihan hidroponik by praktisi. Ceritanya sih, cari-cari inspirasi. Kali aja ada yang baru atau mencoba berfikir out of the box, atau minimal nambah teman lah..


Ternyata, pelatihan tersebut, benar-benar untuk pemula dengan kapasitas peserta yang cukup banyak. Kebayang deh, jadi ga dapat apa-apa dari sisi materi. Tapi ada yang ingin saya sharing disini.

#1# Salut dengan animo pesertanya yang banyak. Sepertinya kaum menengah ke atas dan kebanyakan dari Jakarta.
Jujur, saya ngiri melihat banyaknya peserta, bukan masalah salary-nya. Saya adalah pelayan masyarakat, terutama petani. Saya sering mengundang pertemuan atau pelatihan kepada petani, tapi aduuuh, sudah dikasih ongkos, dikasih makan, yang datang ga pernah bisa banyak. Kenapa? karena petani saya kebanyakan masih miskin, yang masih mikir dapat duit berapa, bukan berapa banyak ilmu yang saya peroleh dari pelatihan. Grggr.. saya terkadang membatin dalam hati, petani-petani itu sadar ga sih, kalau banyak orang kaya yang berani bayar mahal untuk mendapat pelatihan dari saya, tapi tidak saya sanggupi karena saya DIWAJIBKAN lebih memperhatikan petani miskin yang susah diajak kaya.. wuih.. kasar amat ya..
Memang sih, setelah mereka paham betapa bergizinya pelatihan/penyuluhan yang saya berikan. Mereka tuman atau dikit-dikit SMS atau telpon bertanya ini itu ke saya. Terkadang, saya sendiri malah jadi repot *tuing tuing*

#2#Siapakah yang layak menjadi mentor?
Relatif. Salut juga dengan para praktisi yang berani membuat pelatihan komersil. Ga masalah sih, meskipun tidak berpendidikan pertanian memberikan pelatihan pertanian. Tapi mestinya, hendaknya belajarlah tentang pertanian, minimal dasar-dasarnya lah.
Saya pernah baca tulisan praktisi tentang hidroponik, dia bisa bercerita tentang pengalamannya mencampurkan nutrisi diikuti teorinya bagaimana reaksi pencampuran dan kesalahan2 yang dia alami. Salut, jam terbangnya dan dilandasi teori2. Terus terang, pengen sekali2 berdiskusi dengannya.
Tapi jangan salah, ada juga peneliti, akademisi yang text book. Cuman main comot dari buku sana-sini tanpa pengalaman yang jelas. Bahkan terkadang, saya juga prihatin bila ada mentor yang bukan bidang keahliannya, nekat mengajar. Tau cara membedakannya? Coba deh orang tersebut disuruh ngasih contoh, pasti gelagapan deh. Ya iyalah, misalnya orang ternak disuruh ngajar bikin benih bunga krisan.. Jangan salah, honor jadi mentor tuh cukup menggiurkan lho..

Setau saya, apabila pernah mendapatkan pendidikan sarjana pertanian, pasti pernah merasakan disiksa berbagai praktikum dengan laporan yang berjibun. Minimal, pernah nyangkut tentang dasar-dasar pertanian. Yang diobok-obok, minimal 4 tahun lah. Jadi, sebenarnya sayanglah, bila sarjana pertanian tidak menggeluti pertanian, dan bersyukurlah bila sarjana pertanian yang benar-benar mendalami pertanian *thanks God*

#3# Reportase iseng dari pelatihan tersebut...
Saya pindah-pindah kursi saat pelatihan. Maksudnya, biar kenal banyak teman. Dari sekian banyak teman itu, mereka mengajak agar saya ikutan bertanam hidroponik dan mengajari saya cara membuat persemaian.. Hehe... Salut deh buat semangat teman-teman baru saya...

Jumat, 17 Januari 2014

Mengatur Pertumbuhan Tanaman Kentang

Saya agak mengerutkan kening saya, saat teman senior saya lebih memilih budidaya kentang dengan input minimum untuk produksi benih kentang agar benih kentang yang dihasilkan kecil, tidak besar, seperti yang banyak diminati konsumen benih..

Dulu, saya juga berfikir seperti itu. Paling tidak, begitu jawaban saya saat ditanya ujian kualifikasi doktor dulu. Alhamdulillah, saat ditanya oleh dosen penguji saya luar saya, Bapak Dirjen Hortikultura, sudut pandang saya sudah berubah..

Karena satuan menjual benih G2 dst dalam satuan gram, maka konsumen lebih memilih benih kecil dengan jumlah yang banyak agar diperoleh lubang tanam yang banyak..
Setuju, bila dihitung alasan ekonomi, tetapi tidak setuju, bila memandang dari sisi prospek hasil. Saya yakin petani pun paham, benih yang ukuran besar, potensi menghasilkan umbi lebih tinggi, dengan catatan, petani yang berpengalaman lho ya.. Karena bila belum berpengalaman plus nanamnya di musim hujan, hehe.. malah bisa gagal panen deh..

Benih yang kecil, potensi hasilnya pun ikut kecil. Bahkan wajib didukung pupuk sgala. Kalau benih besar, terkadang ga perlu pupuk dasar, karena cadangan makanan dari umbi sudah cukup banyak. Silahkan cek saat panen, terkadang pupuk dasar masih nyisa, apalagi kalau lagi kering..

Kenapa harus berpengalaman?
Bila belum berpengalaman, benih yang besar akan menghasilkan benih yang besar pula, istilahnya kecelakaan... karena akan lebih banyak umbi yang dijual konsumsi daripada untuk jadi benih..

Alhamdullillah, musim lalu, saya bisa panen 44 t/ha dengan rata2 jumlah umbi lebih dari 15. Benih yang dihasilkan sedang2 saja. Tidak terlalu besar karena dibagi dalam jumlah umbi yang banyak, tetapi juga tidak terlalu kecil, karena pertumbuhan vegetatifnya cepat dan tinggi.

Dengan demikian pertumbuhan benih besar harus bisa diatur, bagaimana agar tidak fokus ke pertumbuhan vegetatif (daun, batang) dan segera beralih ke pertumbuhan umbi.
Caranya?
Hehe.. Silahkan jadi konsumen saya....

Sabtu, 04 Januari 2014

Teknologi Spesifik Lokasi Kentang

Sering orang latah menyebut Teknologi Spesifik Lokasi (TSL).. Yang bagaimana sih TSL itu?

Jaman dulu, kalau ingat padi pasti inget program panca usahatani (benih unggul, pupuk, irigasi, pengolahan lahan, proteksi tanaman). Dulu, program ini menjadi suatu paket teknologi dan berlaku umum di semua daerah, jadi semestinya diterapkan kelima2nya..
Saat ini dikenal pengelolaan tanaman terpadu (PTT) yang kemudian dikembangkan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu. Prinsipnya adalah terpadu, sinergis, spesifik lokasi, dan partisipatif. Terpadu dan sinergis dalam artian semua teknologi, sumberdaya manusia, sumberdaya alam saling dipadukan untuk memberikan efek sinergis yang lebih baik. Spesifik lokasi artinya pemilihan teknologi disesuaikan dengan lokasi. Partisipatif artinya perlunya keterlibatan semua pihak terutama masyarakat..

Kalau di padi dikenal teknologi utama (seperti benih unggul, varietas unggul, PHT dll) dan teknologi pilihan (intermitten, bibit muda tunggal dll)..
Kalau di kentang? Hehe.. Harus diakui deh, di Indonesia, kajian teknologi sayuran masih terbatas. PTT kentang gimana? Ada, tetapi kajiannya tidak semendalam padi..

Kembali ke TSL..
Produksi kentang di berbagai lokasi berbeda. Kalau melihat data, produktivitas tertinggi masih di Jabar. Bahkan, meskipun luas tanam kentang di Jateng lebih luas dari Jabar, tapi produktivitasnya lebih tinggi Jabar. Bisa karena sumber benih utama berada di Jabar, bisa juga karena SDM petani, stakeholder, dan instansi terkait di Jabar lebih berpengalaman. Tapi bukan berarti Jabar tidak bisa dikalahkan lho.. Artinya, jadi ancaman bagi Jabar, tetapi juga menjadi peluang bagi non Jabar..
 

Kalau bicara soal lokasi. Mungkin awalnya, bercerita tentang kebutuhan lingkungan tanaman kentang. Salahkaprah yang perlu diluruskan, bukan berapa meter diatas permukaan laut tanaman kentang optimal ditanam, tetapi berapa suhu yang diperlukan agar kentang berumbi. Yup, bagi daerah yang padat penduduk, meskipun sudah berada diatas 1000 mdpl, tetapi mungkin sudah panas. Bukan berarti yang sangat dingin akan berumbi paling banyak. Bahaya frost juga akan mengancam...

Tanah? Hehe.. Kesuburan tanah bisa dimodifikasi dengan pemberian pupuk, entah organik maupun buatan. Struktur tanah yang gembur bisa dimodifikasi dengan pemberian pupuk organik, tapi terkadang bahan induk tanah utama, agak sulit. Eh, bukan sulit ding, tapi mahal. Kombinasi tanah dan iklim yang mempengaruhi bahan induk tanah bisa jadi menyebabkan rasa kentang Dieng berbeda dengan kentang Pangalengan maupun Malang, meskipun sama satu varietas. 


Kombinasi tanah dan iklim ini tidak saja berpengaruh terhadap produksi umbi, tetapi juga serangan hama dan penyakit serta gangguan alam seperti angin yang kenceng.. Jangan salah lho, angin tidak saja bisa merubuhkan tanaman, tetapi yang bahaya adalah menyebarkan spora-spora penyakit, seperti busuk daun dll..

Perlu juga dipahami, budidaya tanaman sangat dipengaruhi oleh musim. Saat musim hujan, artinya lebih lembab dan banyak penyakit dan saat musim kemarau, lebih banyak hama dan harus sering nyiram. Konsekuensi logis ini akan mempengaruhi cara budidaya seperti ukuran dan umur benih, jarak tanam, pupuk, PHT dll..

Jangan salah pula, kemampuan SDM petani mempengaruhi suksesnya bertani. Bagi konsumen saya, saya selalu sedikit cerewet bertanya pengalaman dalam bertani kentang. Kebiasaan dia bertani. Bagi yang ngaku pemula, saya agak leluasa memberikan advise, but kalau udah advance, hehe.. ga berani kalau ga nanya.. Kecuali memang ada treatment khusus dari benih2 saya.. Oleh karena itu, panduan bertani kentang dari saya selalu saya kasih tanda nama konsumen, karena masing2 berbeda dan selalu saya update sesuai kemajuan teknologi yang saya peroleh berdasarkan penelitian saya..
Akibatnya, kadang konsultasi bisa berjam2n, tapi saya juga happy kok... Apa sih yang engga buat konsumen saya...  

Minggu, 14 April 2013

Jual Benih G2 Rp.15ribu/kg

Selama ini saya tidak pernah mencantumkan harga benih kentang saya. Meskipun ada kisaran harganya, saya juga terkadang melihat kondisi pasar, lagi mahal atau murah harga benih sekarang.

Alhamdulillah, hasil aeroponik saya terus meningkat. Rasanya sudah saatnya saya berbagi dengan penangkar benih generasi berikutnya di bawah saya. Ya, dengan kisaran harga pasar G2 saat ini 17-20 ribu per kg, rasanya saya bisa jual dengan harga normal Rp. 15 ribu/kg selama stok benih masih ada. Insya Allah, benih dapat ditanam bulan Mei-Juni 2013..

Silahkan hubungi saya by SMS, bila berminat.. :)

Jual Benih G2 Rp.15ribu/kg

Selama ini saya tidak pernah mencantumkan harga benih kentang saya. Meskipun ada kisaran harganya, saya juga terkadang melihat kondisi pasar, lagi mahal atau murah harga benih sekarang.

Alhamdulillah, hasil aeroponik saya terus meningkat. Rasanya sudah saatnya saya berbagi dengan penangkar benih generasi berikutnya di bawah saya. Ya, dengan kisaran harga pasar G2 saat ini 17-20 ribu per kg, rasanya saya bisa jual dengan harga normal Rp. 15 ribu/kg selama stok benih masih ada. Insya Allah, benih dapat ditanam bulan Mei-Juni 2013..

Silahkan hubungi saya by SMS, bila berminat.. :)

Senin, 01 April 2013

Training dan Etiolasi

Tadi saya main ke tempat hidroponik teman.. Teman? Bolehlah dibilang begitu, padahal baru kopi daratnya tadi pagi. Hehe.. Dengan kemajuan teknologi, kita memang bisa kenal dengan siapa saja, terutama bagi yang passionnya sama. Dalam hal ini mungkin passion kami, ya di hidroponik ini. Cuman, mungkin dia lebih banyak di jasa training dan peralatan hidroponiknya..

Sebenarnya saya kenal lewat FB, setelah sebelumnya tau dari teman S2 saya. Pengen juga ikutan pelatihan hidroponik darinya. Ga salah to, pengen tau ilmunya dia. Kan saya bayar:) Meski saya yakin, terkadang di pelatihan manapun, tidak semua ilmu dibagikan..:) Sayang, sampai detik ini belum bisa ikutan, karena terkendala jadwal. Pas saya bisa, eh, pesertanya kurang. Belum jodoh kali ya.. Untung, dia bersedia dikunjungi, meski bukan pas jam training.. Hore..

Sharing-sharing ringan lah.. Senang kenal orang2 muda yang rajin-rajin begini.. Cerita gimana usahanya, kasus dia, cerita gimana usaha saya, kasus saya. Tukar-tukar pengalaman.. Saya paling seneng ngobrol2 begini.. Meskipun sebentar, karena puanasnya minta ampun di Jogja..

Ada sedikit hal yang tidak saya setujui tentang pendapatnya. Yup, biasalah kalau dari pembibitan pindah ke tempat produksi, ada tanaman yang layu saat adaptasi di tempat baru. Katanya ga masalah, karena dia punya persediaan bibit yang banyak. Mungkin karena saking panasnya bila siang hari. Waduh, kalau menurut saya sih, sayang dong.. Sebisa mungkin jangan sampai ada bibit terbuang sia-sia.. Ato karena bibit dalam kasus saya berasal dari hasil kultur jaringan, yang notabene mahal kali ya.. Jadi saya bener2 "eman", sayang" dengan bibit2 saya.. Bisa jadilah.. Sementara dia kan bibitnya dari toko yang gampang belinya, murah lagi..

Bagaimanapun, entah bibit mudah atau murah, sulit didapat atau mahal, saya tetap memilih hemat bibit. Otak bisnis kali ya.. Nah, itu dia.. Dalam bisnis, semestinya kalau sudah bisa berproduksi dengan baik. Target lainnya adalah bagaimana produksi bisa tetap baik, tetapi dengan biaya seminimal mungkin. Bagaimana cara efisiensinya agar profit meningkat.. Rupanya teman saya ini, mungkin karena lebih fokus di jasa training, kurang memperhatikan sisi bisnis produksinyanya kali.. Ga ngirit, ga hemat.. hehe

Ngomong-ngomong soal cara adaptasi transplanting (pindah tanam), sebenarnya mudah. Tinggal kasih shading, entah pake paranet kali. Hanya di saat panas saja, kalau sudah sore, atau masih pagi dan dingin, ga perlu di kasih shading. Jadi paranetnya dipasang diatas tanaman dan mudah ditarik-tarik. Repot? Iyalah, karena bila dishading terus, bibit malah ga pinter2 berfotosintesis, malah mengalami etiolasi. Kekurangan cahaya. Tanaman yang kekurangan cahaya, biasanya akan tinggi, kurus, dan daunnya kuning..

Ngomong-ngomong soal pelatihan, saya ini paling hobi disuruh pelatihan, training, kursus. Ini mah udah bawaan orok. Dulu waktu sekolah, saya pernah ikutan kurus tari, silat, renang, dll.. Pas kuliah pernah ikutan kursus bahasa inggris, akuntansi, pajak.. apalagi ya... lupa.. Tujuannya dulu, cuman pengen punya banyak teman dan sekedar penasaran saja, pengen tahu. Nah, setelah tua gini, training saya lebih ke passion saya. Terakhir, sabtu kemarin, ikutan training NLP, hipnotis tentang selling.. Hehe.. kacau ya ilmunya.. Biarin lah, Insya Allah, bisa memperkaya ilmu saya. Ntar deh, kapan2 saya bagi..

Jumat, 15 Februari 2013

Benih kentang G0 itu apa sih?

Sebenarnya sudah lama pengen posting topik mengenai benih G0. Terutama mungkin bulan lalu, saat melihat foto tanaman kentang seorang member milis, yang katanya produksi G0..

How come?
Ada yang ganjil dengan judul foto tersebut. Katanya, produksi benih kentang generasi nol ramah lingkungan. Apa mungkin sih benih G0 bisa diproduksi secara ramah lingkungan?
Kedua, yang aneh fotonya. Saat saya tunjukkan foto tersebut ke hubby.. Sama komentarnya, produksi G0 kok ga pake rumah screen. Once again, how come..

Yup, bisa jadi, ga heran, kalau banyak beredar benih aspal di pasaran. Bukan saja petani konsumen yang ga paham, apalagi calonya, parahnya produsennya sendiri juga ga ngerti.
Pertanyaan lanjutannya, disertifikasi ga sih? Silahkan jawab sendiri deh
Hmhmhm.. .

Ok, Singkatnya, agar bisa dipahami.
Benih G0 dan G1 sama2 diproduksi dalam rumah skreen, rumah ketat serangga. Entah beratap plastik ato tidak, masih jadi perdebatan, tetapi konon, sekarang boleh tanpa atap plastik asal drainase bagus..

Bedanya G0 dan G1?
Produksi G0 tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Kebalikannya G1, boleh bersentuhan langsung dengan tanah, sehingga umumnya produksi G1 dalam bedengan tanah di dalam rumah skreen. Keduanya, boleh pakai tanah asal tanahnya steril baik dengan perlakuan panas ataupun bahan kimia..
Nah, dari sini juga ketahuan, tidak ada perlakuan sterilisasi tanah yang ramah lingkungan. Semuanya berniat mematikan mikroorganisme tanah. Agar benar2 patogen free too.. Artinya? Ga ada benih G0 atau G1 yang ramah lingkungan..

Jadi ingat diskusi antara saya, dosen pembimbing saya, Dr. Anas dan Prof.Fred Davis, pengarang Plant Propagation, yang pernah mampir ke aeroponik saya.. Dr Anas menyayangkan rusaknya tanah akibat perlakuan sterilisasi tersebut, tetapi dibela Prof Davis, karena produksi G0 dan G1 tidak luas..
So alasan ini, juga melatarbelakangi kenapa saya mengurangi produksi G1 dan meningkatkan produks G0 secara aeroponik.. Dengan aeroponik, tidak perlu sterilisasi tanah dong...

Kembali soal benih G0..
Siapakah pihak yang sertifikasi G0?
Dulu yang sertifikasi adalah pemilik lisensi varietas tersebut. Misalnya, Granola oleh Balitsa. Namun konon, mulai tahun ini, akan diambil alih oleh BPSB.. Let's check it out..

 
Apapun media produksi G0 asal tidak bersentuhan dengan tanah, it's ok..
Kalau aeroponik?
Jelas lah, umbi benih menggantung dalam bak aeroponik, sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Kontrol tanaman, stolon, dan umbi dalam bak aeroponik sangat mudah dilakukan, berbeda bila dibandingkan budidaya media padat (arang sekam, tanah, serbuk gergaji, dll)..
So bisa dibayangkan, kenapa benih G0 aeroponik punya banyak keunggulan dibandingkan yang lainnya..
Hehe.. Nunggu apalagi?
Pesan benihnya ke saya sekarang dong..
0812 19191 2065
  

Rabu, 23 Januari 2013

Akhirnya, inilah manfaat hasil penelitian G0 Aeroponik saya

Setelah dianalisis dan jadi draft jurnal, Alhamdulillah baru deh yakin percobaan saya berhasil meningkatkan persentase stolon efektif, yang berujung peningkatan jumlah umbi G0 aeroponik.. Habis, percobaan sebelumnya, perasaan hasil percobaan lebih baik, tetapi pas diuji statistik, ternyata ga beda nyata.. Huff..

Dan Alhamdullilah deh, yang terakhir, berhasil.. Bukan saja jumlah umbi yang meningkat, tetapi kualitas umbi meningkat, jadi lebih besar dan seragam bulat.. Less sessile tuber. Yup, selain memperhatikan umur fisiologis tanaman, perkembangan stolon dan umbi, jadi ketahuan kuncinya.. Dan, bisa ngikutin teknologi dari luar negeri sana, yang sebelumnya, ga mungkin dilakukan di Indonesia.. Insya Allah, akan terus ditingkatkan.. Penasaran? Tunggu sidang terbuka saya ya..

Konsekuensinya, Alhamdullilah, memenuhi permintaan benih G0 konsumen yang selalu kehabisan, screen saya yang semula untuk G1 akan saya ubah bertahap menjadi G0 aeroponik semua.. Rasanya, sudah cukup saya mendapatkan standart teknologi aeroponik, sehingga tinggal perluasan saja. Maklum, salah sedikit saja perlakuan di aeroponik, bisa bikin gigit jari. Meskipun masih banyak rasa penasaran saya yang belum   terjawab, tapi dengan berjalannya waktu bisa dijawab bertahap..

Saat ini saya lagi bangun instalasi aeroponik yang baru, dengan desain berdasarkan perbaikan sebelum2nya.. Ga perlu mahal, tapi Insya Allah dapat menjamin tanaman kentang untuk rajin berumbi..
Insya Allah, musim hujan depan, G0 saya bisa dibeli oleh khalayak umum
dan berita baik KHUSUS petani mitra G2 saya, Alhamdullilah, bisa mendapatkan benih G0 untuk produksi G2.. Artinya? Silahkan renungkan sendiri.. How good my seed is !!

Minggu, 23 Desember 2012

Rasio benih pada perbenihan kentang

Karena berangkat dari penelitian disertasi saya tentang benih G0, maka semua hasil panen, saya jual dalam bentuk benih. Tidak pernah saya memakan atau menjual kentang saya untuk konsumsi.. Makanya, kadang2 saya ditanya teman2 kantor ato sodara2 saya, mana nih kentangnya, kripik kentangnya dll.. dan saya pun hanya bisa geleng2 kepala.. ga ada.. hehe..

Dengan berjalannya waktu, saya tidak hanya memproduksi G0, tetapi saat ini saya pun memproduksi benih hingga G3. Saat mulai bekerja sama dengan petani dalam rangka produksi G2, baru deh kenal yang namanya kentang konsumsi.
Yah, setelah panen, umbi yang berukuran besar dijual untuk konsumsi, sedangkan umbi yang berukuran sedang disimpan untuk dijadikan benih.. Lumayan, penjualan kentang konsumsi berupa uang cash bisa digunakan untuk biaya musim tanam berikutnya atau malah buat dapur.. hehe..
Sedangkan umbi benih disimpan untuk tabungan 3-4 bulan kedepan.. Jadi, ya kira2 puasanya 6-8 bulan, baru dapat cash-nya..

Perbandingan umbi untuk benih terhadap jumlah keseluruhan umbi sering disebut rasio benih.. Berapa persentase umbi untuk benih akan mempengaruhi budidaya pertanamannya. Bila ingin umbi besar2, artinya akan lebih banyak umbi konsumsi daripada umbi benih. Perlakuannya bisa macam2, seperti pemupukan lebih banyak, jarak tanam diperlebar, pilih benih sumber umbi yang kecil dan tunas sedikit, umur panen diperpanjang.. Begitu juga sebaliknya..

Penentuan seberapa banyak rasio benih, sebaiknya sih tergantung isi dompet kita. Kalau ga bisa puasa agak lama, ya bikin umbi yang agak besar untuk jadi umbi konsumsi agar setelah panen, bisa segera dapat uang cash..

Kamis, 13 Desember 2012

Profesor Bule Nyasar ke Aeroponik JM Farm

Saya lagi happy nih, sampe2 sehari bisa 3x posting. Hehe..

Sudah 2 hari ini saya dikunjungi Fred Davies, Profesor horticulture science dari Texas A&M University. Pengarang buku Plant Propagation, gitu lho.  Konon, mantan presiden American Society of hort scie geto..
Sehari kemarin liat aeroponik kentang G0 saya dan tadi liat kentang G1 saya..
Kenapa bisa nyasar ketempat saya? Hehe, karena dibawa dosen pembimbing disertasi saya, Dr. Anas D. Susila, yang ahli hidroponik..
Hmhm.. lengkap deh..



Eh, sebenarnya ga lengkap ding, dosen pembimbing saya yang lain, Prof. Wattimena, ga ikut.. Padahal saya sedikit berdosa nih dengan beliau.. Habis, pernah datang ke Lembang, tapi malah saya ke Bogor untuk konsultasi.. Ga klop bangets nih, bapak dan anak..

Banyak hal yang kami diskusikan termasuk saran2 perbaikan untuk usaha kentang saya.. Kapan2 akan saya bahas ya.. Udah ngantuk nih..
But, yang bikin happy, mudah2n aje ye, beneran dia mo gantian ngundang saya ke negaranya..
Amiin 3x YRA..

Senin, 03 Desember 2012

Benih bersertiikat dan pengaruh lingkungan

Sedikit tergelitik mengenai perdebatan benih kentang asal Jabar dan Jateng.. Tentang tinggi tanaman, jumlah cabang, bunga/tidak, dan bentuk umbi..


#1# Apabila perbedaan benih kentang dilihat dari tinggi tanaman ataupun jumlah cabang tanaman, saya fikir kurang fair. Kenapa? karena tinggi tanaman dan jumlah cabang tanaman merupakan ciri morfologi tanaman yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan..

Ok, kita tahu bahwa produksi hasil tanaman (yield) ditentukan oleh genetis dan lingkungan. Meskipun genetisnya sama, bila faktor lingkungannya berbeda, akan memberikan yield yang berbeda pula.. Sama halnya, sama2 benih kentang varietas Granola L bila ditanam di Jabar atau di Jateng, akan memberikan hasil yang berbeda. Boro2 beda propinsi, sama2 nanem di Jabar pun juga bisa beda, atau bahkan dalam lingkup mikro, sama2 dalam satu lahan, hasilnya juga bisa beda bila lahan sisi kanan ternaungi sedangkan sisi kiri tidak, juga akan memberikan hasil yang berbeda..

#2# Perlunya memahami fisiologi tanaman
Ngomong2 soal ciri morfologi, tinggi tanaman biasanya berbanding terbalik dengan jumlah cabang. Pada kondisi ternaungi, biasanya tanaman tinggi (agak kurus) dengan jumlah cabang yang sedikit, sebaliknya, bila tidak ternaungi, tanaman relatif lebih pendek dengan jumlah cabang yang banyak.. Nah, klu kemudian ada perbedaan yield antara tanaman tinggi dan tanaman pendek, belum tentu disebabkan karena benih tersebut berasal dari sumber benih yang berbeda, atau genetisnya beda.. ya itu tadi, karena faktor lingkungan sangat berpengaruh..
Yang saya bahas, baru masalah perbedaan kondisi ternaungi atau tidak, belum faktor lingkungan lain seperti air, pupuk, dll... semakin tinggilah perbedaan hasil..
Juga masalah benih kentang berbunga atau tidak. Granola jarang berbunga. Tapi pada kondisi lahan subur, Granola dapat berbunga..


Oleh karena itu ciri morfologi merupakan ciri yang sangat dipengaruhi lingkungan, sehingga ciri morfologi hanya merupakan ciri tambahan/pelengkap dari suatu deskripsi varietas..  Beda dengan uji molekuler, yang pastilah terlihat bila beda genetis..
Namun demikian, bukan berarti ciri morfologi ga penting lho ya... Tetap penting bagi saya. Karena bisa menjadi ciri termurah sebagai warning untuk melihat bila ada masalah dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman..

#3# Namun demikian, bila menggunakan benih bersertifikat, semestinya perbedaan hasil akibat perbedaan lingkungan tidak akan menyebabkan sampai gagal total panen (kecuali perbedaan lingkungannya parah karena banjir, puanas pisan).. Hal ini karena benih bersertifikat semestinya bebas penyakit..

Tapi bukan berarti mentang2 pake benih bersertifikat, terus bisa bebas tanpa pengendalian hama penyakit sama sekali saat di lapangan lho ya.


Jaminan benih bersertifikat, paling tidak sampai benih bertunas tepat waktu, tunas muncul serempak dan tidak terkena layu (karena Pseudomonas, Ralstonia), kerdil (karena virus) hingga umur tanaman kurang lebih 30 hst.. Bila kemudian kena hama atau penyakit (misalnya Phytoptora), bukan salahnya benih bersertifikatnya, salah petaninya yang ga ngerawat tanamannya selama masa pemeliharaan tanaman..

Tapi ya klu belum juga bertunas pada waktunya, tunas muncul ga serempak, dan kena layu atau kerdil saat tanaman masih muda.. wadow.. anda tertipu benih aspal, asli tapi palsu, yang banyak beredar di kalangan para calo/makelar benih..
So, belilah benih langsung kepada si penangkar benih.. Beli ke saya maksudnya.. :)
Jaya Mandiri Farm (JMF), 0812 1919 2065