Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wirausaha. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Bisnis pertanian dataran rendah #2#

Lanjut posting sebelumnya..
Penyakitnya bisnis pertanian adalah kontinuitas. Sudah dapet kontrak, horeee.. giliran mo ngirim, terkendala stok. Karena hujan jafi banjir, karena kering ga ada air dst.. Susah? Emang iya, justru itulah suka dukanya bertani, beda kalau kita pedagang atau bandar. Makanya, kalau baru nanem satu musim berhasil, wajar. Coba deh rasain mumetnya nanem dengan berbagai musim tanam... lier..

Jadi bagi yang berniat terjun di pertanian, kita harus bisa menyediakan produk setiap saat. Caranya?
Bila punya tanah 1 ha, mo nanem kentang. Karena umur tanaman kentang 3-4 bulan, kita bagi lahan 1 ha menjadi 4 periode. Jadi kita harus dapat menanam kentang setiap bulan sekitar 0,25 ha. Sisanya tanam tanaman lain yang mendukung rotasi tanaman kentang. Artinya, ya jangan nanem dg tanaman sefamili solanaceae, terung2an, seperti cabe, tomat, terung..
 Kalau mo ideal sih, saya nganjurin salah satu tanaman rotasinya jagung, karena tanaman ini selain dapat mengundang bakteri baik, juga karena akarnya dalam bisa membantu pengolahan tanah yg ideal, meski repot ya. Atau kalau pengen memelihara kesuburan, tanem dengan tanaman kacang2an, yang dapat memfiksasi nitrogen. di akhir rotasi tanaman rotasi dg umur pendek dan low budget, seperti wortel misalnya.. monggo silahkan..

Menurut saya, yg sulit dalam managemen usaha, justru bukan teknologinya, tapi justru non teknisnya.
#1. Gimana pusing nyediaan saprodi tepat waktu dan berkualitas. Klu pupuk dan pestisida mah gampang, asal ada duit. Tp klu pukan, hehe.. emang sih hrs ada duit juga, tp kualitasnya hrs bagus, lebih baik buat sendiri.. itu kalau saya lhooo..
#2. Yg non teknis bgt tp nyebelin adalah tenaga kerjanya. Belum klu izin mendadak ato hehe.. cashbooooon.. wkwkw..

Lho lho, kok jadi cerita kentang sih, katanya komoditas dataran rendah.. wkwk maklum, yg ngomong org dataran tinggi sih.. gitu kata saya ke kakak angkatan saya. Tapi minimal konsepnya sama lah ya.. heheh...

Jumat, 11 Desember 2015

Bisnis pertanian di Dataran Rendah? #1#

Dua hari lalu, dibel kakak kelas angkatan Faperta UGM. Dia pengusaha ayam, sepertinya sih berhasil kalau dilihat di wall FB nya. Sudah lama dia konsul bagaimana memanfaatkan kotoran ayamnya dr populasi 80rb ekor. Dia pengen ikutan terjun di pertanian dan gagal2 aje. Apa sih bisnis menarik di pertanian dataran rendah? Ngobrol ngalor ngidul deh..

#1# Dia pengen hidroponik..
Hmhm.. Latah, maklum lagi rame. Tapi menurut saya, kalau ga punya pasar khusus, hanya dijual di pasar becek, berat ah.. Modal investasi hidroponik cukup mahal, harus dibarengi tidak saja peningkatan produksi, tetapi juga kualitas, sehingga bisa dijual di pasar khusus. Kalau hanya mengandalkan peningkatan produksi, terlalu riskan ah, tipis marginnya. So? Cari komoditas nilai ekonomi tinggi dan bikin kualitas yg bagus. Nah, hidroponik baru cocok. Saya sih ngusulin melon.
 Cumaaaaan...
#a. Ga bisa memanfaatkan pukan ayamnya lho, sesuai maksud tujuannya. Karena pure hidroponik, sebaiknya ga pake pukan krn malah mengikat haranya, jd malah tidak tersedia..
#b. Pelajari teknologinya. Key words nya sih bagaimana membantu penyerbukannya agar terbentuk buah yg diinginkan dan bagaimana nutrisinya, rasio nitrat dan amonium, agar buahnya manis..

#2# dia sudah coba2 nanem jahe merah..
Siiiiip. Kalau nanem jahe merah mah, trendsnya harus organik. Cocok banget tuh pukan ayamnya bisa dimanfaatkan, tanpa harus beli. Organik juga booming dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan. Siapa tau, ntar bisa ekspor organik. Who knows?
Cumaaaaan.. umur tanam jahe merah puanjaaaang. 8-9bulan. Hanya org2 kuat modal yang sanggup terjun. Dari sisi kompetitor, krn ga byk maka harga relatif stabil, tp pemainnya org2 kaya sih. Tapi rasa2nya celuknya masih dikit, jadi masih ok untuk ditekuni.
Nah, yang penting sekarang bagaimana skala usahanya... saya bahas di posting berikutnya ya...

Senin, 14 Oktober 2013

Nilai Suatu Brand

Beberapa waktu lalu, ada status teman menceritakan betapa mahalnya harga benih wortel kalengan. Canda saya sih, yang mahal bukan benihnya, tetapi harga kalengnya. Tetapi sebenarnya ada makna implisit di dalamnya. Memang kalengnya yang bikin mahal, terutama brand atau merk dari kaleng tersebut. Mungkin kalau harga benihnya, semahal-mahalnya, ga akan terlalu jauh dibandingkan harga benih lokal lainnya..

Sama halnnya, saat saya bulan lalu jalan-jalan ke Thailand. Harga baju disana murah-murah, dan saat ditampilkan di mall di Indonesia, Innalillahi, berkali-kali lipat lah harganya. Masak harga baju 18 ribu, dijual 75-100 ribu. Mabuk bener. Pantes saja ada pameo, jualan apa saja di Indo bakal laku, apalagi kalau pake model iklan artis. Huff.. *jadi inget model iklan hp tertentu* Sampe pernah kepikir, pengen jualan baju Thailand. Tapi pas dipikir, jualan dimana, toko mana, siapa yang ngurusin, hehe.. batal deh..
Tas beranak tas, akibat murahnya produk Thailand, di Bandara Svarnabhumi,
Brand, merk.
Terkadang bikin sirik kalau tahu biaya produksinya yang rendah, tapi hmhm.. biaya pemasarannya yang gila-gilaan. Bikin toko baju *entah yang ada fisik maupun hanya online*, ngejualin barang hingga dikenal konsumen, perlu waktu, tenaga, modal, dan pikiran yang gila-gilaan juga. Terkadang, sampe nge-hire konsultan bisnis yang hitungan gajinya per jam. Hihi..

Ga usah jauh-jauh deh kasih contoh. Saya jualan benih kentang, bisa dibilang dari yang berdarah-darah deh. Meskipun produk bagus, tapi kalau belum dikenal, belum dipercaya, mo bilang apa. Padahal pemain lama di perbenihan kentang juga banyak, dari yang modalnya besar dengan jaringan yang kuat hingga yang bermodal kecil. Padahal bayar cicilan, terus berjalan. Kalau dapat investor yang mau ngerti sih, Alhamdulillah. Kalau engga, bisa berburuk sangka deh ke kita. Belum lagi kalau ditipu oleh konsumen, apalagi kalau konsumen itu teman dekat sendiri, petani sendiri.. Atau tantangan lingkungan saat ini yang ga jelas begini. Hihihi..

Saya jadi teringat suatu pemahaman bahwa hidup tidaknya suatu usaha dilihat dari 5 tahun pertama. Hehe, bener juga, karena masa-masa itulah, bisa ga bertahan saat pemasukan belum stabil atau malah pemasukan stabil tetapi karena kaya mendadak, jadi boros dan duit tidak berputar. Hihi..
Sebenarnya saya salut pemikiran wirausaha dari Jepang yang mengatakan, 3 tahun pertama usaha, yang penting adalah bertahan, tidak perlu memperhitungkan untung dulu. Ibaratnya, belajar dulu.
Sementara, kalau bisnis di Indo, patokannya kalau bisa untung di awal lebih bagus. Bila ga untung di tahun awal, segera lah cari usaha lain. Hehe padahal, justru di tahun awal, mestinya kita banyak-banyak belajar, memperbaiki kesalahan, mencari strategi terbaik. Emang berat sih, ga untung 3 tahun? mana tahan deh, tapi memang begitulah dunia usaha *kayak saya yang sudah hebat aja ya, maaf* Makanya, wirausaha di Indo cuman sedikit, ga stabil. Pas ada sedikit goncangan, langsung gulung tikar. Tuh, yang hebat petani lho, ilmu susuganan musim depan lebih baik, membuat petani terus bertani.. hehe

But, setapak demi setapak, dengan dikenalnya produk kita, konsumen akan mencari produk kita sendiri. Kalau perlu, diomelin atau dimarahin konsumen karena dia ga kebagian produk kita. Kalau yakin kita bagus, Insya Allah, semuanya pasti ada jalannya..

So, brand, merk adalah representative dari diri kita. Mahal atau murah sangat relatif. Bila mahal tetapi terjamin mutunya, bisa saja akan terus dicari konsumen setianya. Tapi kalau saya, mending ikut harga pasar deh, ga usah mahal-mahal, yang penting modal bisa keputar..

Selasa, 14 Mei 2013

Tujuan Hidup dan Bisnis : KMB 2

Lama engga ngeblog euy.. Apa kabar semuanya?
Kalau lagi bete, bikin males ngeblog sih. Yup, bete nunggu jurnal internasional saya yang belum selesai direview :(

Pengen sharing hasil KMB (kelompok mentoring bisnis) ke-2 beberapa minggu lalu. Topiknya lebih kepada mengenali diri sendiri tentang tujuan hidup.. Passion, tallent, uniq experience, value, dan vision.. Kelima unsur ini ga boleh bertentangan dalam menjalani bisnis..

Bedanya passion dan tallent apa hayo? Passion lebih kepada hasrat yang kita sadari, sedangkan tallent lebih kepada bakat yang kita miliki dan sering tidak kita sadari.. Makanya, tallent lebih banyak disadari oleh orang-orang di sekitar kita.

Sebaiknya, bisnis yang kita tekuni memenuhi passion dan tallent kita, biar ga ada matinya diterjang badai *lebay*.
Tanpa saya sadari, ternyata saya menyukai pertanian, walau sebenarnya saat awal kuliah saya tidak menyadari itu. Setelah ditelusuri, rupanya, jiwa curiosity saya yang mendukung kenapa saya suka pertanian. Saya betah berlama-lama ngamatin tanaman aeroponik saya dan gatel untuk mencoba2 berbagai perlakuan agar produksi meningkat. So, teknologi yang saya terapkan selalu dinamis setiap musim berdasarkan evaluasi musim sebelumnya..

Menulis, sebenarnya juga tallent yang tidak saya sadari. Awalnya, mungkin hanya senang nulis diary saat masa kecil. Sebenarnya, waktu kecil, pengen jadi penulis lho.. Hehe, cuman ga digali aja. Kelindas ama kepengen2 yang lain2nya.. Kebetulan kemudian menjadi peneliti, yang bisa dibilang, hidupnya harus banyak-banyak nulis, tapi lebih bersifat serius, karena harus ilmiah. Kok ya, jaman sekarang begitu mudahnya nulis di internet, jadi deh, berkembang asal-asalan.. hehe.. karena emang niatnya cuman buat sharing aja, ga serius.. Jadi deh, selain 2 blog pribadi, ikutan pula blog keroyokan. Semoga aja ada manfaatnya, lumayan buat kenang2an buat anak cucu nantinya, syukur2 bisa jadi amal jariyah... Aamiiin

Kembali ke laptop..
Berikutnya adalah uniq experience. Pengalaman yang berkesan bagi saya, gagal usaha.. Ga sekali, malah beberapa kali. Hehe.. *gagal kok sombong ya* But, dengan gagal usaha, saya berusaha untuk tidak gagal lagi.. Masak sih, harus jatuh pada lobang yang sama.
Dari kecil, jiwa bisnis saya udah menggelora *lebay lagi*. Meskipun keluarga saya mampu, saya sering jualan kecil2an.. Makanya, sempet agak sedih saat kesangkut jadi goverment officer. Alhamdullillah, kedua profesi bisa saling mendukung, Insya Allah dapat memberikan kemaslahatan ke umat..

Value yang kita yakini, ga boleh dilanggar. Misalnya, kita ga suka dibohongi. Jangan sekali-kali, 'memelihara' pegawai yang ga jujur. Pecaaaaat... Kalau duri dalam daging dipelihara, bikin kita ga enjoy dengan bisnis kita..

Vision? Wuiiih, buaaanyak. Malu kalau disebutin. Intinya, visi saya terbagi dalam komersil dan amal... Silahkan, sebutkan dalam hati visi anda, dan camkan sekuat mungkin dalam tekat anda..

Sebenarnya, saya dan hubby sering berdiskusi kecil tentang kelima unsur tujuan hidup ini. Meskipun diskusi tersebut tidak dibahas detil dan hanya sambil lalu, kok saya merasa perlu juga selalu mereview tujuan hidup kita. Termasuk pula, mereview progres bisnis kita. Seperti saat obrolan disela-sela diskusi KMB, kita sampaikan capaian progres bisnis kita, juga hambatan-hambatan dalam sebulan ini..

Saya jadi ngerasa, pantesan aja, para pebisnis besar terkadang sampai meng-hire mahal konsultan bisnis, khusus untuk membimbing bisnis mereka. Ternyata beda, diskusi antara saya dan hubby, bila dibandingkan kalau ada konsultan bisnis-nya.. Alhamdullilah, bersyukur banget bisa ikutan KMB dari TDA, lumayan, kami bisa sharing trik-trik bisnis.

Jadi kepikir, entar kalau KMB selesai, siapa ya yang bisa diajak diskusi serius begini. Hehe, saya diingatkan oleh hubby. Kan, setelah lulus KMB, saya diwajibkan membuka KMB baru dengan saya jadi mentornya, Insya Allah, diskusi bisnis akan terus berjalan, termasuk review2 bisnisnya..
Alhamdullilah.. Lagi2, bersyukur banget bergabung dengan TDA :)



Senin, 01 April 2013

Training dan Etiolasi

Tadi saya main ke tempat hidroponik teman.. Teman? Bolehlah dibilang begitu, padahal baru kopi daratnya tadi pagi. Hehe.. Dengan kemajuan teknologi, kita memang bisa kenal dengan siapa saja, terutama bagi yang passionnya sama. Dalam hal ini mungkin passion kami, ya di hidroponik ini. Cuman, mungkin dia lebih banyak di jasa training dan peralatan hidroponiknya..

Sebenarnya saya kenal lewat FB, setelah sebelumnya tau dari teman S2 saya. Pengen juga ikutan pelatihan hidroponik darinya. Ga salah to, pengen tau ilmunya dia. Kan saya bayar:) Meski saya yakin, terkadang di pelatihan manapun, tidak semua ilmu dibagikan..:) Sayang, sampai detik ini belum bisa ikutan, karena terkendala jadwal. Pas saya bisa, eh, pesertanya kurang. Belum jodoh kali ya.. Untung, dia bersedia dikunjungi, meski bukan pas jam training.. Hore..

Sharing-sharing ringan lah.. Senang kenal orang2 muda yang rajin-rajin begini.. Cerita gimana usahanya, kasus dia, cerita gimana usaha saya, kasus saya. Tukar-tukar pengalaman.. Saya paling seneng ngobrol2 begini.. Meskipun sebentar, karena puanasnya minta ampun di Jogja..

Ada sedikit hal yang tidak saya setujui tentang pendapatnya. Yup, biasalah kalau dari pembibitan pindah ke tempat produksi, ada tanaman yang layu saat adaptasi di tempat baru. Katanya ga masalah, karena dia punya persediaan bibit yang banyak. Mungkin karena saking panasnya bila siang hari. Waduh, kalau menurut saya sih, sayang dong.. Sebisa mungkin jangan sampai ada bibit terbuang sia-sia.. Ato karena bibit dalam kasus saya berasal dari hasil kultur jaringan, yang notabene mahal kali ya.. Jadi saya bener2 "eman", sayang" dengan bibit2 saya.. Bisa jadilah.. Sementara dia kan bibitnya dari toko yang gampang belinya, murah lagi..

Bagaimanapun, entah bibit mudah atau murah, sulit didapat atau mahal, saya tetap memilih hemat bibit. Otak bisnis kali ya.. Nah, itu dia.. Dalam bisnis, semestinya kalau sudah bisa berproduksi dengan baik. Target lainnya adalah bagaimana produksi bisa tetap baik, tetapi dengan biaya seminimal mungkin. Bagaimana cara efisiensinya agar profit meningkat.. Rupanya teman saya ini, mungkin karena lebih fokus di jasa training, kurang memperhatikan sisi bisnis produksinyanya kali.. Ga ngirit, ga hemat.. hehe

Ngomong-ngomong soal cara adaptasi transplanting (pindah tanam), sebenarnya mudah. Tinggal kasih shading, entah pake paranet kali. Hanya di saat panas saja, kalau sudah sore, atau masih pagi dan dingin, ga perlu di kasih shading. Jadi paranetnya dipasang diatas tanaman dan mudah ditarik-tarik. Repot? Iyalah, karena bila dishading terus, bibit malah ga pinter2 berfotosintesis, malah mengalami etiolasi. Kekurangan cahaya. Tanaman yang kekurangan cahaya, biasanya akan tinggi, kurus, dan daunnya kuning..

Ngomong-ngomong soal pelatihan, saya ini paling hobi disuruh pelatihan, training, kursus. Ini mah udah bawaan orok. Dulu waktu sekolah, saya pernah ikutan kurus tari, silat, renang, dll.. Pas kuliah pernah ikutan kursus bahasa inggris, akuntansi, pajak.. apalagi ya... lupa.. Tujuannya dulu, cuman pengen punya banyak teman dan sekedar penasaran saja, pengen tahu. Nah, setelah tua gini, training saya lebih ke passion saya. Terakhir, sabtu kemarin, ikutan training NLP, hipnotis tentang selling.. Hehe.. kacau ya ilmunya.. Biarin lah, Insya Allah, bisa memperkaya ilmu saya. Ntar deh, kapan2 saya bagi..

Minggu, 17 Maret 2013

Target dan Tanpa Saya : KMB 1

Jumat kemarin, ikutan pertemuan perdana Kelompok Mentoring Bisnis (KMB) dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Hmhm.. Alhamdullilah, bisa ikutan. Emang dari dulu penasaran pengen ikut, pengen tahu, gimana sih bisnis yang bener. Hehe, maklum, selama ini masih sekedar insting doang. Mo ikut, kuliah bisnis beneran, hehe, ga mungkinlah.. *mahal plus ga sempet lagi deh* Padahal, kesempatan ini gratis lho *asal memenuhi syarat tertentu* and of course, sudah jadi anggota TDA donk..

Dua hal yang berkesan bagi saya..
#1# Pasang target setinggi-tingginya..
Rasa2nya dah biasa deh denger kalimat ini. But, pas denger contoh kasusnya, terasa mengena sekali tanpa saya sadari..
Suatu survei untuk mengetahui kemampuan seseorang mewawancarai konsumen. Kelompok A memasang target 10 orang, sedangkan kelompok B memasang target 20 orang. Ternyata, kelompok A berhasil memenuhi target 10 orang, sedangkan kelompok B gagal memenuhi targetnya karena hanya mampu memenuhi target 17 orang. Wow.. Kalau melihat gagal atau suksesnya memenuhi target, pastilah kelompok A yang terbaik, but kalau dilihat dari jumlah konsumen yang berhasil diwawancarai? Jadi pasang target yang tinggi akan memacu kita untuk bekerja keras lebih keras lagi.. Sepakat donk..

Dalam keseharian, tanpa sadar, saya juga sering masang target dalam hidup saya. Yang sederhana saja, apa yang harus saya kerjakan besok hari, rencana kapan saya lulus, atau yang lebih absurb tentang impian2 saya..
Dulu, waktu kuliah, karena banyaknya tugas kuliah, ujian, seminar, dll, saya jadwalkan harian, mingguan dalam suatu kalender. Rencana saya kapan saya seminar, ujian, juga sudah saya rancang, tentu dirancang secepat mungkin, dan hehe.. banyak yang meleset.. Ga papalah, paling tidak ada beban tersendiri agar melesetnya tidak terlalu jauh..

Bicara soal target bisnis, tentu berbeda dengan rencana kelulusan saya.. Apa yang akan dicapai setahun ke depan dan kemudian di-breakdown per bulan, per musim.. Agar realistis, bikin perhitungan yang jelas menuju target kita..
Bila ingin produksi 0,5 juta knol G0, mo intensifikasi atau ekstensifikasi? Kalau intensifikasi, dengan teknologi apa? Kalau ekstensifikasi, modal darimana... hehe

Tempelin tuh strategic planning-nya di kamar, biar dipantengin terus, biar semangat... *Untung deh ikutan KMB* Alhamdullillah..


 #2# Bisnis adalah usaha, proses untuk mendapatkan profit (yang belum tentu materi) TANPA MELIBATKAN SAYA.. Yang huruf kapital ini, khusus yang sudah ideal.
Nah, kalau kita sebagai owner masih sibuk ngurus sana sini, belum ideal, dan ini banyak dialami UKM.. Jadi penasaran, gimana ya trik agar bisnis bisa jalan tanpa cape ngurus sendiri.. *dilanjut episode KMB bulan depan*
Cita-cita sih, pengennya begitu. Pengen punya banyak usaha, holding company, di bidang agribisnis.. Tanpa melibatkan saya, cukup ngawasin aja.. Insya Allah, mudah2n terwujud.. Amiiin YRA.. 

Senin, 11 Maret 2013

Simbiosis Mutualisme

Minggu lalu, saya ke Sukabumi.. Lagi, menjajagi kerjasama dengan salah satu teman. Sebut saja Pak Budi, keturunan China. Ada yang menarik perjalanan kali ini, bukan soal pak Budi-nya, tetapi asistennya, sebut saja Ani.. Berulangkali, Pak Budi menyebut2 nama Ani. Kayak apa sih, si Ani ini..

Ketemu pertama, heran juga, ternyata si Ani, anak Betawi, yang diberi tanggung jawab usaha pertanian pak Budi ini biasa2 saja. Tapi, yes, dia emang ramah. Lama2 kelihatan juga rajinnya.. Yah, lumrah lah, anak muda sekarang rajin..

Saya mulai salut dengan si Anak muda ini, saat dia bercerita, waktu ke Lembang, ikut pelatihan pertaniann di suatu Balai. Dia menghilang, dan dicari teman2nya, bahkan sampai pak Budi ini dibel karena si Ani menghilang saat istirahat.
Ternyata, saat istirahat, si Ani jalan2 sendiri melihat, muterin pertanian yang ada di Lembang. Belajar bertanam strawberi. Dan di Sukabumi, dia telah berhasil nanam strawberi..

Hehe.. Kayaknya, saya baru dengar, ada peserta pelatihan menghilang karena kabur lihat2 pertanian di sekitarnya, diluar jadwal pelatihan dan berhasil menerapkannya. Kalau si anak ini berpendidikan dan laki2 sih, masih wajar. Dia anak perempuan, masih muda, sekolah juga cuman SMA.. Hehe, masih ada ya anak muda perempuan yang suka pertanian.. kirain cuman main ke Mall aje..

Beruntungnya anak ini, si Pak Budi ga paham pertanian. Jadi Pak Budi membebaskan si Ani untuk mengembangkan jiwa pertaniannya.. Terlihatlah simbiosis mutualismennya..
Karena penasaran, saya nanya berapa dikasih gaji pak Budi. Wow, ternyata bagi hasil. Pantesan.. Ternyata mereka memang saling membutuhkan..

Lama2, terlihat juga jiwa kritisnya.. Mungkin karena dia tahu saya peneliti pertanian, jadi deh dia banyak nanya2 saya.. Bagus nih anak..


Jadi teringat pengalaman dulu..
Saya pernah punya bos yang membebaskan saya berkreasi. Dulu agak dongkol karena harus mikir sendiri, Alhamdullillah, sekarang bersyukur, disitulah saya banyak belajar dan dibiayai.. hehe
Inget juga, kalau ikut pelatihan dimana2, selalu menyempatkan diri untuk kabur.. Hehe, entah kabur mo shopping ato urusan lain. Kabur saat pelatihan yang paling seru adalah saat pelatihan organik di Swedia, tapi kabur ke Norwegia saat libur...

Pointnya, terkadang memang perlu jiwa nekat dan berani untuk berfikit Out of the box...
Nah, biasanya orang2 begini suka berfikir maju, jauhi zona nyaman, friends..

Kamis, 21 Februari 2013

Ngilangin stress : Oleh2 Pestawirausaha (5)

Dari dulu, penasaran pengen nyoba Yoga atau Hipnotis. Kenapa? Hehe, saya punya trauma atau apalah istilahnya. Bila saya stres, dengar berita buruk, wah.. jadi mules deh perut saya. Tingkatan mules juga macem2. Bisa hanya sebentar, tarik nafas sedikit bisa hilang, atau yang paling parah, harus segera buru2 ke toilet.. Ups.. Maaf..

Mengganggu? Kalau datangnya ga kompromi, tentu dong mengganggu. Misalnya pas lagi ujian, presentasi, masak harus ijin ke toilet..:( Cuman, ada dugaan, karena ga bisa mengendalikan stress, bikin jadi susah hamil.. hehe, katanya sih ada hubungan. *tauk bener ga nya*

Sudah ngapain aja? Berobat serius sih belum, tapi pernah nyoba ikutan Re*ki. Tapi ga berhasil, ato saya nya aja yang kedul? Tauk deh..

Nah, pas di Pesta Wirausaha TDA kemarin, ada stand tentang NLP (Neuro Leadership Program). Iseng mampir, saya ceritain masalah saya.. Trus, penjaganya secara ramah bilang, silahkan mba rasakan, apakah masih mules. Tentu dong saya jawab, belum dicoba mas, ntar dikasih tau kalau udah stress.. hehe.. Selama 3 hari, Alhamdullilah, saya happy terus, jadi belum kerasa..

Sesi NLP, 15 menit lebih dahulu dari sesinya Dahlan Iskan. Wah, dilema nih. Pengen ikutan kedua sesi itu. Akhirnya bagi tugas dengan hubby. Hubby bagian Dahlan Iskan, saya bagian NLP, karena saya ga enak sama mas penjaaga stand NLP dan emang saya juga penasaran dengan NLP.. Wah, sayang, sesi Dahlan Iskan, saya lewat..

Alhamdullilah, ga rugi.. Ternyata, hipnotis memang permainan pikiran.. Dan, bagaimana memanfaatkan alam bawah sadar kita. Kita diajarin motivasi, cara berbicara.. Wuih, hebat emang pembicaranya.. Saya bagi sedikit tentang cara berbicara..

Bila menawarkan barang, bilangnya jangan begini. Mau beli ga? atau sejenisnya yang bersifat taq question. Tapi bilang begini, mo beli sekarang atau nanti. jadi terhindar dari kata tidak beli..
Menggunakan kalimat dengan awalan "jangan", justru memacu orang untuk melakukannya. Contoh, jangan merokok, justru memancing orang untuk merokok..
dlll deh...

Jadi inget pengalaman baru2 ini, saat mo beli sepeda statis di suatu Mall. Penjaga stand-nya bilang, kalau ibu mau beli sekarang, barangnya diantar nanti sore ya bu..
What? kapan saya setuju mo beli barangnya.. Ooow, ternyata, kalimat ini juga menjadi salah satu trik penjualan agar si pembeli mo membeli.. Akhirnya saya mikir, apa si penjaga stand itu juga ikutan kursus NLP ya..

Kembali ke masalah stress saya..
Ternyata, setelah mendengar 2 berita buruk, Alhamdullilah, perut saya ga mules.. Horeee..
Jadi pengen ikutan workshop NLP ah, biar bisa buat ngobatin juga.. but.. ternyata muahal euy..

Melihat manfaatnya tidak hanya untuk atasi stress, tetapi juga soal kepribadian, emosi.. kayaknya harus maksain untuk ikut ah..

Rabu, 13 Februari 2013

Social Entreprenur : Oleh2 Pesta Wirausaha (4)

Ada satu benang merah antara semua pembicara yang menjadi entreprenuer waktu seminar pada Pesta Wirausaha 2013 kemarin. Meskipun ada yang berangkat dari entreprenuer yang sudah kaya, tetapi lebih banyak yang masih prihatin dulunya..
Apa tuh benang merahnya? Yup, kemauan untuk berbagi, bersedekah, saling membantu..

Di antara heboh bisnis mereka, di akhir presentasi, dikemukakan berbagai kegiatan sosial mereka. Bukan bermaksud sombong saya rasa, tetapi untuk mengingatkan kami, agar jangan lupa sisi sosialnya untuk berbagi. Ada yang sedekah rombongannya @Saptuari untuk membantu mereka2 yang dicoba dengan berbagai penyakit parah, ada yang membantu pelatihan wirausaha yang tidak mampu @Jay Teroris.. Ada juga yang membuat gerakan2 sosial seperti Happy trenggono dengan Beli Indonesia, juga Rhenald Kasali, Sandiago Uno, Ust Yusuf Mansyur..

Hmhm..
Andai kita semua sadar bahwa sebagian income kita adalah rezeki orang lain.. Insya Allah deh, Indonesia semakin maju.. Hmhm.. Indahnya berbagi..


Mungkin himbauan berbagi sudah banyak didengungkan, tetapi ada hal lain yang menarik menurut saya dari semua pembicara tentang himbauan berbagi..
Rata2 pembicara yang punya kegiatan sosial memiliki multi bisnis. Dugaan saya, dari sekian banyak bisnisnya, ada bisnisnya yang non profit, yang bersifat sosial..


Soal multi bisnis, saya emang pengen punya banyak bisnis. Bukan greedy, kemaruk, tapi bisnis sebaiknya ada beberapa jenis. Bisnis profit, semi profit, dan non profit.

Bisnis profit merupakan bisnis utama kita. Tentu kita akan mencari keuntungan besar sesuai dengan bidang keahlian kita. Nah, yang semi profit merupakan bisnis untuk membantu usaha pihak lain, UKM misalnya. Dan non profit lebih kepada membantu siapapun yang perlu dibantu..

Karena saya orang pertanian, tentu dong, bisnis utama saya seputar pertanian. Tidak hanya benih kentang, perlahan menapak bisnis pertanian lain, Insya Allah sedang merintis organic food.
Bisnis semi profitnya masih di angan2, nunggu jadi Doktor dulu, takut ga lulus2.. hehe.. Nah, soal bisnis non profit, mungkin karena background saya dari sisi akademis, pengen nantinya ikut punya peran di sisi pendidikan..
Doain ya..
 

Senin, 11 Februari 2013

Mental Block : oleh2 Pesta Wirausaha (3)

Saya juga kadang sebel bila bertemu dengan siapapun dengan mental payah ini. Padahal, trkadang saya juga melakukan 3 mental payah ini.. hehe
Apa aja sih mental payah ini? Kata bang Jay Teroris sih,
1. Ga bisa
2. Ga mungkin
3. Ga mau
Kalau kita udah menggebu2 ngajak ini-ngajak itu, terus dijawab susah, sulit, ga bisa, ga mungkin, ga mau
jadi males kan.. Ibaratnya kalau nulis kalimat dan dijawab dengan ke-3 mental payah ini, jadi seolah ketemu tanda titik.. Alias ga usah dibahas lagi..

So, yang bisa ngalahin semua itu adalah kuatnya pendirian kita. Buang semua rasa malas, karena emang dalam diri kita, kuat banget tuh yang namanya kebiasaan, sulit berubah.. Kerennya sih, sering disebut zona nyaman.


Saya ngomong begini, bukan berarti saya rajin..
Sama, saya juga terkadang dihinggapi rasa malas.. Kalau saya lagi malas, biasanya saya inget resiko bila saya malas. Misalnya, kalau saya ga cepat2 lulus, artinya limit beasiwa saya akan abis, berarti bayar sendiri (oh noooo), tunjangan kinerja saya ga full (hehe).. So.. buruan lulus..
Hehe..

Trik mengatasi malas yang lain,
Misalnya malas sholat tepat waktu. Hehe, bila udah waktunya sholat, langsung sholat, jangan ditunda2, jangan juga berfikir untung ruginya, menimbang2 waktu dikerjakan sekarang atau nanti. Kenapa?
Karena semakin ditunda2, maka akan semakin males. Just do it. Langsung dikerjain..


Kalau mental block dalam berwirausaha?
Kok sulit, kok susah wirausaha sih.. Sama jawabannya, just do it..
Kebanyakan mikir, kebanyakan ga jadinya deh...

Berusaha Berkata yang Baik : Oleh2 Pesta Wirausaha (2)

Tanpa sengaja, mungkin saya ato anda melukai hati orang lain.. Bahkan, mungkin saking akrabnya, kalo engga becanda yang kelewatan, ga seru..
Saya juga kadang begitu..

Kalau kata Rhenald Kasali, tinggal bilang aja, anda kok tambah gendut.. Pasti deh, si gendut merasa nyeri, meskipun sudah berulang kali si gendut mendengar dia dibilang gendut karena tidak ada yang suka dipanggil si gendut..

Mulai saat ini, mulailah tidak menyakiti orang lain. Minimal saya, berusaha mengurangi keceplas-ceplosan saya.. Honestly, saya paling jago ceplas-ceplos ga penting gitu. Sebel juga dengan sifat yang sudah mendarah daging ini, meskipun terkadang bersyukur (soalnya sejalan dengan cepat keluarnya ide brilian).. Hmhm, mungkin kuncinya balancing kali ya..

Ada video, yang diputarin Rhenald Kasali..
Pengemis buta sedang ngemis dengan kotak bertuliskan "I am blind, please help me". Saya buta, tolonglah saya. Kenyataannya, jarang orang yang memberikan koin ke si pengemis.
Kemudian, ada orang yang mengubah tulisan di kotak tersebut. Dan mendadak, banyak orang memberikan koin ke si pengemis, bahkan ga hanya koin saja..
Coba tebak apa tulisannya?
" Today is a beatiful day, and I can't see it".. Hari ini sangat indah, dan saya tidak dapat melihat indahnya hari ini"
Hwaaaa.. bener2 kekuatan kata2, kalimat, bisa mengubah kondisi, nasib seseorang...

So, mulai sekarang, saya dan anda akan mencoba berkata yang baik2 saja..
Cemungud... 

Rugi deh ga ikutan Pesta Wirausaha 2013.. (1)

Berkali2 ikutan seminar, tapi baru kali ini ikutan seminar non pertanian dan baru kali ini pula tiket seminarnya mahal.. hehe.. Untung, pake harga early bird yang dapat diskon 50%, jadi agak ringan, meski tetep aja mahal sih..
Numpang narsis dikit ya
Hasilnya?
Wuih.. ga bisa diomongin deh. Memang mahal tiketnya, tapi sebanding dengan apa yang diperoleh. Hubby, yang awalnya agak males ikutan dan berniat bolos2 di tengah2 acara, Alhamdullilah, mau anteng duduk manis dengering pembicara yang top2 bangets..

Honestly, ini mungkin kali kedua saya merasa perlu recharge spirit.
Pertama, saat umroh. Sempat 3 bulan pertama setelah umroh, saya sama sekali ga berani ghibah, ngomongin orang, karena bener2 takut buat dosa.. Mungkin kebawa aura ibadah terus. Sayang, hanya bertahan 3 bulan, setelah itu kebawa lingkungan (ato emang niatnya kurang kali ya), ya balik lagi melakukan dosa2 kecil..
Seandainya bisa umroh tiap tahun.. Amin YRA

Kedua, ya pas ikut seminar Pesta Wirausaha (PW) 2013 kemarin selama 3 hari oleh komunitas Tangan diatas (TDA)..
Seru, serasa direcharge, bukan saja spirit duniawi, tetapi juga spirit akhirat. Yup, lengkap. Selain urusan duniawi bagaimana berbisnis berwirausaha yang smart, tetapi juga masalah kepribadian, spiritual.. Dari pembicara top Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Sandiago Uno, hingga Ust Yusuf Mansur.. hingga pembicara di growing stage yang membahas yang lebih teknis.. Lengkap kap..

Ada 4 kelas seminar. Main stage terutama untuk pembicara top, biasanya sih lebih bersifat umum, universal. Beda dengan 3 kelas lainnya di Growing Stage, yang lebih teknis.. Berhubung terdapat banyak kelas, saya dan hubby bagi2 tugas di beda kelas terutama bila topiknya menarik2.. Kecuali emang pengen mantengin pembicara yang sama, misalnya pas Ust Yusuf.. Memang sih, karena banyaknya kelas, ga bisa ikutan semuanya, so saya pesan deh DVD-nya, yang lengkap 60 pembicara.. Selain biar bisa tau pembicara2 lain, bisa untuk tontonan saat spirit lagi turun..


But, dari semua pembicara, yang menurut saya baguuuuus banget karena topiknya adalah Rhenald Kasali, Iwan Purnama tentang brand, Rony tentang NLP

Pulang dari PW, hmhmm.. banyaaak banget yang harus dibenerin.. Mudah2n dengan dapat ilmu baru, bisa memperbaiki performance usaha benih kentang saya dan konsumen saya menjadi lebih puas dengan produk kami, Jaya Mandiri Farm....  
Kapan2 saya bagi2 ceritanya..

Sabtu, 26 Januari 2013

Enakan jadi orang eksak atau sosial?

Kemarin, saya nengokin keponakan saya yang diterima di sebuah BUMN dan saat ini sedang di"gojlog", entahlah apa kata yang tepat, mungkin seperti Pra Jabatan, kalau di PNS. Tumben dia minta ditengok, padahal meski sama2 di rantau, waktu dia kuliah pun, ga pernah minta ditengok, apalagi minta tolong. Baru waktu wisuda, dia pinjam motor untuk transportasi selama ortunya datang. Ya, waktu kakak sepupu saya datang.

Honestly, saya salut dengan Puput. Dengan keterbatasan, bisa cepat lulus dan cepat kerja pula. Pasti bangga kakak sepupu saya. Selain karena (mestinya) dia smart, mungkin karena dia lulusan universitas negeri terkenal dan lucky. Hmhm lucky emang ga bisa dibeli.. Dan ga bisa dipungkiri, bersyukurlah bila menjadi alumni universitas terkenal, pasti laku dimana2 deh..

Hmhm.. Puput mengingatkan saya saat awal kerja PNS dulu.. Dan saya mensyukuri semua blessing dari Allah SWT.. Alhamdulillah..

Tapi bukan itu yang akan saya bahas.. Ada 3 periode pemikiran saya tentang bidang ilmu untuk mencari pekerjaan.
#1# Periode pertama. Kebetulan karena saya orang pertanian, saya tergolong orang eksak. Semasa kecil, kalau main rumah-rumahan, saya selalu menokohkan diri saya dengan gelar pendidikan yang berderet2. Entah kenapa. Pengen jadi dokter, tapi ga kesampaian, jadi deh pengen jadi insinyur.. Hmhm kayaknya keren (Maklum, masih kecil saat itu)..

#2# Periode kedua. Setelah awal memasuki dunia kerja, kok sepertinya, yang sering jadi bos justru orang sosial sih.. Justru orang2 insinyur, orang eksak cuman jadi anak buah saja, diperintah2 ama anak manajemen, akuntansi, hukum, etc.. Udah kuliahnya capek, lama, sulit, masak malah hanya diperintah sama anak sosial.. Coba liat bos2, direktur2, kebanyakan orang sosial. Padahal, sepengetahuan saya saat itu, kuliahnya anak sosial seperti maen2 aja, paling banter diskusi.. Beda dengan orang eksak yang harus ke laboratorium, ke lapangan dlll... Huhuhu..

Sempat punya teman senior. Ahli teknik kimia, lulusan universitas negeri terkenal, pintar bikin segala macam formula. Anehnya, mohon maaf, kok untuk hidup aja susah..
Pasti ada yang ga beres nih dengan para orang eksak.. Tapi saat itu tidak tau, apa sih sebabnya..

Sempat kepikir, kalau punya anak nanti, jangan disuruh kuliah eksak. Cuman jadi anak buahnya orang sosial. Mending jadi orang sosial aja. Kuliahnya cepat, biaya relatif lebih murah, ga cape, cepat lulus, cepat kerja, lapangan pekerjaan lebih luas dan fleksibel, mudah jadi bos pula.. hehe..
Bahkan, saat sodara pengen kuliah di eksak, saya komentarin, ngapain susah2 kuliah di eksak..

#3# Periode ketiga baru saya alami setelah saya mulai punya usaha sendiri.. Ternyata, expert itu memang perlu dan si expert juga bisa jadi bos sendiri, asal smart and bisa berlaku seperti orang sosial..

Untuk menjadi tidak pasaran, memang harus unik. Dan untuk menjadi unik, memang perlu expert. Untuk menjadi expert yang ga pasaran, nah, bersyukurlah orang2 eksak.. Ilmu eksak yang kita pelajari saat kuliah, ga mudah ditiru oleh orang2 pasaran..

Nah, kenapa kok jarang orang eksak ga bisa jadi bos? Dugaan saya karena biasanya orang eksak terlalu kaku, kurang luwes, management-nya kalah dibandingkan orang sosial. Honestly, saya juga mengakui hal itu, untunglah hubby saya yang men-cover my weakness.. hehe.. Tapi Insya Allah ini bisa dipelajari dengan banyak2 bergaul dengan sesama wirausahawan.

Sekarang ini, bila ditanya, sebaiknya kuliah ambil jurusan apa. Tentu donk, hidup eksak!!
Untuk menjadi unik, emang harus jadi expert..

Kamis, 13 Desember 2012

Tertarik menjadi Agri Entreprenuer?

Berkaitan dengan pertanyaan seseorang di milis tentang kegagalannya ber-entrprenuer di bidang pertanian, saya jadi pengen sedikit mengulasnya..

Konon, agri entreprenuer paling menguntungkan adalah di bidang hulu ato hilir sekalian. Maksud hulu, misalnya jualan saprodi pertanian. Entah itu benih, pupuk, pestisida, atau alsintan.. Tuh, liat berapa banyak perusahaan penjual saprodi di negara kita.. berceceran, dari yang legal hingga ilegal.
Sedangkan, maksudnya hilir adalah bisa bagian prosesing atau malah marketingnya. Ada yang memproses menjadi makanan olahan, atau hanya setengah jadi. Atau juga menjual barang mentahnya saja.. Bahasa kasarnya bisa disebut bandar, tengkulak, dsb..
Silahkan mo milih yang mana..

Untuk bergerak di bidang hulu hingga hilir, wuih.. perlu modal yang lumayan dan tentu kesabaran. Ya iyalah, puasa dulu, prihatin sampe barang kejual.. Ampyunn deh klu masih skala UKM..

Nah, untuk di bidang produksinya sendiri.. Terkadang, agak sulit mendapatkan margin yang lumayan klu ga pake trik2 dan diperlukan pengalaman jatuh bangun.. (kalau ga bangun2, ya jatuh melulu deh)..

Ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan :
1. Intensifikasi
Usaha produksi secara intensifikasi dengan menggunakan berbagai teknologi yang sudah ada atau malah bisa saja menemukan yang baru. Teknologi yang umum diterapkan misalnya adalah penggunaan benih bersertifikat, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama penyakit..

Akhir2 ini sistem produksi yang paling ngetrend adalah sistem pertanian organik, sistem pertanian ramah lingkungan, atau pake sistem produksi hidroponik. Silahkan pilih tergantung pasar yang kita punya.
- Pertanian organik mensyaratkan tanpa penggunaan input kimia (benih, pupuk, pestisida) dan no contamination dari pihak luar.
- Pertanian ramah lingkungan masih mengijinkan penggunaan input kimia secara terbatas, terutama pupuk dan tidak mensyaratkan kontaminasi.
- Hidroponik dengan segala jenis media tanpa tanahnya dan tambahan nutrisi buatan dari luar

2. Ekstensifikasi
Untuk sistem produksi konvensional, terkadang perlu melakukan ekstensifikasi. Perlunya mendapatkan luas lahan minimum untuk mendapatkan keuntungan di atas titik impas ekonomi.. Semakin luas lahan, diharapkan semakin efisien, sehingga keuntungan semakin tinggi. Kecuali karena management yang ga bagus, malah keteter.. hehe..

Nah, disini, pemilihan komoditas sangat penting. Komoditas dipilih dengan pertimbangan saat panen tidak terjadi panen raya yang menyebabkan harga jatuh. So pemetaan tanam sekitar kita, pencarian pasar sangat penting. Cara termudah mengetahui pemetaan tanam sekitar kita adalah bertanya kepada kios saprodi penjual benih, komoditas dominan apa yang ditanam petani.

Memang sih, resiko menanam berbeda dengan tetangga sekitar sangat banyak. Misalnya mudah terserang hama penyakit, beda musim sendiri jadi rentan kekeringan/banjir, tapi swear... harga jual saat panen pasti tinggi.. Ukur aja kemampuan diri sendiri, mampu ga melawan arus..

Btw, jangan pernah ikutan latah nanam karena orang lain. Misalnya nih, mo tahun baru, biasanya jagung manis bakal mahal. Eh, kok ya yang berfikir demikian banyak, jadi deh harga jagung manis jatuh di tahun baru, meskipun tetep aja harga jagung manis di penjual jagung bakar tetep mahal..
Paling aman, survei sendiri, lihat lapang, tanya penjual benih..  

Dari sekian uraian saya, yang terpenting adalah pasar, pasar, dan pasar.. Kalau belum punya pasar, namanya bunuh diri..   

Senin, 26 November 2012

Arti rugi dalam bisnis pertanian : Kasus 1

Saya bukan ahli bisnis, apalagi jago ekonomi, tapi mendengar bos kios saprodi langganan saya menawarkan lahannya untuk kerjasama benih kentang, bikin saya mikir..

Yups, saya ditawari lahannya yang lumayan luas.. Dari sisi saya, tentu saya senang dengan tawaran tersebut, karena sebagai pendatang, kendala pengembangan usaha saya adalah keterbatasan lahan. Tau sendiri lah, lahan di Lembang, sudah cukup mahal baik untuk dibeli ataupun disewa.. Pengeluaran dana untuk membeli atau menyewa lahan, lumayan menyedot kantong.. hehe..
Sementara kalau mencari lahan diluar Lembang, saya keberatan mengawasinya. Pengalaman menunjukkan bahwa usaha agribisnis sangat beresiko kalau engga diawasi, baik karena kenakalan pegawai kita ataupun masalah tetek bengek tanamannya itu sendiri..

Selain senang, tentu juga bangga.. hehe.. Ternyata si engkoh ini mengamati perkembangan usaha saya juga nih.. Tau-taunya kalau usaha saya terus berkembang. Mungkin melihat perkembangan jumlah pembelian saprodi saya yang terus meningkat kali ya.. Terutama sih, dia heran dengan terus bertambahnya screen house saya.. Alhamdullillah, dipercaya orang lain.. :)

Yang pengen saya sharing di postingan ini adalah curhatan si engkoh kepada saya, eh hubby saya.. Selain mempunyai kios saprodi yang cukup besar, dia juga memiliki usaha pertanian lain seperti bunga anggrek, sayuran, wisata agro, dll deh.. Dan, katanya nih, usahanya sering rugi, padahal usahanya menampung banyak tenaga kerja pertanian.. Masak sih.. Kok masih bertahan? Ini nih, yang bikin saya heran..

Pas saya survei ke calon lahan saya, wuih.. luaaaasnya lahannya. Sudah dipagari tembok plus ada sumur bor. Pekerjanya juga sepertinya cukup trampil. Pas cerita2 dengan mandornya, sepertinya cukup berpengalaman. Dia sudah ikut si engkoh sekitar 18 tahun. Woow.. Awetnya..
Liat tanamannya, lumayan bagus. Pas nanya harga jual jagung manisnya, lumayan mahal karena dijual ke supermarket.. Lho.. kok bisa rugi sih...

Ada beberapa dugaan si engkoh ini bilang rugi..
#1# Bagi orang awam, yang namanya rugi adalah bila pendapatan kurang dari pengeluaran. Atau tidak ada pendapatan bersih ato keuntungan.. Nah, setelah beberapa lama bergaul dengan orang lapang, rupanya yang namanya rugi adalah beda lagi. Disebut rugi bila keuntungan yang semula direncanakan atau keuntungan yang biasa diperoleh di masa lalu, tidak tercapai.
Misalnya nih, biasanya satu tanaman bisa dapat 15 umbi, tetapi ternyata hanya dapat 10 umbi. Nah, ini bisa disebut rugi, walaupun misalnya sebenarnya bila dihitung secara matematis, biaya produksi impasnya 4 umbi. Jadi lebih dari 4 umbi semestinya disebut untung..Pandangan yang seperti ini terkadang disebut golongan "kurang bersyukur".. hehe.. meleset dari target..
Nah, saya ga tau persis, apakah si engkoh ini termasuk golongan ini, karena melihat tanamannya bagus, harga juga bagus, pekerjanya banyak, dan usaha sayurannya sudah belasan tahun dan masih terus berjalan.. Kalau bener rugi, mestinya dia sudah banting stir dong.. hehe

#2# Apakah managemennya kurang bagus?
Tauk juga ya. Begitu banyak usahanya, tapi dia percayakan kepada orang lain, mandornya. Entah bagaimana pengawasannya.. Harga jual tinggi, produksi tinggi, dan upah buruh yang murah, mestinya untung gede.. Entahlah, sebagai orang luar, saya ga tau persis. Cuman, ini bisa menjadi masukan buat saya, bagaimana saya mengelola managemen produksi saya nantinya bila jadi bekerjasama..
Tapi honestly, melihat management lepas seperti itu memberikan sedikit introspeksi dalam management saya. Bagaimanapun bila usaha semakin besar, tidak mungkin kita bisa mengawasi sendiri..  

#3# Mungkin si engkoh ini juga tertarik untuk masuk ke perbenihan kentang kali ya..
Hehe.. Sebenarnya si engkoh ini memang pernah coba masuk ke perbenihan kentang, tetapi gagal. Entah karena tidak tahu prosedurnya, gagal produksi, atau ga tau jaringan perbenihannya, jadi pengen masuk melalui saya.. Ga tau lah..

Let's check it out !! Bagaimanapun, tawaran bagus ini Insya Allah akan saya terima dengan antisipasi analisa2 saya diatas..
Kira2 begitu analisa saya. Ada sharing alternatif lain ? 

Senin, 12 November 2012

Sharing Wirausaha

Saya lagi terkesan dengan pengalaman seseorang tentang kredit bank.
Diceritakan, karena ngebet pengen berwirausaha, dia keluar dari pekerjaan tetapnya dan membuka 5 jenis usahanya dengan modal kredit tanpa agunan (KTA) dari bank asing. Woww.. Hebat. Dia merasa pede karena sebelumnya, telah mengikuti berbagai seminar wirausaha dan pengalaman multi level marketing (MLM) dan pengalaman kerjanya selama belasan tahun..
Akhirnya, tidak sampai 6 bulan, semua usahanya tutup dan dia dikejar2 debt collector. Kondisi demikian menimbulkan trauma bagi dia dan keluarganya. Apalagi di saat istrinya melahirkan.. Justru, bisnis sampingannya yang tidak dia duga, akhirnya menjadi penyelamat penutup hutang2nya.. Dan sekarang, sukses dengan bisnisnya, memiliki ratusan outlet.. Happy ending lah 

Kalau cuman denger dan baca ceritanya, serasa lihat sinetron kali ya..

Dari cerita pengalamannya, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik..
#1# Kesalahan terbesar menurut si empunya cerita adalah pengambilan kredit bank. Sebaiknya untuk usaha yang dari nol, modal terbaik berasal dari 3F. Family, friend, and fool. Keluarga, teman, atau orang bodoh yang mau meminjamkan uangnya untuk modal awal usaha kita. Meskipun demikian, perlu juga ke-3 F ini diberi pengertian naik turunnya usaha kita. Jangan hanya cerita tentang manis2nya usaha kita, tetapi pahitnya usaha kita perlu juga dikasih tau agar saat pahit, mereka memakluminya. Tentu saja, resikonya mereka ga mau naro uangnya donk kalau kita terus terang resikonya. Wah, klu gitu cari investor lain ato apa boleh buat, resiko kita tanggung sendiri..
Saya pernah bilang kepada investor, bahwa benih akan laku saat musim hujan. Pas, hujan pertama kali turun, langsung saya ditanya pembagian keuntungan.. Wow.. maklum sih.. tapi kan tidak pas hujan pertama langsung petani beli semua benih saya.. Perlu bertahap. Nah, inilah pentingnya pemberian pengertian kepada investor.
Investor paling enak adalah fool. Biasanya si fool ini duitnya banyak dan bingung ngebuang duitnya kemana. hehe. Jadi, mereka biasanya justru memahami kesulitan kita..

#2# Meskipun, kita punya bekal pengetahuan dan pengalaman, belum tentu kita langsung sukses jadi entreprenuer lho..
Terus terang, saya salut sama orang2 yang nekat keluar dari pekerjaan tetapnya dan langsung buka usaha barunya. Meskipun, beberapa lama hidup bisa ditopang dengan uang pesangon, tapi sampai kapan donk klu usaha barunya masih nol.. Hebat lah.. Paling aman sih, amfibi dulu, dan pelan2 baru deh pekerjaan tetapnya ditinggalkan..
Bagaimana pun, menurut saya, perlu juga kita kerja ke orang/perusahaan lain dulu. Paling tidak, kita bisa tahu bagaimana usaha itu bisa survive, bagaimana me-maintain usaha, bagaimana etos kerja dll. Bahkan saya pernah dengar cerita teman, dia membayar pegawainya untuk kerja di perusahaan kompetitior untuk belajar managemen usaha yang bener2.. serasa film aja pake mata2 segala..
Keponakan saya, jago desain kaos, sayangnya usahanya ya segitu2 aja. Abis dia bangun aja siang, mo ada order ato engga, santai aja.. Kalau dia pernah kerja ke orang lain, dia bakal ngerasa "disiksa" bosnya dulu untuk disiplin waktu..
Kasus di PNS lain lagi. Berhubung ga pernah ada target pasar, biasanya PNS yang kerja di bidang pelayanan masyarakat kurang peduli dengan etos kerja. Kerja seadanya. Jarang yang melihat masyarakat sebagai raja. So mo beli syukur, engga juga ga ngaruh. AKibatnya, jarang PNS model beginian pengen wirausaha.. Bakal bangkrut deh..      

Konon ceritanya, 5 tahun pertama merupakan penentu berhasil tidaknya perusahaan kita berdiri.. Saya pun mengakuinya. Saat ini saya juga lagi belajar bagaimana me-maintain usaha saya. Maklum, satu periode perbenihan kentang cukup panjang, 7-10 bulan. jadi tanpa kesinambungan antar periode perbenihan, bakal bikin kacau.. Maklum, modal berasal dari berbagai sumber. Jadi harus mau berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian. Menahan diri dulu untuk tidak beli2 yang konsumtif untuk masa depan usaha saya..
Mohon doanya aja ya.. Amin yra..
Jazakallah khairan katsiro atas doanya..