Sedih saya mengikuti seminar proposal salah satu teman.
Kenapa? Karena penelitian terapannya terlalu ideal, sehingga sulit diterapkan oleh petani..
Sebagai orang yang berkecimpung dengan petani, saya tahu benar bagaimana sikap awal petani saat kita introduksikan teknologi baru kepada petani..
Sulit bu, Ga ada barangnya bu.. intinya muales lah..
Saat saya tau penelitian teman saya adalah padi, dan selama pembibitan menggunakan tray dalam rumah plastik, saya terkesima..
Janganlah membodohi petani..
Sering saya dikomplain petani, ternyata teknologi A, B, dan C, hasilnya tidak semanis janjinya. Kok hasilnya ga setinggi yang ada dalam brosur.. Jawab saya, pasti karena teknologi yang diterapkan tidak seperti yang dalam brosur..
Akhirnya, agar tidak menyulitkan petani dan agar gap hasil penelitian dan petani tidak terlalu jauh, please... perlakuannya jangan terlalu ideal, dimiripkan lah dengan yang biasa dilakukan petani..
Terkadang, agar hasil tinggi kita buat perlakuan seideal mungkin.. tapi apa iya, bisa diterapkan oleh petani.. Apakah penyuluh juga harus bisa merubah perilaku petani agar mau rajin..
Dalam kenyataannya, sangat sulit sekali mendapat petani yang mau rajin..
Dari satu kelompoktani sekitar 40 orang, paling hanya 1-2 saja. ketua kelompok dengan sekretarisnya. Setelah kita pergi, mereka akan kembali ke perlakuan kebiasaan mereka.
Kenapa, karena teknologi kita terlalu merepotkan.
Oleh karena itu, carilah teknologi yang mudah diterapkan petani
Yang bikin sedih, kenapa ya.. kok para dosen dan peneliti masih meneliti yang sulit2..
Oke, bila untuk penelitian dasar..
Tapi bila penelitian terapan...
Please.. realistik lah.. jangan bebani penyuluh dengan mengajarkan teknologi yang terlalu tinggi.
Contoh :
Selama ini pembibitan padi 21 hst di petakan kecil dengan dikelilingi plastik.
Bila kemudian harus berubah pake tray (seperti sayuran) dan di dalam rumah plastik.. berapa tray yang dibutuhkan untuk ber ha2 sawah?
Wong, saya menyuluhkan petani agar pindah tanam bibit muda (<21 hst) aja susahnya bukan main.. Yang masalah persiapan lahan yang telat lah, masalah air lah, traktor telat lah..
Apalagi pake tray dan rumah plastik?
Tertawa sendiri lah saya
Topik Judul
- aeroponik kentang (56)
- catatan harian (102)
- kesehatan (13)
- motivasi (21)
- opini (44)
- Organik (11)
- penelitian (28)
- pertanian (34)
- travelling (21)
- Wirausaha (16)
Cari Blog Ini
Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??
Pemesanan Benih Kentang :
Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065
email : vansekar@yahoo.co.id
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065
email : vansekar@yahoo.co.id
LAYANAN KONSUMEN JM FARM :
Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
Jumat, 09 Juli 2010
Penelitian Primer dan Sekunder: Mana yang lebih penting?
Beberapa hari lalu ada teman curhat tentang penelitian sekundernya yang dianggap abstrak oleh sebagian besar teman saya saat seminar.
Sebagai catatan, penelitian sekunder lebih banyak mengambil data sekunder, mengumpulkan hasil2 penelitian primer dan kemudian dianalisis dengan berbagai metode.. Sedangkan penelitian primer biasanya melakukan percobaan untuk mendapatkan data primer/langsung.
Sebagian besar penelitian sekunder berupa penelitian sosial..
Kebetulan disini, penelitian teman saya ini adalah pemodelan.. Dia mengumpulkan beberapa hasil penelitian kemudian dimodelkan..
Menarik kah penelitian sekunder ini?
Bagi saya, yup, sama menariknya dengan penelitian primer asal metodenya jelas dan hal yang ingin dicari merupakan pertanyaan umum yang belum terjawab..
Bahkan tanpa penelitian sekunder, rasa2nya penelitian primer hanya sekedar kotak2 tanpa sambung.. Artinya perlu seseorang yang mau mencari benang merah antar penelitian, sehingga jelas keterkaitannya.
Justru penelitian yang sendiri2... rasanya seperti berada di hutan.. tidak jelas arahnya..
Cuman biasanya untuk menjadi perekap penelitian2 primer dibutuhkan ketokohan atau kesenioran, terutama di Indonesia ini. Kenapa? Karena masih berat peneliti di sini untuk berbagi ilmu, berbagi data, karena memang plagiator terlalu banyak.. hehe..
Tapi kenapa teman saya sampai begitu sedihnya dibilang penelitiannya abstrak?
Jelas lah, karena audiens seminarnya adalah para peneliti primer. Coba klu audiensnya orang2 yang berkecimpung dengan penelitian sekunder, pasti akan ada banyak masukan..
So.. kata saya ke teman, tetap semangat..
Sebagai catatan, penelitian sekunder lebih banyak mengambil data sekunder, mengumpulkan hasil2 penelitian primer dan kemudian dianalisis dengan berbagai metode.. Sedangkan penelitian primer biasanya melakukan percobaan untuk mendapatkan data primer/langsung.
Sebagian besar penelitian sekunder berupa penelitian sosial..
Kebetulan disini, penelitian teman saya ini adalah pemodelan.. Dia mengumpulkan beberapa hasil penelitian kemudian dimodelkan..
Menarik kah penelitian sekunder ini?
Bagi saya, yup, sama menariknya dengan penelitian primer asal metodenya jelas dan hal yang ingin dicari merupakan pertanyaan umum yang belum terjawab..
Bahkan tanpa penelitian sekunder, rasa2nya penelitian primer hanya sekedar kotak2 tanpa sambung.. Artinya perlu seseorang yang mau mencari benang merah antar penelitian, sehingga jelas keterkaitannya.
Justru penelitian yang sendiri2... rasanya seperti berada di hutan.. tidak jelas arahnya..
Cuman biasanya untuk menjadi perekap penelitian2 primer dibutuhkan ketokohan atau kesenioran, terutama di Indonesia ini. Kenapa? Karena masih berat peneliti di sini untuk berbagi ilmu, berbagi data, karena memang plagiator terlalu banyak.. hehe..
Tapi kenapa teman saya sampai begitu sedihnya dibilang penelitiannya abstrak?
Jelas lah, karena audiens seminarnya adalah para peneliti primer. Coba klu audiensnya orang2 yang berkecimpung dengan penelitian sekunder, pasti akan ada banyak masukan..
So.. kata saya ke teman, tetap semangat..
Selasa, 06 Juli 2010
Cinta buta atau cinta sejati?
Kasus Luna Maya-Ariel membuat saya berfikir. Bukan tentang video pornonya..
Tentang cinta Luna kepada Ariel.. Separah itukah cintanya ?
Dulu, Luna pernah melepas Ariel karena Ariel keburu menghamili Amalia, mantan istrinya.
Meskipun ada peristiwa itu, Luna tetap setia menanti dudanya Ariel..
Dan sekarang, Luna pun masih setia dengan Ariel..
Meskipun, ternyata Ariel berbuat "begitu" tidak hanya dengan Luna, tetapi juga dengan perempuan lain. Perempuan yang punya suami..
Dan hebatnya Luna masih menerima Ariel..
Sebegitukah cinta seorang wanita kepada pria?
Bisa jadi, peristiwa ini mencoba membuka mata Luna, siapa Lelaki yang selama ini bersamanya.
Ada 2 kemungkinan : 1 . bisa aja Luna kabur, atau 2. tetap setia, dan pilihan kedua inilah yang Luna pilih..
Hm.. Bila Luna kemudian memilih tetap setia, artinya Luna pun harus dapat menerima semua konsekuensinya.. Mudah2n aja Ariel sudah insyaf..
Meskipun rasa2nya sangat tipis..
Sepertinya perlu suatu hidayah agar Ariel benar2 insyaf..
Kembali ke topik Cinta buta atau Cinta Sejati..
Bagaimanakah membedakan kedua cinta tersebut?
Apapun yang dilakukan pasangan kita, kita bisa memaafkan dan melupakan semua itu?
Meskipun disakiti?
Bila insyaf, boleh diberi kesempatan? Sejauh mana kita bisa memberi kesempatan?
Bila terulang kembali? Jelaslah, TINGGALKAN!!
Saya sih hanya bisa berharap, bila kita ketemu cinta buta kita, mudah2n pasangan kita ga macem2..
jadi tak perlu kata maaf dan cinta buta kita menjadi cinta sejati..
Tentang cinta Luna kepada Ariel.. Separah itukah cintanya ?
Dulu, Luna pernah melepas Ariel karena Ariel keburu menghamili Amalia, mantan istrinya.
Meskipun ada peristiwa itu, Luna tetap setia menanti dudanya Ariel..
Dan sekarang, Luna pun masih setia dengan Ariel..
Meskipun, ternyata Ariel berbuat "begitu" tidak hanya dengan Luna, tetapi juga dengan perempuan lain. Perempuan yang punya suami..
Dan hebatnya Luna masih menerima Ariel..
Sebegitukah cinta seorang wanita kepada pria?
Bisa jadi, peristiwa ini mencoba membuka mata Luna, siapa Lelaki yang selama ini bersamanya.
Ada 2 kemungkinan : 1 . bisa aja Luna kabur, atau 2. tetap setia, dan pilihan kedua inilah yang Luna pilih..
Hm.. Bila Luna kemudian memilih tetap setia, artinya Luna pun harus dapat menerima semua konsekuensinya.. Mudah2n aja Ariel sudah insyaf..
Meskipun rasa2nya sangat tipis..
Sepertinya perlu suatu hidayah agar Ariel benar2 insyaf..
Kembali ke topik Cinta buta atau Cinta Sejati..
Bagaimanakah membedakan kedua cinta tersebut?
Apapun yang dilakukan pasangan kita, kita bisa memaafkan dan melupakan semua itu?
Meskipun disakiti?
Bila insyaf, boleh diberi kesempatan? Sejauh mana kita bisa memberi kesempatan?
Bila terulang kembali? Jelaslah, TINGGALKAN!!
Saya sih hanya bisa berharap, bila kita ketemu cinta buta kita, mudah2n pasangan kita ga macem2..
jadi tak perlu kata maaf dan cinta buta kita menjadi cinta sejati..
Awal perkenalanku kembali dengan kentang
Saya disarankan meneliti tanaman kentang.. Wao... serem. Teringat saya atas kegagalan usaha awal saya dengan kentang..
Sebenarnya, setelah kentang pertama kali, pernah dikit2 saya mencoba menanam lagi dan hasilnya memang gagal..
Evaluasi saya adalah saya tidak punya waktu lebih untuk memperhatikan tanaman saya. Kegiatan kantor menyita waktu saya. Apalagi bila usaha saya tersebut jauh dari rumah.. Mana sempat..
Akibatnya, selain tidak bisa ngontrol, bisa jadi saya malah ditipu pegawai saya..
Penelitian lah penyebab saya terjun lagi ke kentang. Wajib penelitian sebagai syarat pendidikan lanjutan saya. Awalnya pake nego, kentang bagian mana yang harus saya pilih. Berhubung, ilmu dan teknologi benih adalah major saya, maka penelitian benih kentang adalah pilihan saya..
Sempet bingung juga menentukan generasi benih mana yang harus saya teliti. Mo kuljar, G0, G1, G2, G3, atau G4. Berdasarkan pengalaman gagal menanam kentang, saya cari yang resiko lingkungannya kecil.
Kuljar? Wah, saya ga punya pengalaman nih.. Meskipun bisa dipelajari lewat kuliah, ilmu dasar saya Ekofisiologi tanaman, terlalu jauh menyeberang..
AKhirnya saya ambil G1 dan G2 karena generasi ini berada dalam rumah skreen..
Topiknya?
Setelah muter2, dapet deh..
Aeroponik kentang..
Ternyata diawali kentang, kembali lagi ke kentang.
Mudah2n berhasil..
Amin
Sebenarnya, setelah kentang pertama kali, pernah dikit2 saya mencoba menanam lagi dan hasilnya memang gagal..
Evaluasi saya adalah saya tidak punya waktu lebih untuk memperhatikan tanaman saya. Kegiatan kantor menyita waktu saya. Apalagi bila usaha saya tersebut jauh dari rumah.. Mana sempat..
Akibatnya, selain tidak bisa ngontrol, bisa jadi saya malah ditipu pegawai saya..
Penelitian lah penyebab saya terjun lagi ke kentang. Wajib penelitian sebagai syarat pendidikan lanjutan saya. Awalnya pake nego, kentang bagian mana yang harus saya pilih. Berhubung, ilmu dan teknologi benih adalah major saya, maka penelitian benih kentang adalah pilihan saya..
Sempet bingung juga menentukan generasi benih mana yang harus saya teliti. Mo kuljar, G0, G1, G2, G3, atau G4. Berdasarkan pengalaman gagal menanam kentang, saya cari yang resiko lingkungannya kecil.
Kuljar? Wah, saya ga punya pengalaman nih.. Meskipun bisa dipelajari lewat kuliah, ilmu dasar saya Ekofisiologi tanaman, terlalu jauh menyeberang..
AKhirnya saya ambil G1 dan G2 karena generasi ini berada dalam rumah skreen..
Topiknya?
Setelah muter2, dapet deh..
Aeroponik kentang..
Ternyata diawali kentang, kembali lagi ke kentang.
Mudah2n berhasil..
Amin
Senin, 05 Juli 2010
Perkenalanku dengan kentang

11 tahun yang lalu, saya kenal nanem kentang.. Tapi mungkin baru kulit luarnya saja saya tahu.
Waktu itu, penelitian kentang saya adalah penggunaan agensia hayati dan pestisida nabati. Alhamdullilah dah terbit tulisan saya tentang topik tersebut.
Alhamdullilah juga, hasil panen cukup lumayan..
Karena merasa berhasil, saya sebagai anak baru lulus merasa kepengen ikutan bisnis pun nyoba nanem kentang.. ceritanya sih, usaha sendiri berbisnis.. Modalnya, selain dari kantong sendiri, juga dari sodara saya..
Hasilnya?
RUgi boo..
Udah hasilnya dikit karena terserang penyakit Phytopthora juga harganya lagi jatuh..
Aduh, apes banget deh..
Saya harus ngembaliin uang sodara saya dengan nyicil dari gaji saya (meskipun ga sampe lunas bener), duit tabungan saya amblas, dan
wah, perjuangan banget tuh ngejualin kentang ke temen2 kantor biar harganya agak mendingan dikit..
Dari panen, ngebersihin, nimbang, dan mlastikin sendiri..
Udah gitu, masih ditawar ama temen lagi.. Sesek banget tuh dada.. harga dah mepet gini, masih ditawar..
Jadi teringat klu lagi nawar sayur di pasar nih... kualat kale...
Pengalaman pait tersebut, bikin saya kapok untuk usaha nanem2 gitu..
KLu ada yang ngajakin bisnis nanem2 gitu, saya tolak..
Rasa2nya meskipun saya punya ilmunya, faktor diluar ilmu saya lebih berpengaruh. Ya iklim, tenaga kerja, dll
Dalam hati sih, hebatan petani. Meskipun ga punya ilmu, tapi berani nekat berspekulasi seperti itu.. Habis, namanya juga petani, klu ga nanem, mereka mo ngapain lagi.. hehe..
dari sisi lain, waktu itu saya berfikir.. emang rejekinya kantoran, ya udah ngantor aja.. jangan ambil rezekinya petani dengan coba2 kaya dengan nanem ... hehe mutung neh..
Setelah itu, saya lebih tertarik bisnis jualan.. Bagi saya waktu itu, resikonya lebih kecil.. harga tidak berfluktuasi, bisa disimpan atau dikembalikan...
Rabu, 30 Juni 2010
Mudah2n dosen saya ini berumur panjang..
Pada awalnya, harusnya saya ujian lisan mata kuliah tertentu.. tapi pada kenyataannya, justru kami (saya+dosen) berdiskusi banyak tentang hal lain, bukan tentang mata kuliah tersebut..
tentang sejarah jurusan kami,
tentang seorang tokoh yang terkadang jadi sulit menerima pendapat orang lain,
masukan tentang jurusan kami
masa depan pendidikan pertanian..
Dari awal, saya sudah suka dengan beliau.. karena saya bisa bebas berpendapat dan beliau sangat menghargai pendapat itu. Bahkan kemudian kami cari jalan temu dari perbedaan pendapat tersebut.. Sungguh, sangat jarang dosen yang mau menerima itu.. Saya sangat bersyukur itu, bahkan jadi memperluas wawasan kita..
Perumpamaannya, bila kita puasa hanya menahan lapar dan dahaga, maka hanya lapar dan dahaga saja yang kita dapat..
Nah, apabila kuliah hanya sekedar mengajar dan ujian (apalagi ujian hafalan), ya hanya hafalan saja yang kita dapat, yang artinya dengan berjalannya waktu, hafalan tersebut bisa hilang dengan semakin tuanya kita..
Bila saya hanya sekedar menghafal, yang saya dapat ya hanya hafalan saja.. berbeda bila kita berdiskusi, bisa plus2 yang kita dapat..
Termasuk saat ditanya masukan apa untuk jurusan kami..
Meskipun terbuka, saya tetap jaga sopan santun. Saya hanya bisa bilang, dibandingkan jurusan lain dan dulu, pengabdian jurusan kami kurang. Saya bingung harus bersyukur atau tidak, dengan banyaknya dosen yang punya banyak proyek. Banyak proyek, artinya banyak pengalaman, tetapi mahasiswa terabaikan...
Dan saya sampaikan betapa dahaganya saya dengan praktek, jangan sekedar teori. Praktek pun, jangan sekedar melaksanakan, tetapi benar2 tau maksud dari praktek tersebut.
Tentu saja, sedikit pesan saya agar rasa enterpreuner ditumbuhkan dari awal.
Karena bagi saya, pertanian sangat dekat dengan jiwa enterpreuner untuk membuka lapangan pekerjaan dibandingkan bidang lain seperti hukum, sosial, dlsb..
Kami pun ngalor ngidul cerita bisnis pertanian dan keilmuan kita..
Seru juga..
Akhirnya saya akhiri dengan doa, agar beliau umurnya panjang..
meskipun hanya satu orang, tapi mudah2n beliau bisa menjadi agen perubah pendidikan menjadi lebih baik..
memang untuk menjadi perubah, ada konsekuensi tidak disukai.. tetapi tetap harus dijalani.
tentang sejarah jurusan kami,
tentang seorang tokoh yang terkadang jadi sulit menerima pendapat orang lain,
masukan tentang jurusan kami
masa depan pendidikan pertanian..
Dari awal, saya sudah suka dengan beliau.. karena saya bisa bebas berpendapat dan beliau sangat menghargai pendapat itu. Bahkan kemudian kami cari jalan temu dari perbedaan pendapat tersebut.. Sungguh, sangat jarang dosen yang mau menerima itu.. Saya sangat bersyukur itu, bahkan jadi memperluas wawasan kita..
Perumpamaannya, bila kita puasa hanya menahan lapar dan dahaga, maka hanya lapar dan dahaga saja yang kita dapat..
Nah, apabila kuliah hanya sekedar mengajar dan ujian (apalagi ujian hafalan), ya hanya hafalan saja yang kita dapat, yang artinya dengan berjalannya waktu, hafalan tersebut bisa hilang dengan semakin tuanya kita..
Bila saya hanya sekedar menghafal, yang saya dapat ya hanya hafalan saja.. berbeda bila kita berdiskusi, bisa plus2 yang kita dapat..
Termasuk saat ditanya masukan apa untuk jurusan kami..
Meskipun terbuka, saya tetap jaga sopan santun. Saya hanya bisa bilang, dibandingkan jurusan lain dan dulu, pengabdian jurusan kami kurang. Saya bingung harus bersyukur atau tidak, dengan banyaknya dosen yang punya banyak proyek. Banyak proyek, artinya banyak pengalaman, tetapi mahasiswa terabaikan...
Dan saya sampaikan betapa dahaganya saya dengan praktek, jangan sekedar teori. Praktek pun, jangan sekedar melaksanakan, tetapi benar2 tau maksud dari praktek tersebut.
Tentu saja, sedikit pesan saya agar rasa enterpreuner ditumbuhkan dari awal.
Karena bagi saya, pertanian sangat dekat dengan jiwa enterpreuner untuk membuka lapangan pekerjaan dibandingkan bidang lain seperti hukum, sosial, dlsb..
Kami pun ngalor ngidul cerita bisnis pertanian dan keilmuan kita..
Seru juga..
Akhirnya saya akhiri dengan doa, agar beliau umurnya panjang..
meskipun hanya satu orang, tapi mudah2n beliau bisa menjadi agen perubah pendidikan menjadi lebih baik..
memang untuk menjadi perubah, ada konsekuensi tidak disukai.. tetapi tetap harus dijalani.
Sabtu, 26 Juni 2010
Sosok mulia teman saya
Sebelumnya, saya curiga keistimewaan teman saya ini.. Harusnya belajar karena mo ujian, ealah.. malah ikutan demo anti israel di Jakarta.. Padahal dia sama sekali belon belajar.. Nekad juga dia.. Jadi penasaran dengan teman saya satu ini..
Memang kami sama2 sibuk, meskipun sering kuliah dan praktikum bareng, kami belum sempat ngobrol jauh.. Setelah ketemu, kami sibuk masing2..
hingga akhirnya, rejeki dari Allah, saya bisa ngobrol dekat dengannya di suatu perjalanan dalam kondisi kehujanan..
Saya menyarankan agar semua urusan ujian dia selesaikan dulu, tapi dia ingin jeda dulu, pulang ke pontianak. Untuk apa?
Mengurus sekolah anaknya.. Lho katanya belum punya anak, Kok?
Terpaksalah dia mengaku, bahwa dia punya beberapa anak asuh. Ada yang SD, SMP, dan mau SMA..
Hebat...
Kok bisa cukup sih mba, gaji dosen PNS membiayai segitu banyak anak asuh?
Jawabannya : jangan kuatir dengan rezeki dari Allah..
Kemudian dia membagi cerita awal keterbukaan hatinya tentang anak asuhnya..
Begitu banyak tokoh yang dia kenal selamat dari musibah akibat doa para anak asuhnya..
Hm Hmm..
Saya jadi teringat cerita notes teman saya..
Seorang kaya raya yang koma tetapi tidak jadi meninggal karena doa anak yatim yang pernah dia bantu, meskipun saat pemberian zakat kepada anak yatim itu untuk riya di sebuah TV swasta..
Saat ini, saya baru tahap memberikan sedikit rezeki saya ke panti asuhan langganan saya. Cuman bila saya sibuk atau males, saya ga bisa selalu rutin tiap bulan ke panti asuhan tersebut. Bisa beberapa kali, bisa juga ga pernah sama sekali..
Alhamdulilah, teman saya memberikan jalan..
Dia mengajak ikutan berbagi ke anak yatim, yang memang ingin saya lakukan secara rutin, tapi belum ada jalan..
Alhamdullillah... Mudah2n rejeki saya bisa lebih bersih..
Amin
Teman saya memang mulia.. Selain rajin ibadah, dia cukup sederhana.. Mungkin rezeki yang dia punya banyak dibagikan.. Dan teman muda saya tersebut sudah bergelar hajjah..
Subhanallah.. senangnya punya teman yang mulia..
Mudah2n saya ketularan..
Memang kami sama2 sibuk, meskipun sering kuliah dan praktikum bareng, kami belum sempat ngobrol jauh.. Setelah ketemu, kami sibuk masing2..
hingga akhirnya, rejeki dari Allah, saya bisa ngobrol dekat dengannya di suatu perjalanan dalam kondisi kehujanan..
Saya menyarankan agar semua urusan ujian dia selesaikan dulu, tapi dia ingin jeda dulu, pulang ke pontianak. Untuk apa?
Mengurus sekolah anaknya.. Lho katanya belum punya anak, Kok?
Terpaksalah dia mengaku, bahwa dia punya beberapa anak asuh. Ada yang SD, SMP, dan mau SMA..
Hebat...
Kok bisa cukup sih mba, gaji dosen PNS membiayai segitu banyak anak asuh?
Jawabannya : jangan kuatir dengan rezeki dari Allah..
Kemudian dia membagi cerita awal keterbukaan hatinya tentang anak asuhnya..
Begitu banyak tokoh yang dia kenal selamat dari musibah akibat doa para anak asuhnya..
Hm Hmm..
Saya jadi teringat cerita notes teman saya..
Seorang kaya raya yang koma tetapi tidak jadi meninggal karena doa anak yatim yang pernah dia bantu, meskipun saat pemberian zakat kepada anak yatim itu untuk riya di sebuah TV swasta..
Saat ini, saya baru tahap memberikan sedikit rezeki saya ke panti asuhan langganan saya. Cuman bila saya sibuk atau males, saya ga bisa selalu rutin tiap bulan ke panti asuhan tersebut. Bisa beberapa kali, bisa juga ga pernah sama sekali..
Alhamdulilah, teman saya memberikan jalan..
Dia mengajak ikutan berbagi ke anak yatim, yang memang ingin saya lakukan secara rutin, tapi belum ada jalan..
Alhamdullillah... Mudah2n rejeki saya bisa lebih bersih..
Amin
Teman saya memang mulia.. Selain rajin ibadah, dia cukup sederhana.. Mungkin rezeki yang dia punya banyak dibagikan.. Dan teman muda saya tersebut sudah bergelar hajjah..
Subhanallah.. senangnya punya teman yang mulia..
Mudah2n saya ketularan..
Langganan:
Postingan (Atom)