Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum

Rabu, 03 Juni 2015

Penelitian : Curhat....

Tadi pagi, saya nonton NGC, National Geographic Channel. Seru tentang bagaimana kehidupan di planet lain, tentang tata surya. Sebenarnya, saya ga terlalu minat dengan astronomi, cuman ada yang menarik dibalik itu.

Berdasarkan drone, pengamatan menunjukkan bahwa kehidupan hanya ada di bumi. Di planet lain hanya gersang tidak ada kehidupan. Kok aneh ya, kenapa di planet lain ga bisa. Kata suami saya, karena hanya bumi yang ada airnya. Kok bisa hanya bumi? Yup, bahasa singkat saya, mungkin bila di Merkurius terlalu panas, sedangkan bila di Pluto, kedinginan kali ya, sehingga mungkin hanya di bumi, yang cuaca dan iklimnya mendukung. Hehe.. Ada sih bahasan singkatnya bagaimana kehidupan itu dibentuk, DNA, yang katanya ada percikan dari komet, atau apalah, saya ga paham karena bukan bidang saya.

Yang menarik bagi saya, melihat antusiasme para penelitinya terhadap tata surya tersebut. Mungkin sama menariknya bila ada yang ngomongin kentang, fisiologi tanaman, hidroponik, langsung deh saya tune in. hehe.. Seabstrak itu mereka membahas bagi saya, sama abstraknya bila pada tahun 1901 pun banyak penelitian tentang kentang, sementara negara kita masih sibuk bagaimana memperjuangkan kemerdekaan. Telaaaaaaaat...

Bagi peneliti, mungkin hal yang membahagiakan adalah di saat ide, rasa penasaran akan keilmuan mereka bisa terjawab oleh penelitian mereka. Huuu.. saya jadi ngiri. Yup, banyak ide dan penasaran saya harus saya simpan dalam hati karena terkendala waktu dan dana. Dari sisi waktu, sebel saya dengan absen yang bikin ga bisa bebas ke lapangan karena bagi saya, saya bisa lah mengusahakan dana penelitian, entah itu dari kantong sendiri atau mengajukan proposal. Mudah2n penjajahan waktu ini segera berakhir deh..

Yang bikin sedih lagi, penelitian terkadang dianggap barang instan. Tahun ini penelitian, tahun depan harus ada hasilnya. Hehe.. berhubungan dengan makhluk hidup kok kayak jual beli begini. Bagi saya, yang penting ada road mapnya. Apa sih yang direncanakan dihasilkan per tahun. Eh, udah diusulkan 3 atau 5 tahun, eh diputus di tengah jalan. Kalau emang asal sih, bisa dimaklumi, tetapi kalau emang beneran tapi belum menghasilkan, ya jangan di-cut dong.. Melunturkan idealisme, sehingga penelitian bikin yang ecek2 aja, yang itu2 aja... Duh, sebagai peneliti yang dibatasi begitu, disitu saya merasa sedih.. *Eh, ini bukan kasus saya lho, hanya melihat yang lain saja*

Saya akui, banyak juga penelitian yang dianggap proyek. Penelitian itu2 saja, rutin, bahkan ada kesan diada2in. Disitu, saya juga terkadang merasa sedih. Pengkajian produksi benih, masak dipisah dengan pengkajian penyimpanan benih, padahal, kita sama2 tahu penyimpanan benih merupakan salah satu item dari produksi benih. Hehe.. kelihatan maksanya kan.
Ataupun pengkajian SLPTT yang itu-itu aja, misalnya. Kalau ga demplot, temu lapang, pelatihan. Mbok yao, hasil2 dari tahun lalu dirumuskan agar ada hal baru yang dilakukan. Minimal ada strategi atau pendekatan lain.. Be out of the box lah..

Saya ngomyang ya.. Ya begitulah. Di saat penelitian dihubung2kan dengan dunia politik, idealisme jadi lewat. Yo wis lah.. monggo... Saya jadi penonton saja..

Jumat, 01 Mei 2015

How Smart You Are?

Dari sekian notes yg ditulis mendiang Yani Libels, ada satu yang mengena di hati saya. Dulu yang saya sebut cerdas adalah yang jago menghafal. Ternyata, yg disebut cerdas adalah yg bisa beradaptasi. Itu kira2..
Hehe.. saya juga sependapat..

Dulu, sedikit baca aja, langsung tuh nempel di otak. Maklum, jaman masih muda. Saya teringat dosen S1 sy yg memuji daya hafal sy, sampe ke titik koma. Terulang saat sy s3 kmrn, saya bisa dpt nilai A di mata kuliah bioteknologi, yg sulit sy pahami, hanya karena sy bisa menghafal tanpa tau maksudnya. Hehe..
Jujur, jago menghafal itu mudah. Bagi yg sulit menghafal, ya harus byk2 latihan. Bisa dibilang, jago menghafal itu bisa dipelajari. Asal rajin, telaten, punya byk wkt, bisa lah. Terus terang, yg jago nenghafal itu bukan kompetitor yg berat...

Second grade. Yg saya sebut smart level kedua, adalah mereka2 yg kreatif, ide2nya brlian, out of the box. Terkadang, kalau sampe keluar ide yg diluar jangkauan normal, bikin kita berdecak kagum. Kok dia kepikir ya? Nah, ini yg kadang2 bikin ngiri. Yup, smart yg ini ga bisa dibeli, dipelajari. Sedikit genetik, tp ya harus diasah dengan byk2 mperluas wawasan. Kuncinya? Curiosity. Semakin pgn tau, smkn tinggi daya hayal, smkn ok deh..
Kadang2 klu emang secara genetik ga smart, hanya karena rajin belajar, ya agak susah kreatif deh.. cukup smart level 1 deh.. hehe

Nah, level ketiga yg baru2 ini sy sadari adalah smart yg mampu beradaptasi dlm kondisi apapun. Pernah liat juara kelas, tp malah jobless? Ato anak bandel, tp justru jadi pengusaha tokcer.
Setiap orang pasti mngerasain berat beradaptasi pada kondisi yg tidak diinginkan, tapi social smart inilah yg akan menentukan penerimaan masyarakat ttg kecerdasan kita.

So, what smart level you are?

Sabtu, 18 April 2015

Rasio Hara dalam Nutrisi

Minggu lalu, saya jalan2 ke lapangan.. Dinas luar pertama secara legal ke lapangan, setelah perdebatan mengenai status kerja saya..

Awalnya sih, cuman mo cari petani dan lokasi calon penelitian, tapi kok, si calon punya tanaman hidroponik juga.. biasalahhh, saya mampir pengen liat.. hmhm.. biasa aja sih, tapi yang menarik adalah petani tersebut menggunakan nutrisi ab mix dari toko x untuk tanaman daun karena tanamannya petsai, kale, dan kangkung.. Dilihat jenis tanamannya, sebenarnya jelas kebutuhan haranya berbeda, meski sama2 tanaman daun..

Ah, saya jadi ingat cerita toko x yang cerita banjir order, pesanan nutrisi dg formula tertentu untuk di repacking dg merk tertentu. Hehe.. sampai sekarang, saya belum berniat ikut2n jualan nutrisi. Tepatnya blm sempet.. yang sekarang aja saya kedodoran kok. Kecuali saya jadi pindah kerja.... hehe..

Dalam nutrisi, biasanya hanya konsen pada konsentrasi, berapa ppm atau paling banter berapa ec or ph nya. Yup bagi pembeli, tapi bagi penjual? Semakin tidak spesifik keperuntukannya, semakin moderate pemilihan haranya. Ya, tentu cari hara yang amanlah. Bila bingung kok sama2 untuk tanaman daun, harga bisa beda, hasil juga beda. Ya iyalah, wong kandungannya bisa jadi beda.

Dari dulu, saya sangat tertarik dengan rasio hara. Misal antara amonium dan nitrat, dan perbandingan hara lain dengan nitrogen. Setiap tanaman memiliki ke khas-an tertentu terhadap hara. Contoh, kentang tentu ga mau kebanyakan amonium. Dalam satu tanamanpun, beda tahapan pertumbuhan, beda pula kebutuhan dan rasio haranya.. Contoh, masa vegetatif tentu beda dg generatif lah ya.. Mumet ya? Bagi saya justru itulah yang menarik.

Wah, kalau harus njelasin setiap hara.. bisa satu mata kuliah sendiri. Alhamdulillah, S2 saya Ekofisiologi tanaman. Silahkan baca bukunya Marchner. Mungkin bagi budidaya konvensional di tanah, hara ga ngaruh2 banget, sampe bikin tanaman mati. Tapi kalau untuk hidroponik, hehe.. wajib baca deh..

Bagi hobis, tentu ga usah repot bikin nutrisi sendiri, jatuhnya bisa mahal, tapi bagi yang komersiil, hehe.. bikinlah sendiri. Anda akan terkejut perbedaan hasilnya. Bisa saja mati, tapi Inshaa Allah, kemudiandapat formula terbaik. Percuma nanya ke produsen nutrisi berapa kandungan haranya, ga akan dijawab.. hehe..

Apakah saya sudah dapat formulasi unggulan untu kentang? hehe.. once again not yet.. masih terus dicari..


Kamis, 16 April 2015

Innalillahi wa Innalillahi Rojiun..

Innalillahi wa innalillahi rojiun. 40 hari lalu, ibu saya meninggalkan kami sekeluarga. Allaahummaghfirlahaa warhamhaa, wa aafihi wa' fu' anha..

Saya kira, kepulangan saya ke rumah jogja, hanya untuk menengok ibu saya yang memang sedang sakit, ternyata, untuk melepaskan kepergian beliau.. Nano-nano rasanya..
Apa yang bisa saya share?

Sungguh, saya ga punya pengalaman mengantarkan seseorang sakratul maut. Berbekal pengetahuan saya saja, yang bisa saya lakukan. Dari menuntunkan Laillahaillallah, semua dzikir, mbaca Yasin, sedekah.. Minta ustadz juga untuk membimbing. Semua itu memberi pengalaman spiritual kepada saya. Kita tidak pernah tau kapan kita akan meninggal, sehingga kita harus mempersiapkan dg sebaik2nya, agar bisa berakhir khusnul khotimah.. Amiin 3x yra..

Iklas, pasrah setelah melakukan yg terbaik, mungkin bisa menjadi penenang bagi saya yang banyak maunya.
Memperbanyak memberi manfaat kepada sesama. Yah, yg terakhir ini, saya terinspirasi kepada ibu saya.. Begitu banyak orang yang kehilangan beliau krn ibu banyak membantu orang. Jauhlah dibandingkan saya.. Mudah2n saya diberi banyak kesempatan untuk memberi manfaat kepada orang lain..
Amiin yra..

Label baru : My Baby

Kesibukan mengurus baby akhir2 ini, bikin saya mengerti kenapa surga di telapak kaki ibu, kenapa wanita perlu cuti 3 bulan setelah melahirkan, dan mengapa pertumbuhan anak sgt ditentukan oleh ibu.. Intinya, betapa besar peran ibu bagi anak. Ah.. sayabg sekali bila ibu2 menyia2kan kesempatan emas ini. Ya.. pertumbuhan awal yg menentukan kehidupan anak selanjutnya, baik pertumbuhan fisik, mental, dan spiritual si anak.

Kesibukan malam hari, ganti pampers, ngasih susu, belum klu lg rewel hrs ngegendong.., kerja ngantor justru bisa dibilang waktunya istirahat alias ngantuk.. hehe..  meskipun dbantu hubby, tetep dong ibunya yg mberesin semuanya.. Ah, jadi nyesel, klu ingat sy sering ngeyel bila dimintain tolong ibu.. *maafin ya bu, Al fatihah*

Karena tugas, sempet saya ninggalin baby. Aduh, saya langsung dicuekin euy.. Diajak becanda2 ga mau, maunya sama ayahnya aja.. Sediih bgt.. Ga pulang saat istirahat kantor, juga dicuekin.. waduh..

Pas si baby imunisasi, ato lg sakit, duh..pengen rasanya ngegantiin dia yg lg kesakitan. Lebay ya.. biarin deh.. Ga pernah sy bikin nangis si baby. Mo nangis dikit, langsung deh dibuat jgn nangis., eh, ternyata saya salah, nangis ternyata juga olah raga ya.. hehe..

Tuh kan, betapa besar peran ibu. Untung, sekarang serba online, jadi gampang baca2 bagaimana agar perkembangan si bayi bisa maximal. Untung pula, temen2 seruangan di kantor sdh berpengalaman ngurus bayi, jadi deh bisa konsultasi gratis.. Meskipun, kadang penasaran aja setiap treatment kenapa begini begitu.. hehe..

Yang terakhir, saya jadi males ngantor nih. Apalagi suasana kantor yg ga kondusif, bikin pengen main2 aja sm my baby deh.. hehe.. Jadi mulai sekarang, saya tambahin label blog saya tentang baby ya.. sekedar sharing saja..

Kamis, 02 April 2015

Jangan curi biodiversitas negara kami (lagi) : Oleh2 diklat 1

Sudah lama pengen sharing topik ini, tapi kesibukan mengurus baby, jd ga sempet2 deh.. Iya, posting kali ini terinspirasi saat saya mengikuti diklat fungsional peneliti tingkat lanjut di LIPI beberapa minggu lalu..

Sebenarnya, saya sering dengar dan paham, betapa kayanya biodiversitas negara kita. Banyak negara iri dan ngincer kekayaan flora dan fauna kita. So what? Dibawa tanaman kita ke negaranya? Sayang sih, ah tapi kan cuman dikit. Paling cuman ditanam di negaranya, yg belum tentu hidup, kita sendiri ga akan kehabisan deh.. kan kita kaya.. owww.. the stupid thinking !! Dari seorang yg ngakunya org pertanian (doktor pula... sssst, jgn keras2 ya). Pembelaan saya, saya kan bukan doktor pemuliaan tanaman *kaboooor*

Malu saya saat mendengar penjelasan pakar biodiversitas. Merasa dibodohi pula, keinget dulu jaman masih muda, dengan bangganya, jadi counterpart peneliti2 asing, nganter2 mereka jalan2 mamerin betapa kayanya Indonesia..

Jadi modusnya, mereka ngambil sampel yg unik dan meniru secara laboratorium untuk diperbanyak scr sintetis. Mereka punya ilmu & modal, jadi ga masalah seberapapun mahalnya analisis ataupun blm ketemu ilmunya, pasti akan dikejar krn mereka ulet. Yang mereka ga punya adalah inspirasi. Dan kekayaan biodiversitas kita adalah gudangnya inspirasi dari Allah, yang ga akan habis2nya digali oleh manusia.

Sebagai contoh. Katanya di kalimantan, sebuah lebah bila makan kayu tertentu, akan menghasilkan enzim yang dapat mengobati suatu penyakit. Bila terpisah sendiri2, lebah atau kayu tersebut, tidak akan menghasilkan sesuatu.
Nahh, kok bisa enzim itu tergali kehebatannya? Ya, karena kearifan lokal dari masyarakat disana. So jangan meremehkan kearifan lokal lho ya.. Dan tau apa yang terjadi? Beberapa obat yang beredar di kita merupakan hasil pencurian ide dari biodiversitas negara kita oleh negara lain..
Jadi letak beratnya pencurian, bukan pada materi, barang yang dicuri, tapi informasi, content dari materi tersebut.

Ups.. sedih rasanya. Kok kita selalu jadi konsumen dari yang harusnya bisa jadi milik kita ya.. ingat saat booming, heboh jualan tokek kering? Halooow, serbuknya yg telah diolah bisa menjadi obat kulit yang mahal.. obat flu burung? Udah ah, males cerita contoh lainnya, takut ada yang marah dan juga bikin gondok di hati..

Di sini, saya hanya punya kewajiban menyebarkan agar jangan ada vanda2 lain yang lugu, mamerin biodiversitas kita untuk dicuri. Sebenarnya ada sih undang-undangnya, tapi dimana2 juga maling pasti lebih licik. Bule2 itu pasti akan cari banyak cara, baik dengan pura2 ngajak penelitian kerjasama luar negeri (kayak keren to, ini terbukti dg byknya pengajuan proposal, dan mereka mencari korban2 lugu lainnya, misalnya dg perguruan tinggi tidak beken) ato pura2 wisata gitu deh..
So, mulai sekarang, jangan mau ditipu ya. Minimal berhati2lah, jangan lugu2 amat. *to be continued*

Rabu, 25 Maret 2015

Nikmat mana yang kaudustakan?

Beberapa hari lalu, teman curhat tentang perjuangannya untuk bisa dapat beasiswa doktor. Ehm., Alhamdulillah, masa itu sudah saya lewati. Jadi teringat beberapa teman saya, yang harus meninggalkan suami dan anaknya untuk meraih gelar tersebut. Ga mudah rupanya. Ada yang sering saya dengar tangis di malam hari, temen kos saya dulu karena rindu anaknya, Ada 2 temen saya yang tidak berhasil meraih gelar tersebut, tapi justru meninggal dunia karena sakit, stress kah? Wallahualam. Tapi banyak juga, yang dengan sakit parah, hutang sana sini, akhirnya lulus juga. Alhamdulillah..
Tapi ngeres juga sih, melihat usaha temen saya untuk bisa jadi doktor dg mengabaikan keluarganya. Anak dan suaminya.

Kok, mendadak ada rasa, "nikmat mana yang kaudustakan". Saat saya mengaji di antara perjalanan pulang ke Jogja, menengok ibu saya sakit, di tengah malam, nemenin suami yang lagi nyetir.. Yup, sering saya mendengar bacaan Surat Arrahman, disetiap subuh, dari kaset mesjid sebelah rumah saya. Sesekali, saya mengajinya krn bacaannya yg mudah, pendek dan saya memang menyukainya. Kali ini menyentuh saya, diantara keheningan malam..

Bisa jadi, saya termasuk mudah mendapatkan gelar doktor (meskipun, tetep aja berat sih), dibandingkan teman2 saya.. Tapi bisa jadi pula, saya terlalu fokus pada kekurangan saya, sehingga nikmat doktor, yang begitu diimpi2kan teman2 saya, menjadi seolah biasa saja mendapat gelar doktor. Sebaliknya, bisa jadi teman saya yang memiliki anak2 yang lucu2, menjadi terobsesi pengen jadi doktor, dengan mengabaikan anak2nya, yang begitu saya harap2kan..

Astaghfirullah.. Mungkin ini yang disebut, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri.. Astaghfirullah.. mungkin, saya termasuk orang2 yang kurang bersyukur.. :-( Meskipun, saya ga mau dibilang ga bersyukur memiliki ilmu setelah jadi doktor), tapi bisa jadi saya terlalu fokus dg kekurangan saya.. Astaghfirullah..

Sabtu lalu, saya baca buku tentang sepasang suami istri yang memiliki puluhan anak asuh dan belasan anak angkat. Si ibu melakukan hal tersebut karena wujud rasa syukurnya atas nikmat umurnya setelah beberapakali hampir saja meninggal saat caesar. Keiklasannya, kebaikan hatinya, membuat saya serasa membaca cerita fiksi daripada sebuah autobiografi.. Ada ya orang sebaik itu.
Ah, mendadak saya merasa ga ada apa2nya. Banyak kesempatan berbuat baik tapi saya sia-siakan.. Dan, semua itu memang berpangkal dari rasa syukur. Bila kita mrasa bersyukur, hilanglah semua keluh kesah ini.. Dan pelajaran syukur ini srasa naik turun,  betapa susahnya menstabilkannya..