Topik Judul

Cari Blog Ini

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)

Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??

Pemesanan Benih Kentang :

Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065

email : vansekar@yahoo.co.id

LAYANAN KONSUMEN JM FARM :

Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang
,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum

Selasa, 18 Februari 2014

Mencari Ide

Entah kenapa saya merasa berbeda sejak masuk kantor lagi dibandingkan dulu saat selesai master. Ide, serasa berseliweran di benak saya, tanpa saya undang. Bahkan terkadang, saking serunya ide, terbayang-bayang hingga ga tidur-tidur.. *Lebay*

Dulu, selesai master, memang ada ide, tetapi ga sesemarak ini. Bahkan sekarang, saya sering disebut hubby, banyak maunya, tapi ga ada aksi. Yup, ga punya waktu untuk merealisasikan ide, sehingga seolah NATO, no action, talk only.. Hmhm.. seandainya punya pasukan untuk merealisasikan ide2 saya...

How comes?
Di kantor, saya pun banyak usul, memberikan saran. Ada yang disetujui, ada yang dicemooh, ada yang menghargai, ada yang dongkol.. Warna-warni. Hehe, I don't care. Tapi Alhamdulillah, meskipun ada yang sinis, di setiap ide saya, selalu ada yang menghampiri saya dan mendukung, mengapresiasi saya.

Dipikir-pikir, kok saya sampai segitunya sih. Saya sendiri heran kok. Hingga saya mengevaluasi diri, perbedaan saya sebagai master dan doktor. Masak iya karena perbedaan gelar ini.. Akhirnya saya ungkapkan ke hubby, dan di acc olehnya..

Banyak penyebab utama, seperti sekarang saya punya bisnis mapan sendiri. Tentu punya bisnis harus bisa berfikir multi disiplin dan multi-multi yang lain. Dulu, hanya sebagai peneliti, tentu pikiran saya hanya satu arah. Saat ini, tentu berbeda, ya saya berstatus peneliti dan petani. Ah.. tapi apa ya yang bikin beda...

Jawaban tak terduga saya adalah karena salah satunya saya sering nonton TV berbayar. Haha....
Banyak channel yang saya suka seperti BBC, NGC, AFC, DC, dll. Ga lupa serial kriminal di Fox crime, Fox channel, AXN, dll. Kok bisa, hubungannya apa..

Kalau channel BBC dkk, pasti ketahuan deh, karena channel mereka memang soal ilmu pengetahuan dkk. Kalau soal serial kriminal?

Bila kalian juga penikmat serial kriminal, pasti paham maksud saya. Mungkin 4 tahun ini saya terbawa cara berfikir mereka. Terutama bos-bos dan tokoh sentral serial.

#1# NCIS, Gibbs. Awalnya saya ga begitu suka dengan tokoh bos ini, karena kebiasaannya yang suka nampar kepala anak buahnya bila salah. Bagi orang timur seperti saya, terlalu deh. Tapi jangan salah, dia care banget sama anak buahnya lho. Saya suka salut dengan instingnya, bagaimana dia berfikir jauh ke depan. Ga terasa, saya jadi ikut2an seperti dia. Berusaha berfikir step a head than others. Kadang saya keki, kok bisa sih mikir jauh ke depan seperti itu. Tapi, lama2 ketahuan juga polanya, jadi saya pun niru pola2 pikirnya..

#2# Max. Nah, ini bos baik bangets. Care tapi cara dia ngumpanin ide ke anak buah, ok lah. Niru-niru cara humanisnya lah.

#3# Bone. Ini mah scientific banget, bahkan terkadang terlalu naif. Terkadang, kalau saya lagi naif, saya sering diledekin hubby sebagai Dasar Bone. Padahal, saya suka keki dengan kenaifan Bone.. Artinya, mungkin banyak juga yang keki dengan kenaifan saya kale ya..
Yang salut dari tokoh ini, wuih, pinter banget. Dia benar2 mendalami ilmunya, sehingga bisa menemukan hal2 baru. Hehe.. pengen juga sih nantinya kayak dia.

#4# Megan, di Body of proof. Kalau ini memang pinter, tapi ngeyelnya nyebelin. hahaha.. Tetep salut lah dengan kepinterannya..

#5#Castlle. Yang saya tiru, berusaha berfikir out of the box, jadi bisa mengimbangi pasangannya yang terlalu mengikuti SOP.

Nah, yang baru-baru ini saya suka cara berfikir jauh ke depan adalah Mentalist. Heran saya, kok bisa sih berfikir begitu. Karena serial ini agak baru, saya belum tau pola pikir jauh ke depannya. Tapi asyik juga nih tokoh, meskipun terkadang nyebelin gaya sok taunya..

Simpulannya
Belajar bisa dari mana saja. Bisa dari membaca buku, menonton TV. Asal jangan nonton Sinetron ya. Kalau kata saya, Sinetron mah, pembodohan laten.. Alhamdulillah, sudah 4 tahun ini, saya puasa sinetron dan ga pengen buka puasanya..

Senin, 17 Februari 2014

Meluruskan Konsep Hidroponik : Oleh-oleh Pelatihan Hidroponik 2

Lanjutan

Kembali ke laptop..

Tentang materi...
Ada satu yang mengganjal dari pelatihan tersebut.
Dikatakan, disebut hidroponik karena budidaya tanpa tanah. Kenapa ga boleh pake tanah? Jawaban dia karena tanah tidak steril dan ga inert.

Perlu saya luruskan disini, tanah mengandung hara makro dan mikro yang tidak diketahui berapa jumlah tepatnya. *Bisa sih diketahui, tapi jumlah tepatnya harus dicari dengan uji laboratorium* Berhidroponik berarti menggunakan nutrisi buatan yang terukur, agar diperoleh produksi yang diinginkan. Maka sulit dong nentuin berapa nutrisi yang harus diberikan bila menggunakan media tanah. Beda bila menggunakan media yang tidak ikut berperan menyumbang tambahan hara seperti pecahan genting atau sekam bakar, karena gampang dihitung berapa nutrisi yang harus diberikan. Jadi media disini lebih bersifat sebagai penopang tumbuh saja, bukan penyumbang hara.

Sama halnya dengan, mungkinkah berhidroponik dengan nutrisi alami/organik. Pertanyaannya, bagaimana ngukur kandungan nutrisi alami tersebut? Nutrisi alami tersebut mengalami proses reaksi alami seperti pelepasan N, yang sulit diukur tepatnya. Terus gimana dong nentuin berapa nutrisi alami yang harus diberikan, misalnya pada kasus aquaponik.

Bukan berarti berhidroponik dengan tanah atau nutrisi alami menyebabkan tanaman jadi mati, tetapi budidaya tersebut tidak bisa disebut hidroponik lagi atau tepatnya, kehebatan hidroponik ga kelihatan. Emang sih, banyak salah kaprah di kalangan umum. Biarin dah, yang penting nanem deh. Bagi hobiis atau ibu-ibu untuk keperluan rumah tangga, ga masalah, tetapi untuk bisnis, hehe.. output maksimal dengan keuntungan sebesar-besarnya sulit diperoleh.. Namanya juga hobiis, yang penting tanaman tumbuh, bisa dipanen, ga begitu peduli berapa kg produksi, asal bisa dimakan atau seberapa cantik penampilannya atau seberapa enak dimakan karena dinikmati dan dimakan sendiri. Kalau untuk bisnis? hehe..

Kenapa begitu? Taukah kehebatan hidroponik? Dengan dapat menghitung berapa nutrisi yang harus diberikan, kita juga bisa memprediksi produksi yang akan diperoleh. Kalau di media tanah, sulit hal demikian bisa diperoleh karena terkadang tanah mengikat hara, sehingga prediksi produksi meleset. Sedangkan dengan hidroponik, Kita bebas menentukan berapa produksi yang dicapai. Ada yang suka memberikan EC tinggi (terutama untuk sayuran daun) agar tanaman bisa cepat panen, waktu hemat, sehingga diperoleh banyak musim, tapi boros nutrisi *tapi kalau emang lebih feasible sih, ga masalah kale*. Semua punya mahzab sendiri2 sesuai pengalaman dan teori yang diyakininya.. *ciecie*

Makanya, saya ga heran bila konsumen benih aeroponik saya terheran-heran dengan pertumbuhan tanaman kentangnya.. Katanya Granola L, tapi kok berbunga, bu.. Atau, heran dengan betapa bongsornya pertumbuhan kentangnya.. Yang, terkadang bisa melebihi tingginya orang.. Hehe.. Halow.. ini bukan genetis lho. Ingat, pertumbuhan tanaman itu merupakan interaksi antara genetis dan lingkungan dan........... Hidroponik berusaha mempengaruhi lingkungan agar berproduksi maksimum dan kualitas maksimum. Kuncinya, salah satunya ya nutrisi..
Jadi, sekali lagi jangan heran ya, dan pleasee... jangan ributkan lagi masalah berbunga dan tidak berbunga *silahkan baca postingan saya tentang berbunga, males ngomentarinnya sih*

Cari-Cari Inspirasi : Oleh-oleh Pelatihan Hidroponik 1

Minggu lalu, saya ikutan pelatihan hidroponik by praktisi. Ceritanya sih, cari-cari inspirasi. Kali aja ada yang baru atau mencoba berfikir out of the box, atau minimal nambah teman lah..


Ternyata, pelatihan tersebut, benar-benar untuk pemula dengan kapasitas peserta yang cukup banyak. Kebayang deh, jadi ga dapat apa-apa dari sisi materi. Tapi ada yang ingin saya sharing disini.

#1# Salut dengan animo pesertanya yang banyak. Sepertinya kaum menengah ke atas dan kebanyakan dari Jakarta.
Jujur, saya ngiri melihat banyaknya peserta, bukan masalah salary-nya. Saya adalah pelayan masyarakat, terutama petani. Saya sering mengundang pertemuan atau pelatihan kepada petani, tapi aduuuh, sudah dikasih ongkos, dikasih makan, yang datang ga pernah bisa banyak. Kenapa? karena petani saya kebanyakan masih miskin, yang masih mikir dapat duit berapa, bukan berapa banyak ilmu yang saya peroleh dari pelatihan. Grggr.. saya terkadang membatin dalam hati, petani-petani itu sadar ga sih, kalau banyak orang kaya yang berani bayar mahal untuk mendapat pelatihan dari saya, tapi tidak saya sanggupi karena saya DIWAJIBKAN lebih memperhatikan petani miskin yang susah diajak kaya.. wuih.. kasar amat ya..
Memang sih, setelah mereka paham betapa bergizinya pelatihan/penyuluhan yang saya berikan. Mereka tuman atau dikit-dikit SMS atau telpon bertanya ini itu ke saya. Terkadang, saya sendiri malah jadi repot *tuing tuing*

#2#Siapakah yang layak menjadi mentor?
Relatif. Salut juga dengan para praktisi yang berani membuat pelatihan komersil. Ga masalah sih, meskipun tidak berpendidikan pertanian memberikan pelatihan pertanian. Tapi mestinya, hendaknya belajarlah tentang pertanian, minimal dasar-dasarnya lah.
Saya pernah baca tulisan praktisi tentang hidroponik, dia bisa bercerita tentang pengalamannya mencampurkan nutrisi diikuti teorinya bagaimana reaksi pencampuran dan kesalahan2 yang dia alami. Salut, jam terbangnya dan dilandasi teori2. Terus terang, pengen sekali2 berdiskusi dengannya.
Tapi jangan salah, ada juga peneliti, akademisi yang text book. Cuman main comot dari buku sana-sini tanpa pengalaman yang jelas. Bahkan terkadang, saya juga prihatin bila ada mentor yang bukan bidang keahliannya, nekat mengajar. Tau cara membedakannya? Coba deh orang tersebut disuruh ngasih contoh, pasti gelagapan deh. Ya iyalah, misalnya orang ternak disuruh ngajar bikin benih bunga krisan.. Jangan salah, honor jadi mentor tuh cukup menggiurkan lho..

Setau saya, apabila pernah mendapatkan pendidikan sarjana pertanian, pasti pernah merasakan disiksa berbagai praktikum dengan laporan yang berjibun. Minimal, pernah nyangkut tentang dasar-dasar pertanian. Yang diobok-obok, minimal 4 tahun lah. Jadi, sebenarnya sayanglah, bila sarjana pertanian tidak menggeluti pertanian, dan bersyukurlah bila sarjana pertanian yang benar-benar mendalami pertanian *thanks God*

#3# Reportase iseng dari pelatihan tersebut...
Saya pindah-pindah kursi saat pelatihan. Maksudnya, biar kenal banyak teman. Dari sekian banyak teman itu, mereka mengajak agar saya ikutan bertanam hidroponik dan mengajari saya cara membuat persemaian.. Hehe... Salut deh buat semangat teman-teman baru saya...

Kamis, 23 Januari 2014

Senior vs Yunior

Hari ini saya agak surprise dg respon senior sy tentang ide saya demi kemajuan institusi kami. Awalnya beberapa kali ide saya, selalu dimentahkan, dikritisi olehnya. Hmhm, saya fikir, mungkin karena jealous saja, kedatangan saya kembali ke kantor, mungkin 'mengancam' dia.. Hingga, kejadian tadi siang. Tak ingin membahasnya, tapi ada pelajaran yang dapat saya petik..
Seandainya, saya menjadi senior sepertinya. Mungkin kedatangan saya, sangat menyebalkan. Anak muda, doktor, dikit2 kasih ide, ide cemerlang pula.. grgrgrh, gemeees kale.. seandainya harus berempati, hehe.. saya mungkin keki juga kalau ada anak muda kayak begitu.. hahaha.. Untung, hingga saat ini belum ada yunior saya yg senyebelin begitu.. hehehe
Tidak ingin bernasib seburuk senior saya itu. Sepertinya saya harus mengantisipasinya. Sudah hukum alam, selalu ada bibit muda dan kita pun menua. Artinya, ada kalanya suatu saat kita pun akan ketinggalan, karena space kita memang terbatas sbg produk lama. Beda dg anak baru, respon lebih cepat tanggap...
Artinya? Belajarlah terus, tanpa mengenal umur. Kalau ga mau kalah dg yg muda, ya resikonya terus belajar. Jangan jadi pecundang dg berlindung sbg senior.
Be wise.. pengalaman bukan dipamerkan seberapa senior kita, seberapa banyak umur kita.Pengalaman mestinya menjadi dasar kita untuk memperkaya ilmu. Dan esensi dari ilmu adalah menyikapinya dengan bijaksana.
Be gentlemen. Di atas langit, masih ada langit. Tidak perlu defense, bila memang ada orang lain yg melebihi kita. Caranya, ya tentu selalu terbuka dengan hal hal baru. Jangan nilai harga diri kita terlalu tinggi, sehingga saat kita merasa kalah, merasa harga diri kita jatuh berkeping keping..
Saya punya senior yang cukup bagus. Dia selalu support ide2 saya, tanpa merasa dia dikalahkan oleh saya. Hmhm.. entah bagaimana dia mengatur hatinya agar maklum dg kelakuan spontan saya yg terkadang menyebalkan *hihi*
Sepertinya, saya pun harus terus belajar seperti itu, biar saya pun ga perlu keki ngeliat yunior nyebelin seperti saya suatu saat nantinya..
Ayuk..

Jumat, 17 Januari 2014

Mengatur Pertumbuhan Tanaman Kentang

Saya agak mengerutkan kening saya, saat teman senior saya lebih memilih budidaya kentang dengan input minimum untuk produksi benih kentang agar benih kentang yang dihasilkan kecil, tidak besar, seperti yang banyak diminati konsumen benih..

Dulu, saya juga berfikir seperti itu. Paling tidak, begitu jawaban saya saat ditanya ujian kualifikasi doktor dulu. Alhamdulillah, saat ditanya oleh dosen penguji saya luar saya, Bapak Dirjen Hortikultura, sudut pandang saya sudah berubah..

Karena satuan menjual benih G2 dst dalam satuan gram, maka konsumen lebih memilih benih kecil dengan jumlah yang banyak agar diperoleh lubang tanam yang banyak..
Setuju, bila dihitung alasan ekonomi, tetapi tidak setuju, bila memandang dari sisi prospek hasil. Saya yakin petani pun paham, benih yang ukuran besar, potensi menghasilkan umbi lebih tinggi, dengan catatan, petani yang berpengalaman lho ya.. Karena bila belum berpengalaman plus nanamnya di musim hujan, hehe.. malah bisa gagal panen deh..

Benih yang kecil, potensi hasilnya pun ikut kecil. Bahkan wajib didukung pupuk sgala. Kalau benih besar, terkadang ga perlu pupuk dasar, karena cadangan makanan dari umbi sudah cukup banyak. Silahkan cek saat panen, terkadang pupuk dasar masih nyisa, apalagi kalau lagi kering..

Kenapa harus berpengalaman?
Bila belum berpengalaman, benih yang besar akan menghasilkan benih yang besar pula, istilahnya kecelakaan... karena akan lebih banyak umbi yang dijual konsumsi daripada untuk jadi benih..

Alhamdullillah, musim lalu, saya bisa panen 44 t/ha dengan rata2 jumlah umbi lebih dari 15. Benih yang dihasilkan sedang2 saja. Tidak terlalu besar karena dibagi dalam jumlah umbi yang banyak, tetapi juga tidak terlalu kecil, karena pertumbuhan vegetatifnya cepat dan tinggi.

Dengan demikian pertumbuhan benih besar harus bisa diatur, bagaimana agar tidak fokus ke pertumbuhan vegetatif (daun, batang) dan segera beralih ke pertumbuhan umbi.
Caranya?
Hehe.. Silahkan jadi konsumen saya....

Minggu, 05 Januari 2014

Salahkaprah tentang Makanan : Ayo Sayangi Tubuhmu

Beberapa bulan lalu, saya baca buku bagus.. Mantap boo..

Awalnya saya nonton NGC, kalau ga salah, disitu disebutkan terjadi salah kaprah kalau tidak boleh makan daging dan perlunya mengurangi karbohidrat. Katanya, ini hanya politik dagang saja.. Di situ disebutkan, penelitian mengurangi daging justru malah tidak sehat.. Jadi bingung :(

Akhirnya, saya ga sengaja baca buku seller itu, yang beli hubby sih. Saya bawa sebagai bahan bacaan saat mudik lebaran haji dulu di bandara. Hmhm.. tidak setuju semua, tapi karena disebutkan semua alasan teorinya dan latar belakang penulis sebagai dokter yang meneliti pencernaan pasien2nya.. Cukup mencerahkan lah..

#1# Susu sapi untuk anak sapi. Susu manusia ya untuk manusia..
Sebenarnya, yang ini sudah pernah tau dikit. Tapi penjelasan ilmiahnya, baru tau.. Konon yang katanya meningkatkan kalsium, hehe ternyata salah bung, malah menggerogoti.. Untung saya bukan penggemar susu, padahal saya pernah galau, jangan2 ntar kalau tua bakal osteoporosis. Ternyata cukup makan tulang2 kecil aja deh.. Untung saya suka ngabisin tulang ikan.. hihi *ketauan greedy ye..*
Juga akibatnya terhadap alergi. Apa karena itu ya, sekarang banyak anak sekarang dikit2 alergi x, y, z. Konon ini berdasarkan pengamatan si dokter, bahkan terhadap anaknya yang kemudian meninggal. Hmhm..
Pertanyaan cerdasnya, terus, yang ga punya ASI, bayi dikasih apa? Sempet bingung juga sih ngejawabnya. Aha... Bukan harus dikasih apa, tapi si ibu harus berbuat segala hal, gimana caranya ber-ASI dong.. hehe..

#2# Pentingnya air ludah..
Wow, yang ini saya bener2 ga ngeh. Beda lho, ga tau dan ga ngeh ya.. *ngeles*. Yup, Tadinya saya fikir kenapa kita harus banyak mengunyah, hanya karena biar makanan jadi lebih halus, mudah dicerna oleh usus. ternyata oh ternyata, karena dalam rangka mengaktifkan enzim di ludah, yang begitu hebatnya membantu pencernaan kita. So, runtuhlah itu pentingnya enzim pencernaan buatan atau makanan lembut buat orang sakit dll..
Dan, anehnya, katanya dengan banyak mengunyah, akan lebih mengenyangkan. Cocok banget buat diet. What? sulit euy, belum juga berapa kali ngunyah, eh.. sudah refleks ngloyor masuk ke perut.. hhihi..

#3# Makan buah sebelum makan berat
Ini mah sudah tau, tapi suka lupa dalam prakteknya. Udah selesai makan berat, baru ngeh, eh belon makan buah. Berusaha mendisiplinkan diri makan buah 1 jam sebelum makan, masih sulit, apalagi kalau di kantor, lagi dinas luar...

#4# Bahayanya makan obat maag
Bila terlalu banyak gas dalam perut, bukan dengan minum obat maag solusinya. Iya dalam jangka pendek. Tapi perlahan, perbaiki adab makan. Makan buah dan banyak minum sebelum makan, kunyah selembutnya, makan pelan2, makan tepat waktu. Siip deh, pelan2 sembuh.. Tapi mungkin lama, bagi yang ga sabar..

#5#banyaknya makanan ga sehat..
Duh, hari gini sulitnya makan makanan sehat. Makanan ga sehat akan menguras enzim baik dalam tubuh kita.
Paling enak dan gampang adalah digoreng. Jadi deh, kalau makan gorengan, minyaknya dibersihin pake tisu.. *centil banget ye*
Udah gitu, paling bagus adalah makanan segar, termasuk bila setelah diolah langsung dimakan. Kalau ga, bakal teroksidasi. Hmhm.. Mo nanem sendiri di pekarangan ah, tapi sering lupa nyiram.. Ceritanya masak banyak, biar ga bolak-balik masak tiap hari, tinggal diangetin.. Salah juga..

Bener2 ga selaras bagi orang sibuk. Tapi buat apa ya sibuk, banyak duit, banyak penyakit... Hmhm.. Ayuk deh, sayangi tubuh sendiri.. *introspeksi*



Apalagi ye.. Ih, baca sendiri ya.. ntar kalau dibahas semua, dimarahin ama penulisnya.. hihi..

Sabtu, 04 Januari 2014

Teknologi Spesifik Lokasi Kentang

Sering orang latah menyebut Teknologi Spesifik Lokasi (TSL).. Yang bagaimana sih TSL itu?

Jaman dulu, kalau ingat padi pasti inget program panca usahatani (benih unggul, pupuk, irigasi, pengolahan lahan, proteksi tanaman). Dulu, program ini menjadi suatu paket teknologi dan berlaku umum di semua daerah, jadi semestinya diterapkan kelima2nya..
Saat ini dikenal pengelolaan tanaman terpadu (PTT) yang kemudian dikembangkan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu. Prinsipnya adalah terpadu, sinergis, spesifik lokasi, dan partisipatif. Terpadu dan sinergis dalam artian semua teknologi, sumberdaya manusia, sumberdaya alam saling dipadukan untuk memberikan efek sinergis yang lebih baik. Spesifik lokasi artinya pemilihan teknologi disesuaikan dengan lokasi. Partisipatif artinya perlunya keterlibatan semua pihak terutama masyarakat..

Kalau di padi dikenal teknologi utama (seperti benih unggul, varietas unggul, PHT dll) dan teknologi pilihan (intermitten, bibit muda tunggal dll)..
Kalau di kentang? Hehe.. Harus diakui deh, di Indonesia, kajian teknologi sayuran masih terbatas. PTT kentang gimana? Ada, tetapi kajiannya tidak semendalam padi..

Kembali ke TSL..
Produksi kentang di berbagai lokasi berbeda. Kalau melihat data, produktivitas tertinggi masih di Jabar. Bahkan, meskipun luas tanam kentang di Jateng lebih luas dari Jabar, tapi produktivitasnya lebih tinggi Jabar. Bisa karena sumber benih utama berada di Jabar, bisa juga karena SDM petani, stakeholder, dan instansi terkait di Jabar lebih berpengalaman. Tapi bukan berarti Jabar tidak bisa dikalahkan lho.. Artinya, jadi ancaman bagi Jabar, tetapi juga menjadi peluang bagi non Jabar..
 

Kalau bicara soal lokasi. Mungkin awalnya, bercerita tentang kebutuhan lingkungan tanaman kentang. Salahkaprah yang perlu diluruskan, bukan berapa meter diatas permukaan laut tanaman kentang optimal ditanam, tetapi berapa suhu yang diperlukan agar kentang berumbi. Yup, bagi daerah yang padat penduduk, meskipun sudah berada diatas 1000 mdpl, tetapi mungkin sudah panas. Bukan berarti yang sangat dingin akan berumbi paling banyak. Bahaya frost juga akan mengancam...

Tanah? Hehe.. Kesuburan tanah bisa dimodifikasi dengan pemberian pupuk, entah organik maupun buatan. Struktur tanah yang gembur bisa dimodifikasi dengan pemberian pupuk organik, tapi terkadang bahan induk tanah utama, agak sulit. Eh, bukan sulit ding, tapi mahal. Kombinasi tanah dan iklim yang mempengaruhi bahan induk tanah bisa jadi menyebabkan rasa kentang Dieng berbeda dengan kentang Pangalengan maupun Malang, meskipun sama satu varietas. 


Kombinasi tanah dan iklim ini tidak saja berpengaruh terhadap produksi umbi, tetapi juga serangan hama dan penyakit serta gangguan alam seperti angin yang kenceng.. Jangan salah lho, angin tidak saja bisa merubuhkan tanaman, tetapi yang bahaya adalah menyebarkan spora-spora penyakit, seperti busuk daun dll..

Perlu juga dipahami, budidaya tanaman sangat dipengaruhi oleh musim. Saat musim hujan, artinya lebih lembab dan banyak penyakit dan saat musim kemarau, lebih banyak hama dan harus sering nyiram. Konsekuensi logis ini akan mempengaruhi cara budidaya seperti ukuran dan umur benih, jarak tanam, pupuk, PHT dll..

Jangan salah pula, kemampuan SDM petani mempengaruhi suksesnya bertani. Bagi konsumen saya, saya selalu sedikit cerewet bertanya pengalaman dalam bertani kentang. Kebiasaan dia bertani. Bagi yang ngaku pemula, saya agak leluasa memberikan advise, but kalau udah advance, hehe.. ga berani kalau ga nanya.. Kecuali memang ada treatment khusus dari benih2 saya.. Oleh karena itu, panduan bertani kentang dari saya selalu saya kasih tanda nama konsumen, karena masing2 berbeda dan selalu saya update sesuai kemajuan teknologi yang saya peroleh berdasarkan penelitian saya..
Akibatnya, kadang konsultasi bisa berjam2n, tapi saya juga happy kok... Apa sih yang engga buat konsumen saya...