Sudah seminggu ini ada mahasiswa S1 magang di perbenihan kentang saya..
Sebenarnya, beberapa teman, pembaca bloger saya tertarik magang di tempat saya.
Memang sih, saya suka ngajar, menyuluh dan sejenisnya, entah kepada petani, penyuluh ato pun mahasiswa ato murid sekolahan.. Tetapi, bukannya tidak mau berbagi ilmu, tapi saya emang belum berniat menjadikan tempat perbenihan kentang saya menjadi tempat pelatihan, magang atau sejenisnya. Apalagi pelatihan yang bersifat komersial..
Kenapa? karena usaha perbenihan kentang saya lebih berorientasi komersial. Masih agak repot bagi saya, membagi perhatian ke arah edukasi. Tentu untuk menjadi tempat pelatihan komersial yang layak, diperlukan persiapan yang baik. Saya tidak mau, sepulang dari pelatihan, peserta tidak puas mendapat tambahan ilmu.. Ini saya katakan karena saya sering melihat banyaknya pelatihan2 pertanian komersial (yang notabene harganya mahal2), tapi ternyata....
Saya inget perumpamaan teman saya, klu belajar menerbangkan pesawat kepada pilot, jangan kepada mekanik pesawat..
Tau kan maksud saya?
Kok, akhirnya mau juga saya menerima mahasiswa magang?
Sebenarnya, ini berawal karena teman kuliah S3 saya yang sudah lulus maksa saya untuk menerima mahasiswanya untuk magang. Hubungan pertemanan yang baik saja. Ok lah.. Toh, sebagai peneliti, saya mendapat nilai kredit fungsional bila dapat membimbing mahasiswa.. Simbiosis mutualisme deh..
Makanya, khusus untuk mahasiswa, saya menerima magang, tetapi tidak atau tepatnya belum dibuka untuk umum..
Awalnya, saya agak kuatir magang di tempat saya terlalu berat..
Secara garis besar, materi yang harus dikuasai setelah dari magang adalah :
1. Kentang
- Biologi, morfologi, anatomi tanaman kentang
- Siklus hidup tanaman kentang
- Faktor yang mempengaruhi setiap siklus hidup tanaman
2. Sistem perbenihan kentang
- Kondisi perbenihan kentang
- Aturan perbenihan kentang
3. Aeroponik perbenihan kentang
- Sarana dan prasarana
- budidaya
Bentuk materi magang : kuliah, praktek, observasi, wawancara, studi literatur, pre dan post test..
Seperti kepada pegawai saya, saya sering ngasih tebakan kenapa begini begitu kepada peserta magang. Kenapa klu transplanting, bibit harus dipotong daunnya dan disisakan 3-4 daun saja. Tentu saya pancing2 nalarnya biar mereka ingat..
Juga, biar lebih seru. Saya buatkan sedikit penelitian kecil. Misalnya, saya minta mereka membandingkan pertumbuhan tanaman dari planlet, tunas, atau umbi..
Selain praktek sendiri budidayanya, saya perkenalkan juga hama penyakitnya
Karena saya juga produsen benih kentang G1 dan G2, selain di aeroponik produksi G0, juga saya ajak praktek di G1 dan G2.. Anggap aja bonus.. hehe
Di sela cerita pertanian, sering saya selipkan jiwa entreprenuership.
Ya, terkadang saya agak nyesel, kenapa jiwa agribisnis enreprenuership saya tidak tergali saat kuliah dulu. Kayaknya kebanyakan main deh.. Hehe, makanya saya harap dia dan anak2 muda sekarang, sebaiknya tidak hanya berfikir mencari kerja, tetapi harus bisa membuka lapangan pekerjaan..
Hasilnya?
Pertama, dia kena flu.. Maklum, cuaca lagi ga enak banget.. Padahal akhir2 ini, saya lagi sibuk tanam G0 dan G1. Kecapekan deh kayaknya. Abis, saat ini saya punya 2 screen aeroponik, 3 screen G1, dan 1 lahan G2 yang semuanya terbagi di 2 lokasi. Eh iya, ada juga gudang simpan di rumah saya.. Sempet kuatir juga. Saya suruh istirahat aja. Ga usah masuk dulu..
Ealah, besoknya, tetap masuk..
Boleh juga tuh anak..
Kedua, dia minta ijin ngajak teman2 kuliahnya yang sedang magang di suatu balai penelitian komoditas main ke kentang saya. Alasannya?
Abis, katanya, di balai tersebut malah ga diajarin apa2. Berangkat jam 9 sampe 12. Jarang ke lapangan, malah disuruh bikin surat. Lho? Bingung mo ngapain, kayak anak ayam kehilangan induk
Hehe..
Dia dengan serunya menceritakan pengalamannya nanem kentang ke teman2nya. Katanya, baru tau kalau benih kentang itu ada generasi2nya..
Alhamdulillah deh.. Mudah2n bermanfaat..
Topik Judul
- aeroponik kentang (56)
- catatan harian (102)
- kesehatan (13)
- motivasi (21)
- opini (44)
- Organik (11)
- penelitian (28)
- pertanian (34)
- travelling (21)
- Wirausaha (16)
Cari Blog Ini
Jual benih kentang bersertifikat G0 aeroponik dan turunannya (G1, G2)
Lebih sehat, produksi dan kualitas lebih tinggi.. Minat??
Pemesanan Benih Kentang :
Hubungi http://jayamandirifarm.blogspot.com/
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065
email : vansekar@yahoo.co.id
atau phone/whatsApp/Line/WeChat/Viber
+62 812 1919 2065
0812 1919 2065
email : vansekar@yahoo.co.id
LAYANAN KONSUMEN JM FARM :
Free/Gratis Khusus Konsumen :
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
- Panduan budidaya perbenihan kentang
- Konsultasi teknologi perbenihan kentang,
Diskon Khusus Konsumen : Pembelian diatas jumlah minimum
Minggu, 29 Januari 2012
Kamis, 26 Januari 2012
Pembajakan Foto
Saya yakin, kebanyakan orang hafal dengan foto hasil bidikannya. Hafal lokasi foto, kapan foto dibuat, dan mungkin ada catatan kecil mengenainya.. Including me.. Yup, Insya Alllah saya hafal semua foto bidikan saya..
Dua foto saya dibajak orang..
Pertama, saat saya masih kerja.. Waktu itu sengaja saya membuat foto suatu teknologi, yup teknologi pemupukan Bagan Warna Daun (BWD) pada padi di Kabupaten Karawang. Tentu saya minta tolong petani saya untuk memeragakan bagaimana menggunakan BWD dan saya foto. Petani saya pake topi, kaos putih dan cepret... jadilah foto tersebut saya gunakan di berbagai power point bila saya presentasi, juga di beberapa laporan kegiatan penelitian saya..
Hingga suatu saat, saya tertegun melihat laporan kegiatan penelitian tim teman saya, yang menggunakan foto teknologi BWD tersebut.. Ga masalah sih bila foto saya dipakai. Tapi tak bisakah minta ijin dulu ke saya sebagai pemegang lisensi foto tersebut. Mending kalau teman tersebut tidak tahu kalau itu foto buatan saya,, la wong tau kok...
Atas nama kantor kah hingga sewenang2 main pakai foto teman sekantor?
Oke, bolehlah. Memang foto tersebut saya buat dengan kamera kantor saya, sehingga mungkin dianggap foto menjadi hak milik kantor.. Tapi yang mengherankan saya. Kok lucu, dia melaporkan kegiatan penelitiannya di Kabupaten Kuningan, tapi kok pake foto yang asal lokasinya Karawang? Nuraninya kemana tuh..
Berhubung kalah senior, saya ga bisa protes..
Namun sejak itu, saya hati2 share foto..
Kedua, baru saja terjadi..
Saya lihat profile picture teman saya di facebook.. Dia menampilkan foto teknologi legowo pada padi. Lagi2 saya ingat. Foto tersebut diambil di lokasi penelitian saya di Karawang. Sangat yakin karena sawah lokasi foto terdapat dua kelapa, yang menambah indah pemandangan. Mantan bos saya langsung mengkomentari foto tersebut dengan tidak yakin apakah benar itu di Karawang. Tentu, saya ikut2n komentar, klu foto itu benar di Karawang...
Saya belum tau komentar si empunya profile picture..
Cuman, agak surprise dengan keberanian bapak2 teman saya ini. Foto teknologi legowo itu benar2 sudah mendunia sebagai kegiatan penelitian di karawang. Kok berani2nya ngakuin klu itu fotonya..
Hmhm.. senior yang jangan ditiru
Dua foto saya dibajak orang..
Pertama, saat saya masih kerja.. Waktu itu sengaja saya membuat foto suatu teknologi, yup teknologi pemupukan Bagan Warna Daun (BWD) pada padi di Kabupaten Karawang. Tentu saya minta tolong petani saya untuk memeragakan bagaimana menggunakan BWD dan saya foto. Petani saya pake topi, kaos putih dan cepret... jadilah foto tersebut saya gunakan di berbagai power point bila saya presentasi, juga di beberapa laporan kegiatan penelitian saya..
Hingga suatu saat, saya tertegun melihat laporan kegiatan penelitian tim teman saya, yang menggunakan foto teknologi BWD tersebut.. Ga masalah sih bila foto saya dipakai. Tapi tak bisakah minta ijin dulu ke saya sebagai pemegang lisensi foto tersebut. Mending kalau teman tersebut tidak tahu kalau itu foto buatan saya,, la wong tau kok...
Atas nama kantor kah hingga sewenang2 main pakai foto teman sekantor?
Oke, bolehlah. Memang foto tersebut saya buat dengan kamera kantor saya, sehingga mungkin dianggap foto menjadi hak milik kantor.. Tapi yang mengherankan saya. Kok lucu, dia melaporkan kegiatan penelitiannya di Kabupaten Kuningan, tapi kok pake foto yang asal lokasinya Karawang? Nuraninya kemana tuh..
Berhubung kalah senior, saya ga bisa protes..
Namun sejak itu, saya hati2 share foto..
Kedua, baru saja terjadi..
Saya lihat profile picture teman saya di facebook.. Dia menampilkan foto teknologi legowo pada padi. Lagi2 saya ingat. Foto tersebut diambil di lokasi penelitian saya di Karawang. Sangat yakin karena sawah lokasi foto terdapat dua kelapa, yang menambah indah pemandangan. Mantan bos saya langsung mengkomentari foto tersebut dengan tidak yakin apakah benar itu di Karawang. Tentu, saya ikut2n komentar, klu foto itu benar di Karawang...
Saya belum tau komentar si empunya profile picture..
Cuman, agak surprise dengan keberanian bapak2 teman saya ini. Foto teknologi legowo itu benar2 sudah mendunia sebagai kegiatan penelitian di karawang. Kok berani2nya ngakuin klu itu fotonya..
Hmhm.. senior yang jangan ditiru
Minggu, 15 Januari 2012
ABG tertarik pertanian?
Liburan tahun baru lalu, sodara dari hubby beserta rombongannya menginap di rumah.. Selain anaknya, ikut juga teman dari anak2nya. Wuih, penuh deh rumah saya..
Ada yang sedikit menarik dari kunjungan sodara saya itu..
Nisa anak sodara saya itu membawa temannya bernama Ririn..
Ririn begitu senangnya membaca buku2 pertanian saya..
Ya.. koleksi buku saya sekitar tiga rak lemari buku.. Ada tentang motivasi, agama, novel, dan tentu yang mendominasi adalah buku pertanian saya. Dari yang ringan2 terbitan Penebar Swadaya, Kanisius, Gramedia.. hingga foto kopian text book buku2 mahal in English (hehe, bajakan nih ye)..
Dan Ririn baca2 buku pertanian saya..
Bagi saya, cukup aneh..
Jaman sekarang, sedikit anak muda yang tertarik dengan pertanian..
Apalagi abg, anak SMP kayak Ririn..
Nisa sendiri, sebagai keponakan saya sendiri, terus terang ama saya
"Tante, sebenarnya Nisa pengen jadi sarjana kehutanan, tapi ga boleh ama mama. Kata mama, hutannya dah abis",, Hehe...
Bagi sebagian orang, pertanian mungkin kurang menarik untuk ditekuni, tidak menjadikan pekerjaan yang menjanjikan..
Padahal, menurut saya, selain karena kita negara yang kaya pertaniannya, justru sangat mudah membuka lapangan pekerjaan lewat pertanian.. la wong, di Indonesia segini suburnya kok..
Ada yang sedikit menarik dari kunjungan sodara saya itu..
Nisa anak sodara saya itu membawa temannya bernama Ririn..
Ririn begitu senangnya membaca buku2 pertanian saya..
Ya.. koleksi buku saya sekitar tiga rak lemari buku.. Ada tentang motivasi, agama, novel, dan tentu yang mendominasi adalah buku pertanian saya. Dari yang ringan2 terbitan Penebar Swadaya, Kanisius, Gramedia.. hingga foto kopian text book buku2 mahal in English (hehe, bajakan nih ye)..
Dan Ririn baca2 buku pertanian saya..
Bagi saya, cukup aneh..
Jaman sekarang, sedikit anak muda yang tertarik dengan pertanian..
Apalagi abg, anak SMP kayak Ririn..
Nisa sendiri, sebagai keponakan saya sendiri, terus terang ama saya
"Tante, sebenarnya Nisa pengen jadi sarjana kehutanan, tapi ga boleh ama mama. Kata mama, hutannya dah abis",, Hehe...
Bagi sebagian orang, pertanian mungkin kurang menarik untuk ditekuni, tidak menjadikan pekerjaan yang menjanjikan..
Padahal, menurut saya, selain karena kita negara yang kaya pertaniannya, justru sangat mudah membuka lapangan pekerjaan lewat pertanian.. la wong, di Indonesia segini suburnya kok..
Conflict Interest
Alhamdullillah, saya bisa melewati sedikit ujian profesionalisme..
Hehe..
Ada kesepakatan dengan hubby bahwa saya tidak akan melibatkan diri dalam urusan perbisnisan benih kentang saya. Maksudnya, untuk menghindari conflict interest atas status saya PNS yang notabene kenal dengan petugas birokrasi, saya ga akan ikut2n ngurusin bisnisnya. Cukup keilmuan saya saja yang diperlukan..
Cukup menggoda juga sih untuk ikut2an bisnisnya.. Artinya, saat ini saya lolos, mudah2n untuk ujian2 selanjutnya bakal lolos terus
Saya mencoba meneladani tokoh baru saya (mungkin juga kita), Dahlan Iskan (Pak Dis)..
Mantan Ka PLN atau sekarang menjadi menteri BUMN..
Jujur, saya mengikuti blog beliau lho..
Sekedar mencoba mengenal dan meneladani beliau aja..
Awalnya, ada yang mengusik perbedaan Pak Dis dengan Pak JK, mantan wapres kita.
Beberapa orang mengatakan persamaan mereka berdua terutama spontanitasnya, gerak cepatnya, dan sama2 sukses usahanya. Tapi entah kenapa, saya lebih menyukai Pak Dis karena beliau dapat mengatasi conflict interest-nya. Meskipun usaha beliau banyak, ga pernah terdengar (minimal oleh saya), ada conflict interest perusahaan2nya..
Yup, banyak terdengar di negara ini.. Pejabat2 menggunakan perusahaannya dalam proyek2 pemerintah..
Saya akui, tawaran tersebut cukup menggiurkan.. Apalagi dengan jabatan yang kita punya..
Tapi Insya ALlah, sepertinya ga berkah deh..
Saya pernah dulu sedikit tergoda dengan yang namanya conflict interest tersebut..
Kapok
Selain ga berkah, juga diomongin orang. Mending merdeka sendiri deh..
Ga usah nebeng2 proyek pemerintah..
Hehe..
Ada kesepakatan dengan hubby bahwa saya tidak akan melibatkan diri dalam urusan perbisnisan benih kentang saya. Maksudnya, untuk menghindari conflict interest atas status saya PNS yang notabene kenal dengan petugas birokrasi, saya ga akan ikut2n ngurusin bisnisnya. Cukup keilmuan saya saja yang diperlukan..
Cukup menggoda juga sih untuk ikut2an bisnisnya.. Artinya, saat ini saya lolos, mudah2n untuk ujian2 selanjutnya bakal lolos terus
Saya mencoba meneladani tokoh baru saya (mungkin juga kita), Dahlan Iskan (Pak Dis)..
Mantan Ka PLN atau sekarang menjadi menteri BUMN..
Jujur, saya mengikuti blog beliau lho..
Sekedar mencoba mengenal dan meneladani beliau aja..
Awalnya, ada yang mengusik perbedaan Pak Dis dengan Pak JK, mantan wapres kita.
Beberapa orang mengatakan persamaan mereka berdua terutama spontanitasnya, gerak cepatnya, dan sama2 sukses usahanya. Tapi entah kenapa, saya lebih menyukai Pak Dis karena beliau dapat mengatasi conflict interest-nya. Meskipun usaha beliau banyak, ga pernah terdengar (minimal oleh saya), ada conflict interest perusahaan2nya..
Yup, banyak terdengar di negara ini.. Pejabat2 menggunakan perusahaannya dalam proyek2 pemerintah..
Saya akui, tawaran tersebut cukup menggiurkan.. Apalagi dengan jabatan yang kita punya..
Tapi Insya ALlah, sepertinya ga berkah deh..
Saya pernah dulu sedikit tergoda dengan yang namanya conflict interest tersebut..
Kapok
Selain ga berkah, juga diomongin orang. Mending merdeka sendiri deh..
Ga usah nebeng2 proyek pemerintah..
Minggu, 25 Desember 2011
Dari Padi Hibrida dan Kerjasama Perbenihan
Sebenarnya diskusi saya dan teman saya ini sudah terjadi minggu lalu, tapi kok sedikit kepikiran ya..
Ada dua hal..
Pertama..
Bagi saya, perusahaan tempat teman saya bekerja, produsen benih padi hibrida cukup berani berinvestasi. Yup, hanya mengandalkan pembelian dari BUMN benih padi untuk subsidi benih.
Sudah menjadi rahasia umum, padi hibrida membutuhkan biaya sangat tinggi, entah benihnya, pupuk, pemeliharaan, pestisidanya.. Jadi, tentu hanya berhasil bagi petani kaya saja, padahal ada berapa sih petani kaya di Indo? Hasil panen petaninya meningkat menjadi 60 juta dari 20 juta, namun saat saya tanya berapa biaya produksinya, dia tidak tau.. Kalau benar2 menguntungkan, tentu akan banyak muncul perusahaan penghasil beras hibrida.. Nyata nya kagak too..
Jadi, sangat jarang petani rela menanam benih hibrida, bila harus beli benih sendiri.
So, pembeli benih hibrida kebanyakan Pemerintah untuk subsidi benih.. bukan petani
Tentu, maksud Pemerintah memberikan benih hibrida gratis agar ditanam petani dan menghasilkan panen sesuai potensi hasil, diatas 10 t/ha.. Sekali lagi, jarang dong yang tercapai. Kalau pun tercapai, berapa orang, berapa luas, berapa biaya produksinya.. Bahkan selain boros pupuk, penanaman padi hibrida menyebabkan lahan menjadi miskin hara, terutama boron, begitu kata teman saya
Saya yakin Pemerintah tahu kondisi ini..
Pengen menaikkan produksi dengan hibrida, tapi banyak kendala..
Mungkin Pemerintah bingung, mo gimana lagi, habis pake terobosan apalagi donk.. untuk keamanan pangan..
Jadi deh, kebijakan subsidi benih hibrida terus berlanjut..
Biar kelihatan berpihak kepada petani memberikan benih gratis, padahal...
Tentu donk, perusahaan benih hibrida punya kepentingan sendiri agar kebijakan tersebut terus langgeng..
Jadi inget petani saya yang mendapat subsidi benih hibrida, benihnya malah dimasak jadi beras..
Kedua
Perusahaan benih tersebut hanya bermodal dana dan tenaga. Lahan dan alsintan milik BUMN benih padi. Kepikir kaya donk itu BUMN, ternyata?
Pikir sendiri deh..
Yang jelas, minimal, pegawai BUMN punya kerjaan, daripada nganggur..
Ngomong2 soal kerjasama ini..
Saya jadi teringat banyaknya rumah screen mahal yang nganggur di suatu balai benih kentang. Dari sekitar 10 rumah screen, hanya 2 yang beroperasi. Padahal, itu bangunan lumayan canggih daripada punya saya..
Sterilisasi dengan panas mudah karena punya alat sendiri..
Saya bersusah payah membangun rumah screen, ealah, balai itu malah menyianyiakan rumah screennya..
Katanya sih, dana dari pemerintah hanya bisa untuk 2 screen..
Hmhmm, padahal menurut saya, hasil panen 2 screen tersebut, secara bertahap bisa untuk membiayai screen lainnya, kecuali....... yup, keuntungan hasil panen diambil duluan.. hehe
Bicara soal kerjasama, sama halnya yang terjadi dengan produksi benih padi hibrida
seharusnya, balai benih kentang bisa mengajak pihak lain untuk mengisi screen yang lain.
Selain menguntungkan, menyediakan benih di tingkat petani, minimal bisa menjadi tambahan masukan bagi pegawai2nya..
Kecuali, ga rela berbagi bersama
Ada dua hal..
Pertama..
Bagi saya, perusahaan tempat teman saya bekerja, produsen benih padi hibrida cukup berani berinvestasi. Yup, hanya mengandalkan pembelian dari BUMN benih padi untuk subsidi benih.
Sudah menjadi rahasia umum, padi hibrida membutuhkan biaya sangat tinggi, entah benihnya, pupuk, pemeliharaan, pestisidanya.. Jadi, tentu hanya berhasil bagi petani kaya saja, padahal ada berapa sih petani kaya di Indo? Hasil panen petaninya meningkat menjadi 60 juta dari 20 juta, namun saat saya tanya berapa biaya produksinya, dia tidak tau.. Kalau benar2 menguntungkan, tentu akan banyak muncul perusahaan penghasil beras hibrida.. Nyata nya kagak too..
Jadi, sangat jarang petani rela menanam benih hibrida, bila harus beli benih sendiri.
So, pembeli benih hibrida kebanyakan Pemerintah untuk subsidi benih.. bukan petani
Tentu, maksud Pemerintah memberikan benih hibrida gratis agar ditanam petani dan menghasilkan panen sesuai potensi hasil, diatas 10 t/ha.. Sekali lagi, jarang dong yang tercapai. Kalau pun tercapai, berapa orang, berapa luas, berapa biaya produksinya.. Bahkan selain boros pupuk, penanaman padi hibrida menyebabkan lahan menjadi miskin hara, terutama boron, begitu kata teman saya
Saya yakin Pemerintah tahu kondisi ini..
Pengen menaikkan produksi dengan hibrida, tapi banyak kendala..
Mungkin Pemerintah bingung, mo gimana lagi, habis pake terobosan apalagi donk.. untuk keamanan pangan..
Jadi deh, kebijakan subsidi benih hibrida terus berlanjut..
Biar kelihatan berpihak kepada petani memberikan benih gratis, padahal...
Tentu donk, perusahaan benih hibrida punya kepentingan sendiri agar kebijakan tersebut terus langgeng..
Jadi inget petani saya yang mendapat subsidi benih hibrida, benihnya malah dimasak jadi beras..
Kedua
Perusahaan benih tersebut hanya bermodal dana dan tenaga. Lahan dan alsintan milik BUMN benih padi. Kepikir kaya donk itu BUMN, ternyata?
Pikir sendiri deh..
Yang jelas, minimal, pegawai BUMN punya kerjaan, daripada nganggur..
Ngomong2 soal kerjasama ini..
Saya jadi teringat banyaknya rumah screen mahal yang nganggur di suatu balai benih kentang. Dari sekitar 10 rumah screen, hanya 2 yang beroperasi. Padahal, itu bangunan lumayan canggih daripada punya saya..
Sterilisasi dengan panas mudah karena punya alat sendiri..
Saya bersusah payah membangun rumah screen, ealah, balai itu malah menyianyiakan rumah screennya..
Katanya sih, dana dari pemerintah hanya bisa untuk 2 screen..
Hmhmm, padahal menurut saya, hasil panen 2 screen tersebut, secara bertahap bisa untuk membiayai screen lainnya, kecuali....... yup, keuntungan hasil panen diambil duluan.. hehe
Bicara soal kerjasama, sama halnya yang terjadi dengan produksi benih padi hibrida
seharusnya, balai benih kentang bisa mengajak pihak lain untuk mengisi screen yang lain.
Selain menguntungkan, menyediakan benih di tingkat petani, minimal bisa menjadi tambahan masukan bagi pegawai2nya..
Kecuali, ga rela berbagi bersama
Rabu, 21 Desember 2011
Satu Benih Umbi G0 Hasil Aeroponik bisa jadi 40 umbi G1?
Wuiii.. Kok bisa ya..
Beberapa hari lalu, petani koperatif saya laporan ke hubby saya. Katanya, satu benih umbi mini G0 hasil aeroponik saya bisa menghasilkan 40 benih G1..
Antara seneng, heran, dan ngiri..
Seneng, karena benih saya emang bagus dan berkualitas..
Heran, kok bisa ya.. Sepertinya data ini hanya data maksimum deh, bukan rata2 semua populasi 40.. (Wah, kalau bener 40, bisa kaya mendadak nih petani saya..)..
Kemungkinan menghasilkan 40 umbi emang ada. Karena setiap umbi bisa menghasilkan lebih dari 10 mata tunas. Bahkan petani saya juga nanem tunasnya (tidak hanya umbinya), karena saking banyaknya tunas..
Ngiri, yup ngiri.. abis saya nanem sendiri belum bisa menghasilkan 40 umbi tuh.. Malu.com
Saya akui, petani koperatif saya di Pangalengan emang hebat..
Mereka lulusan program PHT, baik di bawah bimbingan FAO, CIP, Balai Penelitian, dan Dinas. Saya sempat membinanya tahun 2000-2001 yang lalu, kerjasama dengan BPTPH setahun dan DFID Inggris setahun..
Malu juga mengakui, saya mungkin emang bisa di teori, sedangkan mereka sudah puluhan tahun praktek...
Memang, orang2 macem saya, yang cuman bisa teori, terkadang terkendala saat praktek. Learning by doing-nya masih kurang. Tapi, Insya Allah deh, hasil saya juga akan terus meningkat.. Setiap musim selalu saya koreksi kekurangannya untuk kemudian diperbaiki. Dan tentu, pengen maen lagi ke Pangalengan, diskusi2 lagi praktek di lapang..
Bicara soal teori.. pernah ada diskusi begini dengan petani Pangalengan..
Allah SWT memang Maha Adil..
Petani agak sulit bergerak di bagian hulu, karena butuh ilmu dan pengetahuan.. Misalnya, sulit bermain dengan planlet, kuljar, steril, karena emang kebiasaan petani yang sedikit jorok dan tidak telaten..
Sementara, para teoritis, sulit bergerak di hilir, produksi di lapang. Selain capek, harus diakui petani emang udah jagonya di lapang. Mengantisipasi kesulitan2 di lapang adalah hal yang biasa.. Kekeringan, serangan hama penyakit.. Mereka punya indigenous technology, begitulah bahasa kerennya
Maka dari itulah, lahir kesepakatan kami. Produksi G2 yang diluar rumah screen, saya pasrahkan ke petani saja.. hehe.. Insya Allah, sama2 untung.. Mereka dapat benih sumber dan saya terbantukan, ada yang ngurusin tanaman G2 saya..
Hasilnya?
Teman2 petani saya pesan lebih banyak lagi kuantitasnya..
Bukannya ga mau kasih banyak, masalahnya screen G1 saya juga nambah nih.. Yang artinya, saya juga butuh benih G1 lebih banyak lagi.. Ealah, dijawab begini ama petani saya
Apa ada tekanan pihak lain atau harga perlu disesuaikan bu..
Hehe.. Serem juga pertanyaannya..
Bisa dimengerti sih klu dia kuatir ga dapat benih dari saya..
Tapi soal tekanan pihak lain.. saya mah orang bebas, tidak ada yang bisa menekan saya..
Soal harga? hehe.. boleh lah naik dikit.. Alhamdullillah..
Dan demi hubungan baik, okelah kalau begitu.. deal..
Bismillah..
Beberapa hari lalu, petani koperatif saya laporan ke hubby saya. Katanya, satu benih umbi mini G0 hasil aeroponik saya bisa menghasilkan 40 benih G1..
Antara seneng, heran, dan ngiri..
Seneng, karena benih saya emang bagus dan berkualitas..
Heran, kok bisa ya.. Sepertinya data ini hanya data maksimum deh, bukan rata2 semua populasi 40.. (Wah, kalau bener 40, bisa kaya mendadak nih petani saya..)..
Kemungkinan menghasilkan 40 umbi emang ada. Karena setiap umbi bisa menghasilkan lebih dari 10 mata tunas. Bahkan petani saya juga nanem tunasnya (tidak hanya umbinya), karena saking banyaknya tunas..
Ngiri, yup ngiri.. abis saya nanem sendiri belum bisa menghasilkan 40 umbi tuh.. Malu.com
Saya akui, petani koperatif saya di Pangalengan emang hebat..
Mereka lulusan program PHT, baik di bawah bimbingan FAO, CIP, Balai Penelitian, dan Dinas. Saya sempat membinanya tahun 2000-2001 yang lalu, kerjasama dengan BPTPH setahun dan DFID Inggris setahun..
Malu juga mengakui, saya mungkin emang bisa di teori, sedangkan mereka sudah puluhan tahun praktek...
Memang, orang2 macem saya, yang cuman bisa teori, terkadang terkendala saat praktek. Learning by doing-nya masih kurang. Tapi, Insya Allah deh, hasil saya juga akan terus meningkat.. Setiap musim selalu saya koreksi kekurangannya untuk kemudian diperbaiki. Dan tentu, pengen maen lagi ke Pangalengan, diskusi2 lagi praktek di lapang..
Bicara soal teori.. pernah ada diskusi begini dengan petani Pangalengan..
Allah SWT memang Maha Adil..
Petani agak sulit bergerak di bagian hulu, karena butuh ilmu dan pengetahuan.. Misalnya, sulit bermain dengan planlet, kuljar, steril, karena emang kebiasaan petani yang sedikit jorok dan tidak telaten..
Sementara, para teoritis, sulit bergerak di hilir, produksi di lapang. Selain capek, harus diakui petani emang udah jagonya di lapang. Mengantisipasi kesulitan2 di lapang adalah hal yang biasa.. Kekeringan, serangan hama penyakit.. Mereka punya indigenous technology, begitulah bahasa kerennya
Maka dari itulah, lahir kesepakatan kami. Produksi G2 yang diluar rumah screen, saya pasrahkan ke petani saja.. hehe.. Insya Allah, sama2 untung.. Mereka dapat benih sumber dan saya terbantukan, ada yang ngurusin tanaman G2 saya..
Hasilnya?
Teman2 petani saya pesan lebih banyak lagi kuantitasnya..
Bukannya ga mau kasih banyak, masalahnya screen G1 saya juga nambah nih.. Yang artinya, saya juga butuh benih G1 lebih banyak lagi.. Ealah, dijawab begini ama petani saya
Apa ada tekanan pihak lain atau harga perlu disesuaikan bu..
Hehe.. Serem juga pertanyaannya..
Bisa dimengerti sih klu dia kuatir ga dapat benih dari saya..
Tapi soal tekanan pihak lain.. saya mah orang bebas, tidak ada yang bisa menekan saya..
Soal harga? hehe.. boleh lah naik dikit.. Alhamdullillah..
Dan demi hubungan baik, okelah kalau begitu.. deal..
Bismillah..
Senin, 19 Desember 2011
Reuni dengan Mantan Bos dan Pelajarannya
Kemarin, bisa dibilang saya reunian dengan teman2 petani dan petugas dalam proyek kegiatan pengembangan desa. Sebenarnya, dalam rangka kondangan sih..
Banyak yang berubah dari desa tersebut, tapi yang menarik bagi saya adalah mantan bos saya..
Yup..mantan bos..
Disebut mantan, bukan saja karena saat ini saya berstatus mahasiswa, sehingga tidak punya bos lagi, tetapi juga karena beliau sudah pensiun..
Di ujung masa pensiunnya, saya ingat beliau yang kuatir.. Selain karena mempunyai anak spesial, juga karena beliau belum punya rumah pribadi. Maklum, karena tinggal di rumah dinas, jadi kelupaan kali untuk bikin rumah.. Ga tauk deh..
Setelah beliau pensiun, Alhamdullilah, saya menggantikan jabatannya..
Dan jarang berhubungan lagi..
Namun bila ada teman yang perlu masukan berhubungan keahlian beliau, selalu saya rekomendasikan untuk menghubunginya..
Hingga datangnya waktu kondangan kemarin, kami berangkat bersama..
Mobil pribadinya baru.. Mobil kantornya juga mahal..
Hmhm.. Rupanya, bekerja di swasta setelah pensiun memberikan materi yang lebih..
Yup, meski hanya lulusan S1, tapi pengalaman beliau hebat di bidangnya..
Selain itu, beliau adalah orang lurus2 saja, berbuat yang terbaik..
Alhamdullilah, berbuah manis..
Dari sisi pekerjaan.. Hebat juga cerita beliau ini..
Beliau bekerja dari sejak perusahaannya hanya punya 1 ha, 12 ha, dan kemudian sekarang ratusan ha produksi benih hibrida.. Dia dipercaya menjadi manajer produksi..
Saat ini bahkan dia dibebaskan untuk berkreasi..
Asal menguntungkan, pasti akan dibiayai
Hehe.. beda jauh saat jadi PNS kali ye..
Yup, rejeki masa depan orang, tidak ada yang tahu..
Becandaan saya sih.. Wah, klu tahu bakal kaya begini, mending dari dulu kali pensiun dari PNS..
Hehe.. beliau hanya ketawaa
Yang bisa saya pelajari, adalah bagaimana beliau merintis usahanya..
Tentu berbeda dalam hal permodalannya..
Tapi semangat, disiplin, dan tekun perlu saya tiru..
Insya Allah
Banyak yang berubah dari desa tersebut, tapi yang menarik bagi saya adalah mantan bos saya..
Yup..mantan bos..
Disebut mantan, bukan saja karena saat ini saya berstatus mahasiswa, sehingga tidak punya bos lagi, tetapi juga karena beliau sudah pensiun..
Di ujung masa pensiunnya, saya ingat beliau yang kuatir.. Selain karena mempunyai anak spesial, juga karena beliau belum punya rumah pribadi. Maklum, karena tinggal di rumah dinas, jadi kelupaan kali untuk bikin rumah.. Ga tauk deh..
Setelah beliau pensiun, Alhamdullilah, saya menggantikan jabatannya..
Dan jarang berhubungan lagi..
Namun bila ada teman yang perlu masukan berhubungan keahlian beliau, selalu saya rekomendasikan untuk menghubunginya..
Hingga datangnya waktu kondangan kemarin, kami berangkat bersama..
Mobil pribadinya baru.. Mobil kantornya juga mahal..
Hmhm.. Rupanya, bekerja di swasta setelah pensiun memberikan materi yang lebih..
Yup, meski hanya lulusan S1, tapi pengalaman beliau hebat di bidangnya..
Selain itu, beliau adalah orang lurus2 saja, berbuat yang terbaik..
Alhamdullilah, berbuah manis..
Dari sisi pekerjaan.. Hebat juga cerita beliau ini..
Beliau bekerja dari sejak perusahaannya hanya punya 1 ha, 12 ha, dan kemudian sekarang ratusan ha produksi benih hibrida.. Dia dipercaya menjadi manajer produksi..
Saat ini bahkan dia dibebaskan untuk berkreasi..
Asal menguntungkan, pasti akan dibiayai
Hehe.. beda jauh saat jadi PNS kali ye..
Yup, rejeki masa depan orang, tidak ada yang tahu..
Becandaan saya sih.. Wah, klu tahu bakal kaya begini, mending dari dulu kali pensiun dari PNS..
Hehe.. beliau hanya ketawaa
Yang bisa saya pelajari, adalah bagaimana beliau merintis usahanya..
Tentu berbeda dalam hal permodalannya..
Tapi semangat, disiplin, dan tekun perlu saya tiru..
Insya Allah
Langganan:
Postingan (Atom)